BAB 7

1251 Kata
SATU lagi percintaan panas Bianca lewati bersama Albizar. Selai stroberi bercampur liur kekasihnya meninggalkan jejak lengket. Bagaimana bisa stamina Albizar luar biasa? Sekilas lihat, cucu Ibrahim Parama dan putra mendiang Hilbram Parama ini tampak dingin. Bekunya es Antarktika saja lebih bersahabat dibandingkan Albizar. Namun, semuanya mencair ketika berada di ranjang. Bukan hanya menghangat, Albizar sangat panas. Memang mereka membersihkan sisa-sisa percintaan tadi di kamar mandi. Selain salah, keputusan itu juga bodoh. Bianca sebenarnya tahu apa yang akan terjadi kalau mereka berada di bawah satu pancuran yang sama. Bukannya bersih malah semakin kotor seperti yang sudah-sudah. Bianca hanya dapat pasrah mendapat serangan kenikmatan. Tenaganya tidak sekuat Albizar. Dibiarkannya saja laki-laki itu menuntaskan hasrat buasnya.  "Apa dulu Ratna mampu mengimbangimu?" tanya Bianca meletakkan kepala setengah basahnya ke d**a Albizar. Sehabis mandi mereka malah sama-sama telanjang, berbaring erat. "Aku selalu berhati-hati dengannya. Ratna terlalu rapuh. Aku nggak yakin dia sekuat kamu." Albizar mendekap tubuh molek Bianca. “Tetapi toh kamu memilihnya menjadi istri, bukan aku.” “Kecocokan seksual saja tidak bisa dijadikan alasan untuk menikah, Ndra. Keluargaku –“ “Iya aku tahu.” Bianca malas mendengar ocehan panjang lebar Albizar. Dia melepaskan dekapan Albizar, mengambil ponsel di nakas. Apa ini? Bukannya hal baik, Bianca malah mendapati hal tidak mengenakkan. "Ck!" Melihat akun media sosial Venusian Lingerie, Bianca berdecak tidak suka. "Kenapa?" Albizar jadi penasaran.  "Follower Venusian Lingerie berkurang lagi," keluh Bianca dengan wajah cemberut. "Kita sama-sama pengusaha. Pastinya paham bahwa dalam dunia bisnis ada yang namanya pasang surut." "Paham. Aku kesal aja." Bianca kembali mendesah. Basis konsumen Venusian Lingerie memang dari internet. Nyawanya berada di sana.  "Jangan patah semangat! Follower akun bisnismu pasti akan naik lagi," ujar Albizar lalu memberikan kecupan kecil di punggung Bianca. Terkadang Bianca merasa bersalah telah merebut suami sahabatnya, akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang, dia bersyukur memiliki Albizar di sisinya. Selain sama-sama pebisnis, mereka juga mudah b*******h satu sama lain.  "Tapi ini nggak bisa dibiarkan. Aku harus gimana?" "Kenapa nggak memberi diskon besar-besaran?" usul Albizar.  "Sudah kucoba. Tapi tetap belum berhasil. Diskon tidak baik untuk perkembangan bisnis dalam jangka panjang. Produk kita bisa dicap murahan. Konsumenku banyak dari kalangan menengah ke atas." Albizar memiringkan badan menghadap Bianca, merapikan rambut-rambut halus yang jatuh ke wajahnya. "Kalau begitu, kamu bisa melakukan inovasi lalu mengadakan pameran fashion bersama IPFI. Bukankah kamu sudah mengenal cukup banyak orang di sana." Rona kusut Bianca berubah sedikit cerah. "Eh, benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran ya?" Albizar ikut tersenyum melihat Bianca sudah tidak murung lagi. Dia menahan pergelangan tangan perempuan itu di wajahnya. Kemudian mengecup pelan.  "Aku sudah memberimu solusi. Sekarang kamu harus membayar jasa konsultasi denganku," tutur Albizar penuh makna tersirat.  Bianca terkekeh. "Astaga yang benar saja. Kamu pelit banget sih. Dasar matre!" Albizar menggelang tidak setuju. "Aku tidak matre karena bayaran yang aku minta bukan berupa uang." Bianca menggigit bibir, dia tahu dengan sangat jelas bayaran yang diinginkan Albizar. Namun, Bianca akan berpura-pura karena menggoda lelaki itu sangat menyenangkan. "Jelaskan!" Albizar bergerak dengan cepat, mengurung Bianca di bawah tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu pada sisi kiri dan kanan perempuan tersebut. Kemudian wajahnya menunduk. "Kamu ingin aku menjelaskannya? Atau mempraktikkannya secara langsung," bisik Albizar, mengirimkan gelanyar menyengat serupa aliran listrik yang meremangkan seluruh bulu halus di tubuh Bianca. "Mungkin .... keduanya." Bianca mengerling dengan senyuman menggoda. "Kupastikan kali ini kamu akan melupakan namamu sendiri. Ah, tidak. Aku pastikan kamu lupa cara bernapas." Jemari Albizar mulai membelai wajah cantik Bianca. "Dan hanya mampu menjeritkan namaku." "Kamu pikir aku akan membiarkannya dengan mudah?" Bianca menangkap tangan Albizar. "Tidak akan Mr. Parama. Aku bukan Anastasia Steel yang rapuh dan penurut. Aku Bianca Cook." Albizar tidak bisa menjelaskan bagaimana chemistry yang ada pada mereka begitu mengikatnya. Dia menyukai setiap hal yang terjadi di antara dirinya dan Bianca. Semuanya.... "Baiklah jika begitu Nona van den Heuvel, malam ini akan menjadi pertarungan yang sengit." Bianca menggeleng, meralat ucapannya. "Bukan pertarungan yang sengit. Melainkan pertarungan yang panas. Kita akan lihat, siapa yang menyerah lebih dulu." Namun, kemesraan mereka disela raungan ponsel Bianca yang tidak sabaran. Albizar menggeram sebal atas gangguan yang tidak diinginkan.  "Abaikan saja. Siapa sih malam-malam mengganggu. Tidak sopan." Semula Bianca berpikir demikian. Dering ponsel memang berhenti, tetapi chat masuk ke w******p.  "Sebentar, Ham. Siapa tahu dari kantor." Bianca bergegas mengeklik ikon hijau.  Gita: Bu, tolong lihat akun f*******: Korban_Sahabat. Napas Bianca segera sesak membaca apa yang tertulis pada akun yang Gita maksud. Ini pasti perbuatan Ratna. Tidak salah lagi. Curhatannya begitu mirip kisah asmara mereka. Persahabatan mereka, perselingkuhan Albizar. Kolom komentar mulai banjir hujatan. Bianca membacanya, tetapi tidak kuat menahan emosi yang meluap. Dia meraung, menutup wajah. Albizar sangat terkejut. Dia pun ikut membaca yang tertera di sana.  Pikirannya sama seperti Bianca. Ratna membalas dendamnya pada mereka.  *** Kantor Venusian Lingerie segera geger. Follower turun, orderan pun mengalami hal serupa. Ratna layak melakukan ini, Bianca tidak akan menyalahkannya. Namanya dan nama Albizar memang tidak disebut jelas. Hal itu tidak menghalangi netizen untuk mencari tahu.  "Bu, maaf kalau saya lancang," tutur Gita, "Ibu Ratna meminta saya bersaksi pada sidang cerainya. Apa benar Bu Sandra dan Pak Albizar..." Gita tak sanggup meneruskan kalimatnya.  Bianca terperanjat lalu segera sadar. Menyangkal pun percuma. Karyawannya mengetahui betapa rusak moral atasannya. "Saya memang bersalah," ujar Bianca getir. "Ratna berhak marah." Seluruh karyawan Venusian Lingerie terdiam lantaran syok. Rumor itu bukanlah rumor belaka, melainkan fakta. Gita sudah menaruh curiga saat bertemu Albizar di seminar IPFI.  Imbas dendam Ratna bukan hanya pada Venusian Lingerie, melainkan juga pada The Parama Kitchen. Saat jam makan siang kini hanya melayani empat orang. Bianca melangkah dengan kepala tegak ke ruangan Albizar. Seharusnya dia menunduk malu kan? Jangan bicara mengenai harga diri. Sesungguhnya pada hari ketika Bianca mewujudkan fantasi Albizar, pada hari yang sama harga dirinya sudah lenyap.  Bianca duduk menunggu Albizar selesai bercakap-cakap dengan seseorang di telepon sembari menghadap komputer. Grafik pelanggan The Parama Kitchen pun menurun lebih dari separuh.  "Ndra," ucap Albizar setelah mengakhir percakapan telepon. Dia benar-benar lelah.  "Kamu telepon siapa?" tanya Bianca hati-hati. "Temanku, dia pengacara yang bilang bisa membereskan masalah ini. Akan kupenjarakan orang yang merusak nama baik kita." "Jangan, Ham!" Bianca buru-buru menyergah. "Apa kamu tega memenjarakan Ratna?" "Lalu kita harus gimana? Diam saja menyaksikan kehancuran bisnis yang kita bangun bertahun-tahun?" Albizar naik darah. “Ratna pun harus dinasihati agar tidak seperti ini.” "Nggak, bukan gitu. Aku juga mau ketemu sahabatku, tapi bukan gini caranya. Aku bersedia mengalah. Gimana kalau kita ke Surabaya menemui Ratna? Aku akan mencium kakinya untuk meminta maaf, aku akan meninggalkanmu. Kembalilah pada dia, Ham." "Jangan gila!" Albizar bertambah emosi. "Gampang banget kamu bilang mau ninggalin aku. Kamu tahu aku nggak bisa jauh darimu, Ndra." "Baiklah. Kita bisa bicarakan baik-baik. Batalkan pengacara. Jangan libatkan polisi. Ratna itu sahabatku, Ham. Usaha kita bakal makin hancur kalau kamu menempuh langkah hukum. Tolong, Ham," mohon Bianca.  “Bisnismu dan bisnisku di ujung tanduk. Kalau kita melaporkan Ratna ke polisi, besar kemungkinan dia akan menarik pernyataannya.”  “Maaf, tapi sekali ini kamu salah, Ham. Ratna adalah istri tersakiti yang pastinya mudah mendapat simpati.” Segala pertimbangan dari Bianca dan kawannya Albizar pikirkan masak-masak. Masukan Bianca banyak benarnya. Albizar memang kesal, tetapi masih dapat berpikir jernih. "Gimana kalau kamu minta tolong IPFI saja buat mengadakan pameran? Kalau penjualan online sepi, kamu bisa coba penjualan di dunia nyata, Ndra. Ayo kita bekerja sama." Sesungguhnya Bianca pesimis usulan Albizar akan berhasil. Masyarakat belum banyak keluar rumah. Jika dia tidak mencoba, apakah ada pilihan lain? Kalau membantah ide Albizar, bisa-bisa akan ada penangkapan polisi. Bianca tidak mau ada keributan. "Kalau gitu aku hubungi Pak Sumarsono," ucap Bianca. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN