Setelah kepergian Serena, udara di beranda mendadak terasa lebih berat. Letizia memutar kursi rodanya pelan, menyusuri koridor panjang kediaman Atmajaya yang selama ini ia anggap sebagai istana perlindungan. Matanya kini menatap lebih jeli. Ia memperhatikan pilar-pilar marmer yang kokoh, namun dingin. Di sudut-sudut ruangan, ada pria-pria berjas hitam yang berdiri kaku dengan alat komunikasi di telinga. Dulu Letizia menganggap mereka satpam biasa, tapi kini tatapan tajam mereka terasa seperti mata elang yang siap menerkam. Rumah ini hangat karena keberadaan Serena, namun ada kesan kejam yang merambat di sela-sela kemewahannya. Semuanya terlalu terjaga, terlalu tertutup, seolah setiap inci ubinnya menyimpan rahasia yang terkubur dalam-dalam. “Siapa kau sebenarnya, Jourell?” batinnya berb

