Suara pintu kamar Letizia yang tertutup rapat masih terngiang di telinga Jourell. Ia berdiri mematung di koridor, menatap telapak tangannya yang mulai mengering karena darah istrinya. Bau amis itu bercampur dengan parfum vanila Letizia, menciptakan aroma yang akan menghantuinya seumur hidup. Jourell berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah yang berat. Begitu masuk, ia membanting pintu dan langsung menuju meja bar. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, menenggaknya dalam sekali teguk hingga tenggorokannya terasa terbakar. Namun, rasa panas itu belum bisa mengalahkan perih di dadanya. Ia menyambar ponselnya. Laporan dari anak buahnya masih sama, Nihil. "Albert tidak mungkin menguap begitu saja!" geram Jourell pada ponselnya. "Cari di setiap lubang tikus di kota ini! Periksa sem

