Happy reading.
Typo koreksi.
___
“Axel kamu harus bisa mengatasi rasa trauma itu, saya tidak meminta kamu melupakan semua hal yang sudah terjadi dimasa lalu kamu. Tapi … bukankah kamu sendiri tahu semua bukan salah kamu. Kamu tidak bersalah dan itulah faktanya. Kenapa? Kenapa kamu masih menyalahkan diri sendiri.”
Axell Wiradhana terdiam dengan tubuh kaku, sesi terapi selama dua jam yang dilakukan dokter Selly kepadanya sudah selesai. Kini mereka sedang duduk berhadapan dengan Bara yang juga sudah duduk di sebelahnya menatap lelaki tampan itu iba.
“Saya ingin kamu sembuh. Jika, keluarga kamu mengetahuinya mereka juga pasti menginginkan kesembuhan untuk kamu Axel. Tekad, kamu harus punya tekad kuat untuk sembuh. Axel, PTSD gangguan stres pascatrauma yang kamu alami selama ini bisa kita sembuhkan. Asalkan kamu mau bekerja sama dengan saya. Saya akan membantu kamu, Bara sahabat kamu juga akan membantu kamu dalam hal ini. Axel kita semua tahu tidak ada yang menginginkan terbayang-bayang dengan masa lalu yang tidak baik. Tapi, masa lalu juga ada karena mereka bagian dari hidup kita. Tugas kamu cobalah berteman dengannya, jangan lagi mendoktrin diri kamulah yang bersalah sedangkan kamu tahu itu semua terjadi karena apa.” papar Selly panjang lebar.
Semua orang terdiam menunggu reaksi Axel yang nyatanya tidak merespons apapun, lelaki itu hanya diam dengan tatapan kosong. Selly mendesah menyentuh lengan pasiennya membuat Axel tersentak. Matanya mngerjap dan memandang Selly seperti orang linglung.
“Semua pasti baik-baik saja, saya ingin kamu sehat Axel. Kamu maukan bekerjasama dengan saya. Kamu harus yakin dan mau berusaha lebih keras lagi. Oke.” ucapnya pelan.
Axel kembali diam, menatap Selly yang usianya di atasnya lekat. Tidak tahu harus merespons bagaimana Axel hanya mengangguk pelan. Pikirannya msaih bercabang, semua masa lalu dan rasa tersiksa yang ia rasakan selama tujuh tahun bukanlah hal mudah yang bisa dilupakan. Bara maupun dokter Selly tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.
Avril, aku tidak ingin melupakan kamu.
Axel mencintai wanita itu, bahkan namanya masih ada di hati Axel seiring dengan rasa sakit yang ia tahan sendirian selama tujuh tahun belakangan.
Selly tersenyum ketika melihat anggukan kepala pasiennya, wanita itu juga bertekad akan membantu Axel sembuh dan terbebas dari masa traumanya.
___
Anggun tidak langsung pulang kerumah setelah melangkahkan kaki keluar dari rumah keluarga Wiradhana. Gadis itu menghabiskan waktu bersma kedua sahabatnya demi menghilangkan rasa kesal dan kecewanya tidak bertemu om Axelnya. Mereka duduk di salah satu resto, banyak paper belanjaan yang mereka bawa, tidak lebih tepatnya itu adalah barang-barang belanja Joana dan Sella darinya. Sesuai dengan perjanjian taruhan mereka di kampus Anggun harus mentraktir dua gadis-gadis menyebalkan itu karena kalah. Disinilah merka usai puas berbelanja kini saatnya Anggun dkk untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
“Thank you, ya nyet. Besok-besok lo boleh lah ngajakin kita taruhan lagi. Puas banget gue nggak keluarin duit buat beli tas yang gue suka.” ujar Joana tersenyum menyebalkan. Gadis itu tampaknya benar-benar senang mendapatkan apa yang dia mau.
“Nggun lo beneran udah tunangan, kok kita-kita nggak lo undang?” tanya Sella penasaran. Apalagi melihat Anggun mau saja mengeluarkan uang jatah jajannya untuk mentraktir mereka berdua.
“Bukannya kalian nggak percaya. Terus buat apa gue jawab.” sahutnya malas.
“Yaelah, baperan banget sih.” ejek Joana yang tidak tahu kalau mood Anggun sebenarnya sedang buruk.
Anggun memeriksa ponselnya dan mendesah ketika tidak mendapatkan notifikasi apapun selain dari Kiana yang menanyakan keberadaannya.
“Guys, kita ke club yuk.”
Uhuk.
Sella membantu Joana yang tersedak makanannya, Anggun memutar bola matanya seraya mendengus.
“Lo … ekhm lo kesambet apaan nyet. Ke club? Maksudnya lo ngajak kita clubbing. Wah parah nih anak beneran kesambet setan.” Joana menggeleng tidak percaya, bibirnya terkatup saat melihat wajah lesu dan tidak bersemangat sahabatnya itu.
“Lo lagi ada masalah? Cerita aja sama kita Nggun. Lo kan tahu kita nggak bisa nebak apa yang lo lagi alamin. Dan ke club itu bukan saran dan solusi baik kalau lo lagi ada masalah.” jelas Joana tampak dewasa padhal gadis itu amat menyebalkan dimata Anggun.
“Huh, gue kesal sama o--”
Drrt drrt drrt.
Ucapan Anggun tertunda ketika dengan gerakan secepat kilat gadis itu mengambil ponselnya, wajahnya berubah berbinar ketika melihat nama yang tertera di layar. Gadis itu tidak langsung mengangkat telepon itu, raut kesal mengejeknya membuatnya ingin mengerjai sosok di ujung sana.
Tak lama telepon pun mati berganti dengan notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya.
Om Axelnya.
Saya minta maaf Anggun.
Kedua sudut bibir Anggun berkedut ingin tertarik saat mendapat pesan itu. Tanpa gadis itu sadari kedua sahabatnya memandang bingung dirinya yang mood nya sering berubah-ubah.
Jemput aku kalau Om benar-benar mau minta maaf.
(send)
Anggun membalas dengan cepat. Tak lama ponselnya kembali bergetar, senyum jahilnya luntur ketika mendapat respons si pengirim pesan.
Om Axelnya
Saya sedang di luar kota, maaf Anggun.
“Ish, nyebelin banget.” gerutunya membanting ponselnya keras keatas meja kembali badmood. Tatapan marah Anggun membuat Joana dan Sella menelan ludah gugup.
“fix, gue mau ke club.”
___
Ramainya pengunjung dan lampu yang remang serta suara musik keras membuat siapa saja sadar ini ada dimana. Ya. Anggun akhirnya berhasil memaksa kedua sahabatnya untuk enemani gadis itu benar-benar pergi ke club malam. Bahkan Anggun juga membelikan mereka baju ganti saat di mall tadi.
“Mau pesan apa?” tanya seorang barista tampan dengan tato di lengan juga lehernya.
Anggun bersidekap menilai deretan botol pajangan yang terpampang di lemari kaca belakang tubuh kekar barista tampan itu.
“Aku mau yang enak,” ujarnya entah polos entah memang bodoh soal minuman berakohol tersebut, sang barista terkekeh pelan menumpukkan tangannya di pinggiran meja dengn tubuh condong ke depan denagn raut geli dan menhan tawa.
“Apa kamu baru pertama kali kesini cantik?” Anggun mengangguk polos berhasil mengundang tawa renyah sang barista terdengar.
“Oke.” balasnya lalu berbalik membuatkan sesuatu untuk ketiga gadiis manis di depannya tadi.
“Gila ganteng banget cowok tadi. Tato nya bikin jantung gue deg-degan.” bisik Joana hebot di telinga Anggun. Di balas sorot mata bosan. Anggun melirik sekitar merasa tertarik dengan orang-orang yang bergoyang di bawah dance floor.
“Turun yuk.” kening sahabat-sahabatnya terangkat bingung. Melihat arah mata Anggun serentak mereka menggeleng keras bergidik melihat orang-orang yang berdesakan di bawah sana.
“Ini pesanannya.” seru barista bernama Jack tersebut, Anggun menyebat cairan berwarna biru cantik itu sekali teguk membuat Jack dan kedua sahabatnya melongo tidak percaya.
“Wah gila. Ini anak benar-benar gila.” gumam Joana masih dengan raut syoknya.
Mereka hanya bisa menatap Anggun dalam keterkejutan di tambah gadis itu sudah pergi dengan tubuh sempoyongan ke lantai dansa.
“Sel, cepat tarik Anggun!” pekik Joana heboh, Sella menggeleng tidak berani, Jack tersenyum penuh arti ketika menangkap sosok bertubuh kekar berjalan menghampiri teman dua gadis yamg sedanh di goda para hidung belang dibawah sana dan tertawa ketika suara teriakan sakit terdengar menyusul.
“AAAARRRRGGGHHH.”
Deg.
Tubuh Joana dan Sella terpaku dengan mata melotot keduanya berdiri melihat apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka.
“Anggun.” bisik keduanya bersamaan dengan saling bertukar pandang.
___
Tbc>>>