Pagar Berduri di Antara Kita

1373 Kata
Setiap hubungan punya batasan tak terlihat. Sebuah garis halus antara kepercayaan dan kecurigaan, antara cinta dan luka, antara kenyataan dan kenangan. Dan di antara Nayla dan Leonard batas itu mulai terasa seperti pagar berduri yang semakin hari semakin menusuk. *** Tiga hari sejak konferensi pers, publik masih membicarakan keberanian Leonard dan Nayla membuka masa lalu kelam keluarga mereka. Di permukaan, keduanya tampak semakin kuat kompak di depan media, saling mendukung di setiap pertemuan bisnis. Tapi di balik pintu rumah mewah itu, ada jarak yang mulai tumbuh. Senyap. Tapi nyata. *** Nayla bangun pagi-pagi dan menemukan tempat tidur kosong. Leonard tidak di sampingnya. Lagi. Di ruang makan, hanya ada secarik catatan di atas piring: “Rapat mendadak. Jangan tunggu sarapan. – L.” Nayla mengepal jemarinya. Sejak video itu dirilis, Leonard memang lebih sibuk dari biasanya. Tapi kesibukan itu juga terasa seperti cara halus untuk menghindari percakapan-percakapan yang lebih dalam. Tentang Alvaro. Tentang rasa cemburu yang belum selesai. Tentang ketakutan yang masih mengendap. *** Sementara itu, Leonard duduk di ruang rapat lantai 23, memandangi layar proyektor, tapi pikirannya melayang. “Pak Leonard?” tanya salah satu direktur muda. “Apakah kita lanjut ke topik ekspansi?” Leonard mengangguk sekilas. “Lanjutkan saja tanpa saya. Kirimkan resumenya nanti.” Ia bangkit dan meninggalkan ruangan. Di dalam pikirannya hanya ada satu suara: Apakah aku sudah terlalu jauh membiarkan Nayla berdiri sendirian? *** Hari itu, Nayla memilih pergi ke yayasan literasi miliknya, mencoba menyibukkan diri dengan hal yang memberinya kedamaian. Di antara tumpukan buku dan anak-anak yang belajar mengeja, ia merasa… normal. Tapi ketika ia keluar dari ruangan administrasi, seorang wanita tua mendekatinya. Mengenakan blus batik usang dan topi lebar, wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh luka. “Kau anak Diah, bukan?” Nayla membeku. “Anda siapa?” “Aku teman ibumu. Kami dulu dipekerjakan Mahesa untuk menyembunyikan dokumen-dokumen ilegal. Tapi hanya ibumu yang berani mengembalikan uangnya saat semuanya terbongkar.” Nayla tercekat. “Apa maksud Anda?” Wanita itu mengeluarkan sebuah amplop tua. “Ini surat dari ibumu untukmu. Dia titipkannya padaku kalau-kalau sesuatu terjadi padanya.” Nayla menerimanya dengan tangan gemetar. Isinya hanya satu lembar, ditulis dengan tangan: “Nak, jika suatu hari kau merasa dunia terlalu berat untuk kau pertahankan, ingatlah bahwa aku tidak ingin kau mewarisi luka ini. Tapi jika kau memang harus berdiri di dunia yang sama dengan ayahmu dan Mahesa… pastikan hatimu tak berubah menjadi seperti mereka.” *** Di malam hari, Leonard akhirnya pulang. Matanya lelah. Jasnya kusut. Tapi yang paling terlihat lelah adalah... jiwanya. Nayla duduk di tepi ranjang, membaca surat ibunya. “Leonard,” katanya pelan, “kita harus bicara.” Leonard menatapnya. Diam. Kemudian duduk di sebelahnya. “Aku tahu aku belum benar-benar jujur tentang semuanya. Tentang perasaanku. Tentang Alvaro. Tentang ketakutanku. Tapi aku tidak ingin cinta kita digerogoti oleh hal-hal yang tidak kita bicarakan.” Leonard menunduk. “Aku juga salah. Aku pikir dengan membuat diriku sibuk, aku bisa melupakan rasa tidak nyaman itu.” “Maksudmu... rasa tidak percaya?” Leonard menatapnya. “Mungkin. Tapi bukan karena kau... melainkan karena aku tidak tahu bagaimana menjaga cinta yang dibangun di atas medan perang.” *** Hening sejenak. Lalu Nayla bangkit, mengambil selembar kertas kosong dan pena. “Aku ingin kita buat perjanjian,” katanya sambil duduk kembali. “Bukan kontrak seperti dulu. Tapi... janji kita sebagai pasangan.” Leonard menaikkan alis. “Janji seperti apa?” Nayla menulis: “Aku, Nayla, akan jujur pada luka yang kubawa. Aku tidak akan membungkusnya untuk terlihat kuat. Aku akan membiarkanmu melihatnya, memegangnya, bahkan merasakannya kalau itu yang membuatmu percaya.” Lalu ia mendorong pena ke arah Leonard. Leonard menulis: “Aku, Leonard, tidak akan menyelamatkanmu dengan cara menyingkirkanmu dari badai. Tapi akan berjalan bersamamu melewati badai itu, bahkan jika aku sendiri ketakutan.” *** Mereka membacanya bersama, lalu tersenyum tipis. Tidak sempurna. Tapi itu cukup untuk malam ini. Mereka berpelukan, lebih tenang. Lebih nyata. Dan dalam dekapan yang tak terburu-buru, mereka tahu: Pagar berduri itu tidak hilang. Tapi mereka kini tahu caranya melewatinya bersama tanpa saling melukai. *** Namun, jauh di sudut kota, di dalam galeri seni tua milik Alvaro, Aurora datang dengan membawa informasi baru. “Dia melemah,” ujar Aurora sambil meletakkan foto Nayla bersama wanita tua di yayasan. Alvaro menatapnya. “Siapa dia?” “Teman ibunya. Dan dia menyerahkan surat yang menyebut lokasi penyimpanan dokumen asli Mahesa yang belum terbongkar.” Alvaro mengerutkan kening. “Kau yakin?” Aurora tersenyum miring. “Dengan dokumen itu... kita tak perlu lagi menyentuh Nayla. Kita cukup membakar tempat berdirinya Leonard.” Dan Alvaro menatap lukisan tua di dinding lukisan dirinya dan Nayla, sewaktu muda. “Kalau pagar berduri itu sudah berdiri... maka tugas kita adalah memastikan cinta mereka berdarah saat mencoba melewatinya.” *** Malam itu, setelah mereka menuliskan janji di kertas kosong, Nayla dan Leonard duduk bersisian di lantai kamar, membiarkan keheningan menjadi jembatan antarhati yang mulai terkikis rasa takut. Nayla menggenggam tangan Leonard. “Apakah menurutmu cinta bisa tetap hidup... meski dunia terus mencoba membunuhnya?” Leonard memandang wajah wanita itu. “Cinta tak pernah mati karena tekanan dari luar. Ia hanya mati... saat dua orang berhenti bertarung demi mempertahankannya.” Nayla mengangguk pelan. “Aku tidak akan berhenti.” Leonard tersenyum tipis, mencium keningnya. “Aku juga.” *** Tapi malam tidak berakhir dengan damai. Di ruang bawah, sistem keamanan rumah tiba-tiba berbunyi sensor gerak di halaman belakang menyala. Leonard segera berdiri, mengambil pistol kecil dari brankas di meja samping tempat tidur. Nayla mengikutinya dengan langkah waspada. Mereka turun bersama. Tapi saat Leonard membuka pintu ke halaman, tak ada siapa pun di sana. Yang tertinggal hanya amplop hitam, dilemparkan di bawah pohon zaitun kecil di tepi taman. Leonard membukanya. Di dalamnya hanya selembar foto lama dan sepotong kain renda. Nayla menatap foto itu sebuah gambar yang bahkan belum pernah ia lihat: ibunya mengenakan gaun pesta, berdiri di samping Mahesa dan Adrian. Tapi yang paling mengejutkan... Ibunya sedang mengandung. Dan Leonard langsung menyadari sesuatu yang lebih penting. Ia menunjuk bagian bawah foto: tanggal cetaknya. “Ini... enam bulan sebelum kau lahir.” Nayla mendekat, wajahnya membeku. “Kenapa ini dikirim sekarang?” tanya Leonard. Jawabannya datang dari tulisan tangan yang tertera di balik foto: “Dosa tidak pernah tertidur, hanya menunggu saat yang tepat untuk bangkit. Tanyakan pada ibumu... siapa ayah kandungmu yang sebenarnya.” *** Nayla hampir tak bisa berdiri. Matanya berkaca-kaca, dadanya berdebar keras. “Tidak mungkin...” Leonard menariknya ke pelukan. Tapi bahkan pelukan itu tak cukup hangat untuk menenangkan kebekuan yang mulai menyelimuti jiwanya. “Leo... kalau ini benar... aku bukan hanya anak dari sistem. Aku mungkin—” Leonard memotongnya. “Kau tetap wanita yang kupilih. Tak peduli darah siapa yang mengalir dalam tubuhmu.” Tapi dalam hatinya, Leonard tahu: jika yang ditulis di foto itu benar… maka garis darah antara Nayla dan Mahesa bisa lebih rumit dari yang mereka duga. *** Keesokan harinya, Nayla pergi sendiri ke rumah panti asuhan tempat ibunya dulu dibesarkan. Di sana, ia bertemu kembali dengan kepala biara tua yang mengenal ibunya sejak muda. “Apakah Ibu Diah pernah bercerita... tentang siapa ayahku yang sebenarnya?” tanya Nayla. Suster itu hanya menatapnya dengan sayu. “Dia menyimpan semuanya dalam satu kotak kayu kecil, dikunci dan tak pernah dibuka. Tapi kalau kau siap... kunci itu ada di tanganku.” Nayla menerima kunci itu. Jari-jarinya bergetar. Suster itu memegang tangannya erat. “Kadang kebenaran bisa menyakitkan, Nak. Tapi Tuhan tidak menyembunyikan kebenaran untuk menghukummu. Ia menyembunyikannya agar kau bisa cukup kuat... saat akhirnya menemukannya.” *** Malamnya, Nayla kembali ke rumah dengan kotak kayu di tangannya. Leonard menyambutnya di ruang kerja. Mereka membuka kotak itu bersama. Di dalamnya, selain surat-surat lama dan foto-foto ibunya yang muda, ada satu lembar dokumen tertua... akta kelahiran rahasia. Ditulis tangan. Nama ayah: Mahesa Putra Atmajaya. Nayla hampir pingsan. Leonard memeluknya, tapi tubuhnya sendiri terasa seperti batu. Ia tak bisa berkata-kata. Kalau benar Nayla adalah anak Mahesa, maka Nayla dan Leonard... adalah saudara tiri. *** Dan saat Nayla terisak dalam pelukan itu, Leonard hanya bisa menatap dinding kosong di depannya. Pagar berduri yang sebelumnya hanya berupa kecurigaan dan luka... kini berubah menjadi tembok maut yang bisa merobohkan segalanya. Cinta mereka bukan hanya terancam. Cinta mereka bisa jadi tidak seharusnya ada sejak awal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN