Bab 76. Nyawa Yang Tergadai

1045 Kata

Mobil van hitam itu meluncur membelah kegelapan jalan tol pinggiran kota. Di kursi belakang, Letizia menyandarkan kepalanya ke jendela yang dingin. Di luar, lampu-lampu jalan berkelebat seperti garis-garis emas yang kabur, sama kaburnya dengan perasaannya saat ini. Tangannya tak henti-henti mengusap perutnya yang membuncit di balik gaunnya. Ada rasa nyeri yang aneh di ulu hatinya—bukan mual karena kehamilan, tapi sebuah firasat yang terus berbisik bahwa ada yang salah. "Nona, Anda terlihat sangat tegang. Minumlah ini, ini teh chamomile hangat untuk menenangkan saraf Anda," ucap pelayan pria yang tadi menjemputnya tadi. Letizia menerima gelas plastik itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan kuning pucat di dalamnya, lalu menatap pelayan itu. “Berapa lama lagi kita sampai, maksudku,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN