Kesepakatan

1073 Kata
Febian tersenyum ke arah Ayunda. “Memang sudah saatnya aku kembali.” Ayunda tersenyum ketir. “Untuk apa?” tanya Ayunda. “Tentu saja untuk memberi pelajaran kepada suamimu.” Ayunda terlihat kecewa dengan jawaban Febian. “Bagaimana kamu tahu tentang proyek yang sedang aku jalankan?” Febian kembali tersenyum manis. Senyum itu hampir membuat Ayunda terbuai. “Asal kamu bilang ‘ya’ besok kamu akan tahu sendiri.” Ayunda tersenyum sinis. “Bilang ‘ya’?” Febian mengangguk. “Iya ....” “Kamu pikir aku bodoh? Menerima tawaran kamu begitu saja? Kamu sama liciknya seperti Axel.” Febian tersenyum. “Aku tidak sama seperti dia. Bukanya kamu ingin menghancurkan Axel?” Ayunda kembali terkejut, dia semakin penasaran dengan sosok Febian. “Kamu pasti tahu semua tentang Axel, termasuk selingkuhannya.” Febian menghela nafas, mengalihkan pendangannya dari Ayunda, pria tampan itu menatap lurus ke depan. “Awalnya aku tidak ingin ikut campur masalahnya. Dia terlalu serakah.” “Maksud kamu?” tanya Ayunda penasaran, entah kenapa ada perasaan aman saat dia di samping Febian. “Dia ingin menguasai semuanya, termasuk kamu dan mantan pacarnya.” “Maksud kamu ‘Lina’? Bukannya mereka sudah mantan?” Febian menggeleng. “Kamu salah. Lina masih pacar Axel ketika kalian menikah, selang beberapa hari setelah pernikahan kamu dan dia. Lina menuntut Axel untuk menikahinya secara diam-diam.” Wajah Ayunda memanas, betapa bodohnya dia selama ini. “Aku begitu bodoh, percaya kata-kata dan perlakuannya begitu saja. Bagaimana kamu tahu itu semua?” Ayunda kembali bertanya. “Aku hanya ingin memastikan kebahagiaan seseorang, setelah itu aku akan merasa lega.” Kali ini wajah Ayunda tersipu malu, entah kenapa dia langsung tahu. Siapa yang dimaksud oleh Febian. “Kenapa saat ini kamu baru muncul?” “Semua akan mengalir dengan sendirinya, Yunda ....” Ayunda tertawa, “Ha-ha ... rasanya hidupku memang lucu sekali. Aku percaya sepenuhnya dengan Axel karena aku pikir aku berhutang nyawa padanya, aku mencintainya tanpa syarat, bahkan jika dia miskin sekalipun, aku nggak peduli! Aku hanya ingin tetap di sampingnya.” Wajah Ayunda terlihat begitu sedih. “Kamu wanita hebat, Yunda. Kamu masih bisa menahan diri untuk tetap di sampingnya. Sekarang bagaimana keputusan kamu? Axel tidak selurus yang kamu kira, jika kamu tidak berhati-hati, dia akan menghancurkan keluarga kamu tanpa sisa.” Ayunda mengepalkan tangannya, dia sudah bertekad bulat untuk menghancurkan Axel. “Baiklah, aku akan menerima tawaran kamu,” ucap Ayunda yakin. Febian tersenyum puas. “Terima kasih.” Hanya itu yang Febian ucapkan, untuk selanjutnya dia kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Ayunda pulang ke rumah Meli. Ayunda hanya bisa menahan rasa kesalnya, Febian masih penuh misteri, hatinya masih ragu, dia tidak tahu apa maksud Febian sebenarnya, dia hanya tahu jika tujuan mereka saat ini sama. *** Keesokan harinya, Ayunda yang tidak bisa tidur semalam sudah bersiap untuk pergi ke kantor, Meli yang sudah bersiap berjalan mendekatinya. Semalam karena Ayunda belum mau bicara, ditambah lagi karena dia juga terlalu capek, gadis itu memutuskan untuk bertanya dengan sahabatnya di pagi hari. “Ini!” Meli menyodorkan secangkir kopi untuk sahabatnya. “Terima kasih,” ucap Ayunda, menerima cangkir dari Meli. Meli duduk di sebuah kursi, diikuti oleh Ayunda. “Ada apa? Axel berulah lagi?” tanya Meli penasaran. Ayunda mengangguk. “Lina ikut datang juga.” Mata Meli melotot, wanita cantik itu terlihat sangat emosi. “Apa! Keterlaluan sekali!” Ayunda mengangguk. “Bukan cuman itu saja. Selama ini aku salah orang, ternyata keluarga Kusuma punya dua orang putra yang selama ini menetap di luar negeri.” “Kok, bisa! Jadi selama ini Axel sudah berbohong sama kamu?” Ayunda kembali mengangguk. “Iya! Dulu saat aku tanya. Apakah dia yang menolongku saat itu, dia bilang ‘ya’. Ternyata bukan dia, itu Febian, kakak tirinya.” “Keterlaluan sekali, itu pria!” Meli menatap sahabatnya. “Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Meli tiba-tiba. Ayunda menyunggingkan senyumnya. “Aku akan menghancurkan dia.” Meli tersenyum. “Baguslah, aku sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba.” “Aku juga menunggu hari itu,” ucap Ayunda. Perempuan itu menyeruput kopinya, membalas tatapan Meli. “Ayo kita berangkat, jangan sampai keduluan dengan Axel.” Meli tersenyum, ikut menyeruput kopi. Dengan penuh semangat dia berkata, “Siap, Bos!” Mereka meletakan cangkirnya masing-masing, mereka pun berdiri, bersiap untuk pergi ke gedung PT Angkasa. *** Tidak butuh waktu lama, mobil yang Meli lajukan sudah berhenti di depan gedung megah milik PT Angkasa, keduanya terlihat turun dari mobil. Ayunda monoleh ke arah Meli. “Sudah siap?” Meli mengangguk, mengangkat satu tangannya dengan posisi mengepal, dengan semangat wanita cantik itu berkata, “Siap! Ayo kita buat si kunyuk tidak berdaya!” Ayunda tersenyum, dia berjalan ke arah sahabatnya, kedua wanita cantik itu terlihat berjalan beriringan menuju gedung megah itu. “Katanya bos PT Angkasa hari ini ada di kantor,” ucap Meli setelah mereka sampai di lobi kantor. “Memang selama ini dia ke mana?” Ayunda terlihat sangat penasaran. “Katanya sih, dia stay di luar negeri, datang ke sini kalau ada masalah di sini.” Ayunda manggut-manggut. “Aku penasaran dengan Pak bosnya.” Meli tersenyum. “Jangan sampai kamu terpikat,” goda Meli. Ayunda bergidik ngeri. “Kamu kira Big bossnya masih muda? Ngawur! Orang yang dengan kekayaan fantastis sudah pasti udah berumur. Masa buang buaya, dapat tokek!” Meli tersenyum geli mendengar ucapan Ayunda. “Kamu bisa aja!” “Memang ‘kan!” balas Ayunda. Keduanya pun langsung berjalan mendekati meja resepsionist. Seorang wanita cantik yang berprofesi sebagia seorang resepsionist bertanya dengan nada ramah ke arah Ayunda dan Meli. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Ayunda membalas senyuman ramah itu. “Maaf sebelumnya, kami ingin bertemu dengan pimpinan kalian.” Wanita cantik itu kembali tersenyum. “Anda berdua dari perwakitan perusahaan ‘Ayu’?” Meskipun sedikit heran, Ayunda terpaksa mengangguk. “Iya!” “Silahkan, nanti satpam kami akan mengantar kalian menuju ruang rapat,” ucap wanita itu ramah. Ayunda dan Meli saling menoleh, mereka berbicara lewat isarat mata. “Begitu mudah?” Seperti inilah kira-kira isi pemikiran mereka. “Pak! Sini!” panggil resepsionit itu kepada seorang satpam yang berdiri tidak jauh dari mereka. Pak satpam segera berlari menuju ke tempat mereka berada. “Ada apa, Mbak?” tanya pak satpam. “Tolong antarkan kedua Nona ini menuju tempat rapat.” Pak satpam menatap Ayunda dan Meli, tersenyum ramah ke arah keduanya. Pria itu sedikit membungkuk. “Mari saya antarkan ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN