Part 6

970 Kata
"Seluruh gajiku bukan untukmu, tapi mama dan adikku!" ucapnya kala itu. Aku yang baru pertama kali dibentak olehnya yang berstatus suami, membuatku kalut dan tidak bisa berbuat apapun. Bagaimana bisa seorang suami mengatakan itu. "Puas kamu, Rani. Akhirnya kamu menuai apa yang ditanam," cibir Ibu mertua, mamanya suamiku. Kenapa aku bilang mencibir, karena aku tahu kalau wanita itu bermuka dua. "Ma, kurang apa aku selama ini? Katakan!" teriakku kehilangan kendali. Tepat pada saat itu, Mas Riko pulang. Dia mendengar dan melihatku membentak. "Rania, hentikan perkataanmu!" wajahnya merah padam dan teriakannya membuatku takut. Bisa-bisanya aku menikah dengan dia beberapa bulan ini, padahal tidak ada nilai plus sana sekali. "Apa yang kau lakukan?" matanya menatapku tajam, tapi aku tidak takut. "Sudah Mama katakan, ceraikan wanita ini!" ucap Mama penuh penekanan. Tapi aku biasa saja. Terlalu malas untuk menanggapi. Sekilas, Mas Riko melirikku. Lalu kembali menatap Mamanya. Dasar anak Mama. "Tidak! Aku tidak akan pernah menceraikan Rania, Ma,” ucapnya kemudian. Meskipun nada bicaranya sudah melemah aku tidak peduli. Intinya aku kau cerai kalau Mas Riko tetap saja seperti ini. Kalau tidak, aku bisa menggugatnya atau pergi meninggalkan rumah yang sudah tidak sehat ini. *** "Masuk saja, Pak." ucapku pada orang pabrik kayu. Sengaja aku memesan pintu yang bagus dan lebih mahal berkali-kali lipat dari yang pintu sebelumnya. Tapi sayangnya harus rusak dua hari yang lalu. Tepat ketika Mama dan Ica melihatku membawa makanan banyak, tapi tidak membaginya. Padahal kan aku sengaja, biar mereka ngiler karena aku sudah lelah. Semua kebutuhan rumah selama ini aku yang tanggung. Mama dan Ica pun aku belikan baju, tapi begitulah mereka. Tidak ada kata puas, apalagi bersyukur. Malah mengadukan aku yang tidak-tidak sama Mas Riko. Sebelumnya kupikir rengekan sayang dari sang Ibu untuk anaknya atau dari adik untuk kakaknya. Tapi ternyata tidak. Mereka memang serakah dan tidak ingin hasil Mas Riko aku ikut menikmati. Padahal aku juga kerja dan selalu uangku yang digunakan untuk keperluanku. "Di sini, Pak!" ucapku sambil melepaskan gorden yang menutupi kamar. "Wah, pintunya sudah rusak lagi ya, Bu?" mereka terlihat kaget ketika pintu yang baru terpasang satu bulan itu rusak kembali. "Begitulah, Pak kalau di pihak keluarga ada yang iri." Aku terkikik. "Owalah, padahal kan Mbak orangnya baik banget." "Beda penilaian, Pak. Padahal semua usaha sudah saya lakukan untuk membuat mereka berubah, tapi tetap saja. "Wah, kalau seperti itu berarti harus hati-hati ya, Mbak. Jangan sampai barang-barang berharga ikut hilang." Keduanya pun ikut tertawa kecil. "Kalau itu aman, Pak." Tentu saja akan, aku sudah membuat ruangan rahasia di kamar ini. Panjangnya hanya satu koma lima meter dan lebar satu meter. Dengan pintu tepat di belakang lemari kecil, tapi tertutupi sempurna. Mereka tidak pernah tahu ada ruangan kecil di sini. Meskipun ini rumah Mas Riko, tapi rumah ini memang baru ditempati tidak lama ketika aku datang. Jadi semua barang-barang yang harus diamankan sudah aman, termasuk baju mahalku dan perhiasan. Bahkan makanan. Sengaja aku membawanya ke ruangan kecil itu, tentu saja setelah mengunci pintu kamar. Untung saja ketika aku pasang pintu, kedua orang itu tidak ada di rumah. Katanya tadi pagi mau izin ke mall, padahal hampir tiap hari. *** "Rania!!" teriakan Mama kembali terdengar, mungkin dia kaget dengan pintu kamar yang tadi siang aku pesan dan kini sudah terpasang sempurna di tempat yang seharusnya. "Apa, Ma? Baru pulang jam segini?" aku menatapnya dan jam bergantian. Tepat ketika Mas Riko akan pulang, mereka juga baru pulang. Dasar menyebalkan. Kupikir awalnya sikap mereka itu karena aku yang tidak bisa mengurus mertua dan adik ipar, tapi ternyata tidak. Mereka yang kurang bersyukur dan tidak ingin menghargaiku, apalagi ketika Mas Riko memberikan nafkah. Mereka akan uring-uringan dan bergantian meminta uang, sampai uang itu mereka yang habiskan bukan aku. "Kenapa pintunya dipasang lagi?" matanya menatapku tajam, dia pikir mungkin aku akan takut. Sayangnya enggak. "Oh, ini, Ma. Kata Mas Riko takut ada pencuri yang masuk, jadi pasang saja.” Aku sengaja membawa nama Mas Riko, biar dia kesal tapi tidak bisa melakukan apapun dan sengaja menekan kata pencuri. "Jangan mengada-ada! Tidak mungkin anakku mengatakan itu, dia juga tahu kalau di rumah ini tidak ada pencuri," ucapnya geram. "Mas Riko hanya bilang takut, Ma." "Mustahil, Mbak! Mas Riko itu enggak mungkin pasang pintu lagi, Mama sudah menyuruhnya untuk melepas. Agar nanti selalu bisa memantau semuanya," sambung Ica yang baru keluar dari kamar mandi. Terserah, sana tanya kakakmu itu. Tanpa menunggu basa-basi, aku segera menutup pintu dengan kencang. Tanda kalau pintu ini tidak akan cepat rusak meskipun sering dibanting. Yah, kecuali di gergaji mesin seperti waktu itu. Bisa-bisanya gadis kecil itu mengeluarkan ide yang membuatku sangat marah. "Dasar mantu enggak sopan!" "Mama! Kenapa lagi?" tanya Mas Riko, bisa kudengar dia masuk tanpa mengucapkan salam. Astagfirullah, sepertiku aku memang sudah salah dalam memilih pasangan. "Ini, Riko, hiks," jawabnya merajuk. Mereka berdua tiba-tiba terisak. Oh, sepertinya mereka ingin terus berakting pura-pura lemah, seolah sudah diperdaya oleh orang cantik ini. Baiklah, jangan salahkan aku jika aktingku lebih bagus daripada kalian. Sepertinya sangat disayangkan jika aku tiba-tiba menggugat cerai, tanpa membuat kalian membayar dan merasakan berada di posisiku. Sudah pernah aku katakan kalau mama dan Ica selalu mencari masalah denganku, tapi Mas Riko tidak peduli. Dia bilang tetap saja aku yang harus mengalah. Jadi sekarang, aku hanya bisa mengandalkan kemampuanku. "Mas," ucapku lirih, tentu saja dengan air mata buaya yang membanjiri wajahku. "Kenapa? Apa yang kamu lakukan sama Ibu?" ucapnya emosi dengan mata merah, tapi tidak lama, dia pun terdiam. "Sudahlah, Ma. Aku tidak ingin kalian ribut terus." Mas Riko menghela napas berat ketika melihat wajahku berlinang air mata. "Ica, antar Mama ke kamarnya!" titahnya. Mama mertuaku yang tidak ingin pergi itu meraung-raung, tapi tidak dihiraukan oleh Mas Riko. "Mama enggak salah, Riko!" "Ini hanya kesalahpahaman!" Aku hanya tersenyum menanggapi, aku menang. Makanya jadi orang itu harus tahu diri, dong. Aku kan juga punya harga diri yang harus dipertahankan. Mulai sekarang, mari bersaing secara sehat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN