Cukup, ini sudah lebih dari cukup. Maka Albizar mengangkat Bianca agar duduk di meja makan. Menurunkan celana pendek rumahan itu, kemudian celana dalam berendanya. Bagian itu tidak seharum dahulu. Aroma mawar dan feromon yang menguar sempurna sudah tak ada lagi. Albizar berhenti. “Ada apa?” tanya Bianca dengan napas terengah. Albizar dilema antara mengatakan yang sejujurnya dan mengakibatkan perang nuklir atau melakukan saja seperti biasa meski menahan jijik. “Ada apa?” ulang Bianca. “Maaf, Sayang. Apa kamu sudah nggak ke salon lagi?” Bianca mengikuti arah pandang Albizar. Ternyata ini masalahnya. Siapa juga yang ingat menata bulu kemaluan saat anak sedang sakit? Bianca lupa merapikannya dan kini mulai merimbun. “Apa salahnya? Kamu keberatan?” Sejujurnya ya, Albizar tak mau mulutn

