44. Gemerlap Pentas Seni

2598 Kata

Malam semakin larut. Hening tak bergeming semenjak tamu istimewa pergi. Restoran tutup, tiada lampu yang menyala. Kendaraan berlalu-lalang begitu ramainya, tetap saja tidak mengubah keheningan malam. Di sini, teras restoran mereka duduk berdua. Memandang jalan raya dan kendaraan yang melintas tiada habisnya. Trotoar kerap kali dilewati pejalan kaki yang mungkin sedang putus asa. Wajah mereka lesu, langkahnya gontai tak berdaya hanya untuk mendongak menatap cahaya lampu jalan. Sama seperti Panji dan Citra sekarang. Ekspresi yang lesu, tetapi bukan karena putus asa. Masih enggan pulang. Makan tak selera. Mandi pun tidak. Bibir kerap kali dicondongkan kemudian berdecak. Seperti itu terus sampai pukul setengah tujuh malam. Hingga tidak sengaja handphone Citra berbunyi menandakan panggilin da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN