Janna menghapus air matanya segera saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka. “Iya bu, sebentar lagi Janna makan … perut Janna masih sangat mual dan gak enak, masih terasa bekas muntahnya. Rasanya tenggorokan Janna jadi panas,” ucap Janna berkata sendiri sebelum ia menoleh kearah pintu dan melihat siapa yang datang. “Muntah?” Mendengar suara bariton yang membalas ocehannya, Janna segera menoleh dan melihat suaminya di depan pintu kamar. Spontan Janna menoleh ke arah jam melihat bahwa saat itu malam belum larut tapi Jeffry sudah pulang. “Hai sayang, aku pulang,” sapa Jeffry sambil menghampiri istrinya dan hendak mencium bibir Janna tapi Janna menolak sehingga ciuman itu mendarat di pipi. “Udah dong Jan, masa kamu marah terus? Aku benar-benar pulang cepat hari ini demi kamu,” bisik Jeffr

