"Kau takut, hah?!" Suara yang keluar dari mulut pria yang ada di hadapan Axen itu berteriak dengan keras. Suara yang tentu saja bukanlah suara manusia. Bisa dikatakan kalau itu adalah suara khas orang - orang yang kesurupan.
Cekikan pada lehernya pun semakin erat hingga membuat pria itu sulit menghirup oksigen. Kekuatannya rasanya tak sebanding dengan pria yang sedang kerasukan di hadapannya ini. Darah segar dari mata pria itu masih setia mengalir hingga mengenai tubuh Axen dan bahkan wajahnya.
Ini baru pertama kali Axen mengalami kejadian seperti ini. Entah apa yang sedang ia hadapi saat ini. Mungkin roh jahat atau apa, Axen tak begitu peduli. Ia hanya sibuk berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman pria itu.
Ia tak ingin mati konyol di tangan korban yang seharusnya mati di tangannya.
Meraih ponsel yang tergeletak tak begitu jauh dari posisinya. Axen kesulitan saat cekikan di lehernya semakin kuat. Tangannya harus mampu menahan cekikan pria itu dan juga harus tetap berusaha mengambil benda pipih yang sudah mengenai ujung jemarinya.
Rasa sakit karena cekikan kuat di lehernya itu seolah menjalar ke seluruh tubuh.
Tap!
Tangannya berhasil meraih benda pipih itu dan menggenggamnya kuat.
BUK!!!
Pukulan keras berhasil ia layangkan tepat di kepala pria kesetanan yang ada di atas tubuhnya saat ini.
Cekikan kuat di lehernya kini mulai mengendur dan terlepas. Pria itu terhuyung ke samping setelah tangan Axen menghantam tubuh pria itu dengan kuat.
Beberapa kali Axen terbatuk - batuk seraya memegangi lehernya yang kini tampak sudah memerah akibat cekikan yang pria itu lakukan.
Napasnya bahkan tersengal - sengal. Setelah dikira pria kerasukan itu sudah tak sadarkan diri, Axen kembali bergegas mengambil tali besar untuk mengikat tubuh pria itu kembali dengan kuat.
Sial*n!!! Umpatnya seraya meninju wajah pria yang ada di hadapannya.
Hampir saja ia mati konyol karena tugas gila yang lagi - lagi ia dapatkan dari si pria tua misterius itu.
Axen kembali mendengkus kuat - kuat saat benda pipih yang layarnya sudah retak itu kembali bergetar di tangannya. Pria itu mendesis kuat sebelum mengangkat panggilan dari ID caller Bos Syalan!
"Kau tidak lupa apa yang harus kau lakukan setelah melenyapkan pria itu?" Axen menghela napas dengan pelan dan mengembusakannya dengan kasar.
"Tentu saja saya tidak akan lupa," balasnya pada seseorang di seberang sana. Pria tua itu terkekeh pelan menanggapi jawaban dari Axen barusan.
"Ini sudah jam berapa? Waktuku tak banyak. Kirimkan segera organ tubuh pria itu padaku!" Belum sempat Axen menjawab. Pria tua itu kembali bersuara dengan nada dingin dan penuh dengan penekanan dis setiap kata.
"Atau jika tidak, maka organmu bisa sebagai gantinya," imbuh pria tua itu dan disusul dengan bunyi tut! Yang panjang.
Pria bertubuh tegap itu berdecih seraya menyunggingkan senyuman smirknya.
Bangs*t!!! Umpatnya geram seraya melempar bendah pipih itu ke dinding. Menimbulkan suara benturan yang cukup keras antara benda dan dinding ruangan yang sunyi. Bahkan isi benda itu sudah berhamburan ke lantai. Tersebar ke sembarang arah.
Setelah menenangkan diri hingga wajahnya kembali seperti biasanya. Dingin dan penuh dengan kebencian.
Melangkahkan kaki ke sudut ruangan.Tangannya mulai meraih benda panjang dan mengkilat yang tersusun di lemari yang ada di hadapannya.
Seperti sebelumnya. Ia akan mengambil kain hitam berukuran sedang dengan panjang sekita lima puluh sentimeter.
Mengikatkan kain hitam itu agar menutupi mata pria yang terkulai lemas di kursi dalam keadaan teikat.
Kulitnya tiba - tiba saya meremang membuat rambut - rambut halus yang tumbuh di sana seakan berdiri. Akan tetapi pria itu mengabaikannya.
Lalu, cairan kental berwarna merah pekat itu mulai muncrat dan mengotori seisi ruangan. Pria itu mulai mengeksekusi korban.
Melakukan apapun yang diminta si pria tua yang berkuasa. Hatinya seakan mati. Tak ada rasa apapun di sana saat tangannya mulai memisahkan bagian - bagian yang diinginkan oleh si pria tua si*alan itu.
Hanya saja, Axen selalu mengingat satu hal yang harus dilakukannya yang tidak boleh ia lupakan, yaitu melenyapkan pria tua itu dan bila perlu mencincang habis tubuhnya dan memberikannya pada binatang liar yang kelaparan. Ia akan mewujudkannya suatu hari nanti. Cepat atau lambat.
______
Lelaki berwajah pucat itu, kini terkulai lemah menatap dirinya yang pantulan cermin usang yang ada di sebuah ruangan tak berpenghuni.
Ingatan akan perbuatan biadab seorang pria yang tak punya hati nurani yang telah melenyapkan nyawa seseorang begitu saja.
Ia sudah curiga sejak pertama kali bertemu dengan pria itu di sebuah kafe.
Arsen, pria berwajah pucat itu adalah Arsenik dominik. Pria yang sudah berusaha menyelamatkan nyawa seorang lelaki malang yang menjadi korban kekejaman pria dingin bertubuh tegap yang ia tandai sebagai seseorang yang harus ia awasi.
Arsen sudah berusaha mencoba merasuki lelaki berwajah lonjong yang berumur sekitar tiga puluh tahunan.
Rasanya Arsen tidak percaya pada informasi yang ia baca di mesin pencari informasi bernama go*gle itu. Kalau tidak semua tubuh bisa ia masuki dan ia kendalikan dalam waktu yang lama. Bahkan ada tubuh seseorang yang sama sekali akan menolak tubuhnya mentah - mentah. Akan tetapi, ia harus mengakui bahwa informasi yang disajikan mesin pencari itu cukup akurat.
Tubuhnya bahkan pernah terlempar begitu saja saat berusaha merasuki tubuh seorang pria waktu itu.
Arsen nampak sedih saat ia kembali teringat akan nasib lelaki yang tak mampu ia tolong itu.
Rasanya cairan bening seolah tengah mendesak ingin keluar dari kedua sudut matanya.
"Jangan bilang kau akan menangis?!"
Arsen terperanjat kaget bukan main. Saat suara seseorang tiba - tiba saja mengintrupsi pikirannya saat ini.
Matanya mengerling ke seluruh ruangan. Mencoba mencari keberadaan sosok yang baru saja bicara.
"Hei! Aku di sini!" ujar si hantu perempuan seraya terkikik geli saat melihat wajah Arsen yang nampak kebingungan saat ini.
"Siapa kau?" tanya Arsen ketus saat mendapati perempuan berambut sebahu itu berdiri di sudut ruangan.
"Kenalkan, namaku Alumina Aurora," sapa peremuan itu dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas dengan begitu tinggi seraya mengulurkan tangan kecilnya di hadapan Arsen. Ia nampak begitu senang bertemu dengan pria tampan seperti Arsen di sini.
Akan tetapi, nampaknya lelaki itu tak begitu suka. Wajahnya nampak menelisik perempuan yang tengan megulurkan tangannya serta tersenyum begitu lebar yang ada di hadapannya ini.
Tepatnya, Arsen tak begitu menyukai perempuan yang terlalu agresif. Bukankah seharusnya perempuan itu malu - malu dan was - was, jika sedang bersama seorang lelaki di dalam sebuah ruangan tertutup seperti ini? Pikir Arsen seraya terpaksa menyunggingkan sudut bibir kanannya berusaha tersenyum ramah pada perempuan bernama Alumina Aurora itu.
Namanya saja sudah aneh. Pikir Arsen. Lalu lelaki itu terpaksa membalas sapaan Mina dengan kaku.
"Namaku Arsen."
_____