GM-16-Pertemuan pertama

1055 Kata
Tidur Sian terganggu saat suara - suara bisikan terasa menggelitiki telinganya. Lelaki itu tengah menikmati tidur yang berkualitas beberapa puluh menit yang lalu. Sekarang ia sepertinya sudah seharusnya terjaga dan mulai melanjutkan tugas mata kuliah lain dan juga naskah ceritanya yang belum juga kelar - kelar. Membenarkan posisi duduknya. Sian terlihat menutupi mulutnya yang sedang sedikit terbuka karena menguap. Kenapa suara - suara bising tadi hilang? Pikir lelaki itu heran saat menyadari keheningan di dalam kamarnya saat ini. Menyapukan pandangannya ke setiap sudut kamar. Seolah mencari - cari sesuatu yang aneh. Akan tetapi, ia tak menemukan apapun yang aneh di ruangan yang ia tempati saat ini. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Tangannya mulai meraih gayung berwarna biru berbentuk hati itu dan mengambil segayung air di bak mandi. Membasahi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lelaki itu nampak sedang memperhatikan pentulan wajahnya di kaca kecil yang ada di dinding kamar mandi. Kedua bola matanya terlihat masih merah. Sejurus kemudian, tiba - tiba saja terdengar suara kekehan kecil yang entah berasal dari mana. Sian berkali - kali mencoba menajamkan indera pendengarannya, memastikan kalau ia hanya salah dengar. Akan tetapi, suara kekehan kecil itu tetap terdengar di samping telinganya dengan jelas. Matanya kembali menyapu setiap sudut kamar mandi dan beralih membuka pintu serta menelisik setiap sudut kamarnya. Tidak ada siapapun. "Kau tidak bisa melihatku. Hanya bisa mendengar suaraku saja. Sayang sekali, padahal aku akan lebih senang saat kau mampu melihatku," ucap sebuah suara tanpa tau seperti apa wujudnya. Sian ingat. Suara yang saat ini ia dengar adalah suara yang pernah ia dengar di dalam mimpinya sewaktu ia ketiduran di kampus saat mengerjakan revisi jurnal bersama Rian dan Reno. Suara itu juga mengatakan kalau Sian tidak dapat melihatnya, hanya bisa mendengar suaranya saja. Iya! Sian jngat betul mimpi itu. Mimpi yang benar - benar terasa begitu nyata. Tentu saja Sian takut. Pikirannya sudah berkelana mengenai hal -hal buruk yang mengarah pada yang namanya "setan atau arwah" "Ka-kamu siapa?" tanya Sian memberanikan diri. Matanya mengerling menatap ke setiap sudut ruangan. Mencari siapa tuan dari suara itu. "Kau setan penunggu pohon beringin yang ada di belakang fakultas kampusku, kan?!" Arsen, pria itu lagi - lagi terkekeh geli mendengar pertanyaan lelaki di hadapannya ini. "Kenalkan, namaku Arsenik Dominik. Arwah penasaran yang tak tau apapun selain dua kata yang merupakan namaku barusan," sapa Arsen ramah seraya tersenyum lebar pada lelaki di hadapannya. Meski pada kenyataannya Sian tidak dapat melihatanya. "By the way, saya bukan setan penunggu pohon beringin seperti yang kau tuduhkan! Nagapain saya nungguin pohon beringin segala? Kurang kerjaan sekali." Arsen menggeleng - gelengkan kepalanya seraya berdecak berkali - kali. Meski dia terasa kesepian dan terombang - ambing, tetap saja. Menjadi penjaga pohon beringin agaknya bukanlah hal yang berfaedah yang pernah ia pikirkan. Baiklah. Ini benar - benar tidak masul akal. Pikir Sian seraya mulai menenangkan detak jantungnya yang sudah berpacu akibat suara si arwah penasaran yang menyapanya barusan. Bagaimana bisa setan tidak tau apa - apa selain namanya. Konyol sekali. Pikir Sian. "Aku bukan setan! Aku arwah penasaran. Kenapa penasaran? Karena aku tidak tau banyak hal yang menyangkut tentang diriku dan tentang kematianku." Sian bergidik ngeri saat arwah itu kembali bersuara. Seolah dia tahu apa yang barusan Sian pikirkan tentangnya. "Jangan takut! Aku tidak akan mencelakaimu atau siapapun kok. Aku hanya ingin berteman. Sepertinya kau merupakan lelaki yang kesepian," tebak Arseb di akhir kalimatnya barusan. Tentu saja Sian kesal. Bagaimana bisa, arwah menyebalkan itu mengatakan kalau Sian adalah lelaki yang kesepian. Yang benar saja! Bukannya mau sombong. Tapi Sian jauh dari kata kesepian, seperti yang diucapkan oleh arwah penasaran yang sok tahu bernama Arsenik itu. Keluarga yang harmonis, meski tidak lengkap. Lalu sahabat - sahabat yang membersamainya meskipun kadang mereka menyebalkan. Bagi Sian, hidupnya sama sekali tidak kesepian. Belum lagi para gadis - gadis dan perempuan yang terang - terangan mengejarnya. Bagaimana bisa dikatakan kesepian? Pikir Sian tak terima. "Kau tak perlu menyapukan pandangan ke segala arah seperti itu. Aku di sini, tepat di hadapanmu!" Seketika itu juga Sian terperanjat kaget dan mundur ke belakang beberapa langkah sampai - sampai ia hampir jatuh saking kagetnya. Lelaki itu bahkan berkali - kali berkomat - kamit melangitkan istighfar sebanyak - banyaknya. Bahkan ayat kursi dan tiga surah Qul pun tak tinggal ia baca. Berharap arwah penasaran yang menyebalkan seperti Arsen itu akan lenyap saat ini juga. Arsen mendengkus saat melihat Sian yang komat - kamit tidak jelas di hadapannya. Pria itu memilih duduk di kursi kayu milik Sian yang berada di samping tempat tidur dan menghadap sebuah meja belajar berukuran sedang. "Aku sudah cukup lama terombang - ambing di antara alam nyata dan alam gaib. Rasanya seperti gelandangan yang tak tahu harus ke mana." Sian mengerutkan keningnya saat mendengar curhatan ala arwah penasaran seperti Arsen. Ini masih siang bolong. Kenapa juga Sian berpikir yang tidak - tidak. Mana ada setan di siang hari seperti ini. Pikirnya seraya melangkah ke kursi yang ada di samping tempat tidurnya. Mendaratkan pantatnya di sana dan tiba - tiba saja, tubuhnya merasa aneh dan sesuatu seolah sedang berada di tubuhnya. Entah apa. Sian masih dapat mengendalikan tubuhnya secara penuh. Akan tetapi, dia merasa ada yang aneh pada tubuhny. Lalu, sejurus kemudian Arsen, si arwah penasaran itu kembali bersuara. "Ternyata tubuhmu cocok untukku. Aku bisa merasukimu hanya dengan kau duduk di tempat di mana aku berada. Meski aku hanya bisa berdiam diri dan tidak bisa mengendalikan tubuhmu," Jelas Arsen dengan nada kecewa karena faktanya Sian terlalu kuat untuk dapat ia kendalikan. Sian benar - benar tidak habis pikir dengan apa yang Arsen bicarakan barusan. Hal yang tidak masuk akal apalagi ini?! Pekik Sian seraya meremas rambutnya dengan frustrasi. Sian harap ini hanya mimpi. Iya! Mimpi yang sama saat ia berada di kampusnya waktu itu. Sian hanya perlu memaksa tubuhnya agar terjaga sat ini juga. Oleh karena itu, tangannya mulai bergerak mendekati kedua pipinya dan mulai mencubit dan menampar - nampar daging pipinya dengan pelan hingga kuat. Awww!!! Lelaki itu mengaduh saat rasa panas sekaligus sakit mulai menjalari kedua pipinya. Matanya ia pejamkan kuat - kuat. Berharap ia sudah terjaga selanjutnya ia mulai membuka perlahan matanya yang semua tertutup. Tetap sama. Sian saat ini masih berada di kursi yang mengadap meja berukuran sedang yang terdapat laptop di atasnya. Lalu, suara arwah itu kembali membuatnya tersadarkan bahwa semua yang terjadi barusan itu nyata. "Apa kau berpikir kalau kalau kau sedang bermimpi?" _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN