"Ayolah, Ma. Bantu Duta sekali ini saja." Mama menghentikan sejenak gerakannya merajut benang wol yang sudah setengah jadi membentuk sebuah topi. Topi rajut itu kiranya dibuat spesial untuk sang cucu tercinta. Ah, Mama sangat senang akhirnya ada anak kecil yang bisa disayang-sayang. Apalagi cucu itu perempuan. Itu seperti pengobat akan keinginanya memiliki anak perempuan. Mama lalu memandang Duta yang menatapnya penuh permohonan. Mama membalasnya dengan tatapan iba karena Mama memang tidak bisa membantu apa-apa. "Duta, Mama memang suka nemenin Mika. Tapi nanti malam itu Mama ada acara, dan kamu tahu sendiri kan, anak kamu itu tidak bisa disuruh diam dalam posisi yang sama selama 5 menit saja." "Batalkan saja acara itu. Bagaimana bisa Mama memilih menghadiri pesta orang lain daripada ban

