Tanpa terasa, weekend pun tiba. Tri, gadis itu sudah bersiap sejak pagi. Ia baru saja mengirimkan pesan pada Sian, menanyakan renacana pertemuan mereka di kafe Uno.
Akan tetapi, di luar dugaan. Sian menelponnya. Membuat gadis itu merasa gugup sebelum menerima panggilan dari pria itu.
"Halo, wa'alaikumussalam." Gadis itu menjawab salam dengan terbata.
Ia menunggu Sian mengatakan seauatu. Namun, pria itu hanya terdiam selama beberapa detik. Sebelum akhirnya ia mengatakan kalau ia akan ke rumah Tri.
"Kalau gitu, aku siap - siap dulu." Seraya memainkan rambu panjangnya yang terurai, gadis itu menganggukan kepala meski pria dis sebrang sana tidak dapat melihatnya.
"Wa'alaikum salam," balasnya lalu menutup menjauhkan benda berbentuk pipih itu dari telinga.
Dengan sigap, gadis itu menuruni kasur. Melangkah mendekati lemari pakaian. Mengambil baju oversize warna abu dan jeans berwarna dark blue. Mengenakannya dengan cepat lalu beranjak mendekati standing mirror yang berada di sisi kanan ruangan berdekatan dengan meja belajar.
Ditatapnya rambuh hitam panjangnya di pantulan kaca. Merasa bingung apa yang harus ia perbuat dengan rambutnya. Dicepol tinggi terasa sudah bosan. Namun, ia tidak punya ide lain.
Mengingat waktunya tak banyak, pada akhirnya ia tetap mencepol rambut panjangnya. Merapikan poni tipis yang mulai menyentuh alis. Beralih menatap bibirnya yang sedikit pucat. Gadis itu menggelengkan kepala. Lalu mendekati meja riasnya, memilih liptint atau lipcream mana yang akan ia gunakan.
Lalu pilihannya jatuh pada liptint berwarna res cerry. Memoleskan sedikit pada bibir lalu meratakaannya dengan jari.
Setelah selesai. Ia beranjak mendekati kasur. Meraih ponselnya yang tergeletak di sana. Menatap layarnya yang menampilkan beberapa pesan dari grup sekolah dan dari Sian.
From : Sian
Aku udah di depan rumah kamu
Gadis itu tersenyum. Lalu melangkah dengan lincah mendekati lemari tas. Mengambil satu slingbag berwarna abu. Bergegas memasukkan ponsel, dompet dan liptint ke dalam tas berukuran sedang itu dengan cepat. Keluar dari kamar dengan sepatu berwarna senada dengan baju yang ia kenakan.
"Mau ngedate lagi?"
Tri menoleh seraya menuruni anak tangga dengan cepat. Ternyata mamanya.
"Enggak ngedate ma. Ada yang mau Sian diskusiin sama aku." Tri berujar seraya mendekati sang mama.
"Lupa, mama bilang apa? Jangan,-"
"Jangan panggil orang yang lebih tua dengan namanya saja. Gak sopan." Tri meringis setelah meneruskan kalimat mamanya yang akhir - akhir ini sering ia dengar.
Wanita paruh baya itu berdecak seraya menggelengkan kepala.
"Awas aja, kalo masih diulang," ancamnya pada putri bungsunya itu.
Tri mengangguk seraya meraih punggung tangan mamanya. Menciumnya dengan cepat seraya berpamitan.
"Ngedatenya ke mana nih?" tanya sang mama seraya memindai penampilan anak gadisnya itu dari atas ke bawah.
Tri merengut seraya memutar bola mata malas.
"Gak ngedate mamaaa," koreksinya seraya menunggu izin dari sang mama.
"Yaudah. Suruh Siannya masuk dulu. Pamitan sama mama. Jemput anak gadis orang tanoa pamitan, itu, gak sopan."
Satu hal yang Tri sesalkan kenapa ia tidak pergi diam - diam saja. Tanpa harus bertemu dengan mamanya seperti ini.
Bagaimana bisa ia menyuruh Sian untuk masuk. Sian masih merasa sungkan sejak obrolan pria itu dengan papanya pekan lalu. Ia tidak ingin membuat pria itu merasa tidak nyaman.
"Maa...," rengeknya seraya memasang wajah memelas.
"Siannya udah lama nunggu di luar. Gak enak kalo Tri keluar, terus nyuruh dia msuk dulu. Dia juga punya kerjaan lain." Gadis itu berusaha membujuk mamanya.
Akan tetapi, sejurus kemudian. Seseorang datang. Mengintrupsi perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Maaf bu, saya lancang masuk. Soalnya tadi Tri bilang bakan keluar dalam lima menit. Saya telepon juga gak diangkat. Makanya saya masuk, setelah izin sama pak Tron di depan."
Wanita yang dipanggil ibu itu masih diam seraya menatap Sian dengan cengo. Begitupun dengan Tri. Gadis itu melongo menatap pria jangkung yang ada di hadapannya ini.
"Ah iya, gapapa. Kalian ngedatenya jangan lama - lama. Mama liat dalam sepekan ini kalian udah ketemu berapa kali," oceh mama Tri seraya menatap anak gadisnya dan Sian seraya bergantian.
Sian mengangguk mengiyakan seraya tersenyum.
"Siyap, bu." Tri menatap Sian dengan ekspresi yang tidak bisa ia artikan. Seolah ia sedang menatap orang lain.
Keduanya berpamitan lalu melangkah ke luar rumah bersama.
Sian menyapa pak Tron saat mereka melewati gerbang. Pak Tron, tukang kebun di rumah Tri yang jarang terlihat karena beberapa pekan yang lalu izin pulang ke kota Neon, kampung halamannya.
Keduanya berangkat meninggalkan perkadangan rumah megah itu bersama motor matic yang dikendarai Sian. Bergabung dengan kendaraan lainnya membelah jalanan ibu kota Krypton yang nampak padat.
Hari weekend memang merupakan waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama orang - orang terdekat. Sebab, di hari - hari biasa, masyarakat disibukkan dengan pekerjaan, pendidikan dan aktivitas lain sebagianya.
***
Selama perjalanan Tri hanya menatap ke arah jalanan. Ini bukan kali pertama mereka pergi berdua seperti ini. Akan tetapi, entah kenapa gadis itu merasakan sesuatu hal yang entah kenapa membuatnya berpikir kalau pria yang membomcengnya saat ini bukanlah Sian.
Oke, ini mungkin tidak masuk akal. Tapi, ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Entah apa itu, namun yang pasti Tri merasa ia harus menanyakan sesuatu pada pria yang memunggunginya saat ini.
Sementara itu, Sian hanya bungkam dan menatap lurus pada jalanan yang ada di depan. Sebentar lagi, pikirnya seraya mengembuskan napas panjang.
Seperi biasa, Sian mereka memilih tempat yang di dekat jendela kafe. Sian dan Tri duduk berhadapan. Memesan makanan dan minuman lalu mengobrol sebentar seraya menunggu pesanan mereka tiba di meja.
"Aku boleh tanya gak?" Sian membuka suara lebih dulu. Tri, gadis itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Apa kakak Di mu sedang bekerja saat ini?"
Entah kenapa pertanyaan yang dilontarkan Sian membuat ekspresi wajah Tri berubah. Gadis itu merasa ada yang aneh dengan pria yang ada si hadapannya ini. Lalu, pertanyaan Sian barusan membuat Tri bertanya - tanya.
"I-iya. Ka Di sedang kerja. Biasanya pulang sore atau malam," jawab gadis itu dengan sedikit terbata.
Sian nampak menganggukan kepala mengerti. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Menghindari tatapan gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Sejurus kemudian pesanan mereka datang. Sian tidak bertanya lebih lanjut dan Tri pun hanya menunggu pria itu membuka suara, namun ternyata mereka berakhir saling bungkam.
Seraya menikmati makanan yang mereka pesan. Tri tidak bisa menahan diri untuk tidak menelisik penampilan pria yang ada di hadapannya ini seraya berpikir, apa yang salah dengan Sian. Apa yang berbeda dengan pria di hadapannya itu selain cara Sian menatapnya dan bahasa tubuh yang ditunjukkan pria itu.
Lalu...
Deg!
Gadis itu nampak mengehentikan aktivitas makannya secara tiba - tiba. Saat matanya menatap pada tampilan pria yang kini duduj berhadapan dengannya.
Kameja yang terbuka dengan baju kaus berwarna abu membalut tubuh pria itu. Penampilan yang sangat berbeda dengan Sian pada biasanya.
Meski tidak pernah mengomentari atau memberikan pujiam untuk penampilan Sian. Akan tetapi, Tri cukup sering mengamati penampilan pria itu.
Sian lebih sering menggunakan kameja berwarna netral dan soft yang dikancing rapi lalu lengannya digulung hingga sebatas siku.
Ayolah. Seseorang bisa merubah penampilannya kapan saja. Bisik batinnya mengingatkan.
Ya, Tri setuju kalau seseorang bisa merubah penampilannya kapan saja. Namun, tidak dalam waktu yang cepat dan tidak juga dengan diiringi oleh perubahan sikap.
Gadia itu masih sibuk dengan pikirannya. Hingga tanpa sadar pria yang ada di hadapannya kini menatapnya dengan aneh.
"Ada apa?" tanya pria itu seraya melihat pada dirinya.
Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini? Pria itu mulai bertanya - tanya.
Tri tersadar saat mendengar Sian membuka suara. Gadis itu telihat terkesiao seraya meringis pelan.
"Eng-gapapa kok," jawabnya dengan terbata. Lalu memalingkan wajah ke arah lain.
Setelah percakapan singkat itu, keduanya memilih menghabiskan makanan yang ada di hadapan masing - masing.
"Biar aku aja," tungkas pria yang kini memberikan uang beberapa lembar pada seorang penjaga kasir kafe.
Tri hanya bisa menatap pria di sampingnya itu dengan aneh. Seingatnya, Sian pernah mengatakan kalau pria itu akan membiarkannya membayar untuk pertemuan makan bersama mereka kali ini.
Atau, Tri yang lupa? Gadis itu masih terdiam setelah proses pembayaran selesai. Membuat pria jangkung yang berdiri bersisian dengannya itu menatap dengan bingung.
"Kamu gapapa?" tanya pada gadis mungkin di sampingnya dengan tatapan penuh tanya.
Tri menggelengkan kepala dengan cepat seraya mengangkat kedua sudut bibirnya dengan kaku.
"Eng-gapapa kok," balasnya lalu mereka beranjak dari sana.
***
Tidak seperti yang Tri bayangkan sebelumnya. Makan bersama Sian di kafe lalu mereka memutuskan untuk mengelilingi jalanan kota Argon yang nampak sedikit disesaki oleh kendaraan lainnya.
Sepanjang perjalanan, Sian memikirkan satu hal. Bagaimana ia bisa menemui seseorang yang sangat ingin ia temui. Memeluknya dengan erat seolah tidak ingin berpisah barang sedetik saja. Lalu mengatakan bahwa ia sangat merindukan orang itu. Sampai membuat dadanya terasa nyeri dan sesak setiap kali menahan rasa rindu yang makin membuncah
"Aku, boleh pinjam ponselmu?" tanya Sian saat mereka memutuskan untuk memarkir motor matic itu di sebuah taman kota yang nampak ramai dikunjungi orang - orang yang menghabiskan bersama dengan orang - orang terdekat.
Tri, gadis itu nampak sedikit terkejut. Karena sebelumnya, Sian sangat sungkan meminjam ponsel gadis itu bahkan saat Tri mengizinkannya.
Lalu, sejurus kemudian, Tri mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja.
Seraya tersenyum tipis, gadis itu menyerahkan ponselnya pada Sian. Mereka saat ini tengah duduk di salah satu kursi kayu yang diukir dengan indah. Menghadap hamparan bunga yang terlihat berwarna dan memanjakan mata.
Entah apa yang dilakukannya pada ponsel gadis itu. Akan tetapi, Tri merasa tidak sopan kalau ia bertanya apa yang ingin Sian lakukan pada ponselnya.
Selama beberapa menit, benda berbentuk pipih dengan softcase berwarna biru putih itu masih berada di tangan Sian.
Setelah itu, pria itu tersenyum lalu mengembalikan benda itu pada gadis yang kini menatapnya dengan oenuh tanda tanya.
"Aku barusan mencoba menghubungi ponselku. Aku baru sadar kalau aku meninggalkannya di box motor." Jelasnya seraya tersenyum tipis.
Tri mengangguk seraya tersenyum penuh arti. Lebih tepatnya, gadis itu curiga. Bahwa pria yang ada si sampingnya ini tengah berbohong. Pasalnya, Tri merasa ia tidak melihat Sian memasukkan ponselnya ke dalam sana sebelumnya.
"Setelah ini, kita pulang, ya?" Sian berujar pada gadis di sebelahnya, namun lebih kepada bertanya mengenai pendapat gadis itu.
Tidak ada jawaban lain yang bisa Tri berikan, kecuali menganggukkan kepala setuju.
Gelagat pria itu semakin aneh. Tri beraasumsi dalam kepalanya saat ini seraya menatap gerak gerik Sian yang tidak biasa.
"Boleh kita mampir ke toko buku sebentar?" tanya Tri dengan pelan.
Sian nampak berpikir sejenak, lalu tersenyum seraya menganggukkan kepala setuju.
"Ke tempat toko buku yang waktu itu kita kunjungi," imbuh gadis itu seraya menatap pria di hadapannya itu dengan teliti.
Sian kembali mengangguk untuk kesekian kalinya. Menaiki motor maticnya yang kemudian disusul oleh gadis mungil yang duduk di belakangnya.
Selama hampir setengah tahun berlalu. Mengenal seorang pria seperti Sian layaknya tanah yang mengalami kekeringan lalu mendapat guyuran hujan deras. Seperti itu Sian bagi seorang Triana, gadis yang faqir kasih sayang dan kepedulian dari orang tua lalu bertemu dengan Sian, pria sederhana, peduli dan memiliki hal yang paling Tri dambakan. Yaitu keluarga dan rumah yang hangat untuk pulang.
Entahlah, kenapa Sian menjadi orang seberarti itu baginya. Gadis itu tidak tahu, kenapa atau bagaimana bisa ia begitu membutuhkan Sian dalam hidupnya.
Mungkin karena pria itu pernah memberikannya tempat menginap yang hangat, yaitu rumahnya. Atau, mungkin karena Sian memiliki ibu dan saudara perempuan yang menerimanya dengan tulus tanpa alasan. Atau mungkin, karena Sian adalah pria dari masa lalunya yang ternyata adalah cinta pertama baginya.
Lalu, saat pria itu memperlakukannya berbeda dari biasanya. Itu membuat Tri bertanya - tanya dalam setiap sudut kepala dan hatinya.
Ada apa?
Bukankah Sian pernah memperlakukannya sebagai seorang perempuan. Bukankah Sian pernah membawa ke tempat terindah yang belum pernah ia lihat. Lalu mengabadikan momen itu berdua. Saling menatap penuh cinta.
Lalu kenapa? Kenapa sekarang rasanya berbeda?
Kenapa Sian lebih sering menghindari tatapannya?
Kenapa? Kenapa pria itu memberikannya tatapan layaknya seorang kakak menatap adik perempuannya?
Tri tidak suka itu. Ia tidak menyukai Sian sebagai seorang kakak lelaki yang baik dan peduli pada sang adik. Lebih dari itu, ia menginginkan Sian sebagai pria yang menatapnya sebagai perempuan. Sebagai seorang gadis yang dicintainya. Bukan adik perempuan yang harus ia sayangi dan lindungi.
Terlalu banyak kenapa yang berenang - renang ke sana ke mari memenuhi isi kepalanya saat ini. Hingga panggilang dari seorang pria di hadapannya kini seolah tak menjangkau indera pendengaran gadis itu sama sekali.
Sesaat setelah mereka tiba di rumah gadis itu. Sian memanggil nama gadis kecil yang ada di hadapannya. Namun, tidak ada sahutan atau respon dari gadis itu.
Ia hanya menundukkan kepala seraya menatap ujung sepatunya. Entah apa yang ada dibenakknya, namun itu berhasil membuat Sian menyunggingkan sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Adik kecilnya masih saja menggemaskan. Pikirnya seraya menatap pada sosok mungil yang ada di hadapannya.
***