Happy reading.
Typo koreksi.
___
Sampai di rumah Axel segera melepas jas miliknya usai bertemu klien di kafe beberapa saat lalu, beruntung klien yang bekerjasama dengan perusahaannya tidak komplain atas keterlambatannya tadi.
Axel lelaki tampan itu berpapasan dengan Bi Nur salah satu asisten di rumah keluarganya saat akan menaiki tangga lantai dua.
"Sore Mas."
"Sore, Bi." sahutnya sopan meski wajah lelahnya tidak bisa ia sembunyikan.
"Mas Axel, perlu sesuatu?" Bi Nur bertanya ramah.
Axel menggeleng. "Tidak Bi. Mama dimana Bi kok nggak kelihatan?"
"Oh, itu Mas tadi Ibu pamit pergi sebentar. Katanya ada janji sama teman." Lelaki itu manggut-manggut mengerti membalas.
"Nanti tolong panggil saya kalau sudah jam makan malam ya Bi. Saya mau istirahat sebentar."
Mengangguk. "Baik, Mas." balas Bi Nur yang menatap punggung anak majikannya yang kembali melanjutkan langkahnya.
Axel sudah berada di dalam kamar, melempar jasnya sembarang ke atas tempat tidur lelaki itu segera membanting tubuhnya ke kasur penat. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang sulit di jelaskan, ia menggeram saat mengingat kejadian tadi siang.
Semoga aku tidak bertemu gadis itu lagi. Gerutunya dalam hati.
Axel baru tahu kalau gadis itu adalah adik Fahri teman sekolah menengah pertamanya dulu. Setahu Axel adik Fahri hanya Gadis, sebab saat kenaikan kelas dua Axel harus pindah sekolah karena pekerjaan orangtuanya. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 nya Axel baru kembali dan tinggal bersama kedua orangtuanya. Lelaki itu sudah lama tidak menghubungi Fahri, dan tadi Axel cukup terkejut bertemu Albert ayah Fahri.
Kelamaan mengenang tentang pertemanannya dengan Fahri membuat Axel tertidur tanpa sadar. Lelaki itu bahkan lupa mengganti pakaiannya karena terlalu lelah.
Dilain tempat seorang gadis baru selesai mandi melangkah riang menuruni tangga dan bertemu kedua orangtuanya dan satu wanita paruh baya cantik lainnya di ruang tamu.
"Nah itu dia, kenalin Mbak ini Anggun putri bungsu kami."
"Ya ampun cantik sekali. Halo, Sayang."
Anggun mengangguk malu ketika di puji oleh beliau, gadis itu menyalami tamu orangtuanya dengan sopan.
"Halo Tan." sapa Anggun pelan.
"Ya ampun sopan sekali. Anggun sudah punya pacar Nak?"
"Dia masih kuliah Mbak." potong Kiana menjawab cepat saat melihat mulut putrinya hendak terbuka. Anggun mengerucut, mengambil duduk di samping ayahnya yang terkekeh melihat ekspresi putrinya.
"Ya ampun, si Mbak. Aku yakin Anggun banyak yang naksir di kampusnya. Ya kan Nak. Kamu cantik banget soalnya."
"Terima kasih, Tante." balasnya lemah lembut membuat Kiana memutar bola matanya sedangkan Maya tersenyum senang menatap gadis cantik itu.
"Oh iya Dika sibuk sekali ya. Sampai belum sempat datang menemui aku. Mungkin kalau kami tidak bertemu Axel tadi siang. Pasti aku nggak tahu kalau kalian sudah di Indonesia lagi." ucap Albert, membuat alis Maya terangkat.
Mendengar nama Axel di sebut wajah Anggun terlihat terkejut dan tersipu, tatapannya beralih pada wanita paruh baya yang sama terkejut dengannya.
"Kamu ketemu anak aku?" Di balas gumaman pria paruh baya di depannya.
"Kapan? Dimana?" cercanya lanjut.
Albert menggaruk lehernya pelan, melirik Kiana istrinya dan Anggun bergantian sekilas.
"Ah! Begini Maya sebenarnya ...." Albert mulai bercerita awal ia bertemu Axel putra Maya saat menjemput Anggun yang membuat masalah.
"Hahaha ya ampun. Tapi Anggun cantik tidak apa-apa kan Nak. Maksud Tante nggak ada yang terluka. Kamu harus hati-hati ya Sayang." Respons Maya setelah mendengar penuturan sahabat suaminya tersebut.
"I-iya Tante." sahutnya tergagap saat sadar kalau sosok di depannya ternyata orangtua om Axel.
"Maafin Anggun ya Mbak. Sudah merepotkan Axel tadi siang."
"Ya ampun Kiana tidak apa-apa."
Keempatnya terjebak obrolan seru, bahkan Maya tidak segan-segan menceritakan masalahnya mengenai Axel yang belum juga menikah.
"Kamu tahu sendiri Mbak. Aku ini sudah tua, Mas Dika juga. Kami cuma mau melihat Axel menemukan kebahagiaannya. Hidup berumah tangga dan memiliki putra-putri yang cantik dan ganteng. Masa aku harus tunggu sampai umur Axel lima puluh tahun sih Mbak." curhat beliau di balas angguk-anggukan kepala semua orang.
"Mungkin Axel belum menemukan perempuan yang tepat buat dia saja Mbak."
"Aduh ... Mbak Kiana. Max adiknya saja sudah menikah dan punya anak. Masa Axel nggak iri melihat kehidupan adiknya. Punya istri cantik dan anak-anak yang lucu menggemaskan. Mbak aku tuh capek sudah kenalin Axel sama anak-anak kenalan aku selalu saja anak itu tolak. Banyak saja alasannya, sampai-sampai aku mikir kalau Axel itu nggak tertarik sama perempuan. Ya Tuhan."
Semua orang tergelak terdiam mendengarnya, raut lelah Maya membuat mereka tidak enak. Karena mereka tidak tahu bagaimana sifat Axel sebenarnya. Dulu ketika Fahri dan Axel satu sekolah, mereka hanya berteman layaknya anak laki-laki lainnya. Tidak ada hal mencurigakan sampai-sampai Maya bisa berpikiran kalau putranya itu penyuka sesama jenis.
Tatapan Maya beralih pada Anggun terlihat menganga tapi binar antusias tampak jelas di wajah cantik gadis itu saat mendengar ceritanya.
"Anggun."
Tersentak. "Ah, Iya Tan."
"Kamu suka tidak sama anak Tante."
"Hah."
Blush.
Pipi gadis itu merona merah mendengar pertanyaan tiba-tiba ibu dari om Axelnya. Gadis itu cepat-cepat merunduk malu mengalihkan tatapannya pada Maya yang kini terkekeh melihatnya dengan senyum penuh arti. Di tempatnya Kiana dan Albert saling beradu pandang melihat Maya dengan jantung dag dig dug, apalagi tatapan Maya seperti suka dan tertarik pada putri mereka.
"Maya jangan bilang kamu--"
"Mbak Kiana, Mas Albert. Apa aku boleh minta Anggun jadi menantuku?"
Deg.
Ketiga orang di depan Maya membelalakkan matanya lebar. Wajah Anggun semakin merah padam tidak bisa di kondisikan, ia melirik ayah dan ibunya dengan gerakan kaku. Anggun bisa melihat Kiana menggeleng pelan ketika bersitatap dengan dirinya. Dadanya yang bergemuruh beralih menatap wanita paruh baya yang tengah memandangnya penuh harap.
Anggun tahu Daddy dan Mommynya pasti tidak akan mengijinkannya menikah saat ini, apalagi Anggun masih kuliah. Pendidikannya belum selesai, terlebih ada Gadis Anjani Dimitri kakak perempuannya yang juga belum menikah. Tentu saja kedua orangtuanya pasti tidak akan mengiyakan permintaan Tante Maya barusan. Mendadak hati Anggun merasa berkecil hati, gadis itu tidak bisa memungkiri jika dirinya senang ketika mendengar permintaan beliau kepada kedua orangtuanya yang menginginkannya menjadi menantu. Tapi melihat respons lama ayah dan ibunya membuat hatinya mendadak tidak bersemangat.
"Maya kami--"
"Ayolah Mbak Mas. Kita biarin anak kita kenalan dulu. Kalau jodoh kita bisa biarin mereka berlanjut. Aku stress dan khawatir sama anak aku itu. Nah, Anggun mau kan? Anggun mau kan jadi menantu Tante?"
Anggun menelan ludahnya gugup saat Maya menatap dirinya menunggu, gadis itu memilin tangannya bingung. Tatapan mendelik Kiana membuat tangannya berkeringat dingin. Anggun menarik napasnya panjang sebelum ucapan yang gadis itu lontarkan dapat membuat senyum lebar Maya tercetak jelas berbanding terbalik dengan Kiana yang melotot kaget dan Albert hanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari putri kesayangannya.
"Iya Tante."
Benar atau tidaknya keputusan Anggun Qaisha Dimitri, gadis berparas cantik itu rupanya tidak bisa memungkiri jika dirinya telah terpikat oleh sosok Axell Wiradhana pria yang bahkan baru satu kali ia temui.
Om Axel. Batinnya dalam hati.
___
Tbc>>