Anggun menatap takut kedalam interior deluxe kamar hotel yang benar-benar ada di depan matanya saat ini, kepalanya menoleh memandang punggung Axel yang berada di dekat pintu kamar mandi seakan tengah mengecek kondisi kamar tersebut untuknya.
“Semua baik. Kamu istirahat saja dulu disini. Besok pagi baru pulang.” seru lelaki tampan itu membuat Anggun langsung bergidik parno.
“Tunggu dulu! Om beneran ninggalin aku sendirian di sini. Kalau gitu aku ikut pulang aja. Aku nggak mau disini sendirian Om.” mendengar nada merengek Anggun, Axel mendesah lelah. Ia juga butuh istirahat karena nanti siang ia ada rapat penting kerjasama dengan kliennya. Tapi, sekarang ia justru berada disini bersama Anggun.
Huh.
“Anggun kamu sudah besar. Apa yang kamu takutkan?” mata Anggun terbelalak seperkian detik.
“Om nggak tahu ya. Bahkan kejahatan bisa aja terjadi di dalam kamar hotel sekalipun.” ucapnya penuh drama.
Axel memuutar bola matanya. “Disini aman Anggun. Saya jamin itu. Kamu itu terlalu banyak menonton film.”
“Tapi, aku baru percaya kalau tempat ini aman. Asal Om--”
“Asal aku apa?” seloroh potong Axel dengan alis terangkat satu.
“Kalau Om juga tidur disini sama aku.”
Hah.
Gantia kini Axel yang membelalakkan matanya lebar, lelaki itu menatap calon istrinya dengan raut kaget tidak percaya.
Menggeleng kepala heran. “Kamu gila. Saya tidak bisa Anggun. Saya harus pulang.” balasnya terdengar menggeram.
“Kalau begitu biarin aku tidur di rumah Om juga. Anggun nggak mau disini, please Om.” helaan napas gusar terdengar. Axel memijat pangkal hidungnya sedikit kuat, ia memandang wajah melas gadis yang selalu membuatnya repot dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sebelum akhirnya lelaki mapan itu melangkahkan kakinya kemudian duduk di atas sofa panjang kamar hotel tersebut.
Axel memilih diam membiarkan suasana keduanya di selimuti keheningan. Anggun masih berdiri di tempatnya memandang lelaki dewasa di hadapannya dengan binar penuh harap.
"Om--" panggil pelan sedikit takut sebenarnya.
Axel mendongak melihat wajah cantik gadis itu yang masih terlihat sayu setelah mabuk tadi.
"Baiklah. Kamu bersihkan diri lalu tidur. Saya akan tidur disini."
"Yey! Benar Om?" pekiknya senang di balas anggukan pasrah lelaki itu. Anggun tersenyum lebar melangkah mendekati Axel dengan gerakan cepat membungkuk dan mengecup pipi calon suaminya sekilas sebelum berlari kearah kamar mandi dengan wajah lebih ceria.
Cup.
Mulut Axel menganga, memegang pipinya dan mengusapnya kasar. Lagi lagi Anggun bertindak seenaknya. Dan Axel tidak suka.
Axel melepas kemejanya menyisahkan kaus berwarna putih polos di dalamnya yang melekat pada tubuh kekarnya. Lelaki itu bersandar menutup matanya, Axel merasa sangat lelah hari ini, bukan hanya fisik melainkan hatinya juga. Lelaki kembali mengingat pembicaraan dengan dokter Selly beberapa jam lalu.
Bagaimana caranya melupakan kamu, Avril. Pikirnya mendesah berat membuat lelaki itu tanpa sadar akhirnya terlelap dengan posisi duduk di sofa.
Pintu kamar mandi terbuka sekitar lima belas menit kemudian, Anggun keluar dengan rambut setengah basah dan hanya memakai bathrobe hotel. Gadis itu terpaku diambang pintu ketika menatap wajah damai Axel yang tertidur di sofa. Gadis itu meringis melihat posisi tidur calonnya itu.
"Om Axel." gumamnya pelan. Ragu ingin mendekat. Anggun justru terdiam seraya merapatkan tali lilitan bathrobe di pinggangnya dengan gugup.
Tak lama Anggun berjalan kearah sofa duduk di samping Axel, menikmati bagaimana pahatan sempurna wajah tampan lelaki itu sekarang. Belum puas memandang, gadis itu memiringkan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya ke sofa hati-hati. Deru napas Axel terdengar beraturan di telinga Anggun. Gadis itu menatapnya tanpa kedip.
"Ganteng." bisiknya menarik kedua sudut bibirnya keatas melengkung lebar.
Lalu bibir Anggun mengerucut ketika mengingat alasan ia sampai nekat mengajak kedua sahabatnya ke sebuah club yang sebenarnya juga pertama kali baginya. Anggun masih ingin marah pada sosok di sampingnya saat ini, mengingat lagi bagaimana Axel dengan teganya membatalkan janji. Lalu detik berikutnya ia merasa kecewa karena rupanya Axel juga berada di tempat itu dan tidak sedang keluar kota.
Apa Om sering ketempat seperti itu?.
Kenapa Om bohong sama aku?.
Apa Om juga pernah mabuk?.
Begitu banyak pikiran yang bergelayut di otaknya, Axel ada di dekatnya tapi Anggun merasa sulit mengerti lelaki di depannya.
Terkadang, sikap Axel baik seperti ketika mereka berbincang di gazebo rumahnya. Lalu berubah dingin, Anggun merasa seperti ada tembok besar yang menghalangi dirinya untuk masuk dan mengenal sosok calon suaminya. Anggun akui, Axel pasti datang kerumahnya dengan orangtua lelaki itu dengan sangat terpaksa. Anggun juga tidak melihat binar senang atau ketertarikan dimata Axel selama acara keluarga mereka malam itu.
"Apa Om nggak mau menikah dengan aku?" ucapnya pelan.
"Ya."
Deg.
Anggun terperanjat mundur ketika kedua mata Axel terbuka, kepala lelaki itu menoleh kesamping sorot mata dingin menusuk membuat Anggun seperti tersengat. Gadis itu dia tidak berkutik, ketika Axel memandang dirinya dengan tatapan yang sulit di jalaskan.
"Ah .... mmm maaf Om. Aku ganggu tidur Om." gagapnya tersenyum kaku.
"..." tidak ada balasan membuat Anggun menelan ludah gugup.
"Anu ... aku ke tempat tidur dulu Om." ucapnya cepat segera bangkit meremas tepi bathrobe yang ia kenakan erat.
"Anggun."
"Ya."
"Jangan berharap."
Alis Anggun mengkerut mendengar. Kini Axel sudah duduk tegap, mendongak hingga matanya yang memiliki sorot mata tajam dan dingin tepat menatap manik indah Anggun dalam diam.
"Mak-- maksud Om apa?"
"Jangan berharap dengan saya atau pun hubungan kita ini."
"Apa?" cicitnya pelan.
"Saya sudah bilang. Saya bukan pria baik. Kamu bisa mendapatkan seseorang yang nanti akan tulus mencintai dan menyayangi kamu. Tapi orang itu bukan SAYA." papar Axel menekankan kata saya.
"Kamu--"
"Apa aku nggak boleh berharap sedikitpun sama Om?" tanya Anggun dengan suara yang bergetar, kedua matanya memanas memandang wajah Axel yang tidak berekpresi apapun di depannya dengan perasaan kecewa.
"Jangan."
"Kenapa! Apa Om sudah memiliki kekasih?" jeritnya membuat atmosfer ruangan kamar hotel mendadak tidak nyaman bagi keduanya.
"Kenapa Om nggak jawab?"
"Apa Om sudah memiliki kekasih? JAWAB ANGGUN OM."
Axel berdiri, hingga kini ia berdiri berhadapan dengan Anggun yang sedang menatap marah dan kecewa kearahnya.
"Ya. Saya sudah memiliki kekasih."
Jleb.
Hati Anggun berdesir, sebulir air mata menetes membasahi pipi gadis itu bersamaan dengan rasa sakit yang Anggun rasakan.
"Bohong."
"Om pasti bohong. Kalau Om sudah punya kekasih. Kenapa Om--" ia tersendat menatap nanar sosok lelaki yang sudah mencuri hatinya sejak pertama mereka bertemu. "Kenapa ... Om mau menerima perjodohan ini?"
"Saya hanya menuruti keinginan mama."
"Apa?" Matanya memicing tidak percaya.
"Semua hanya karena mama."
Kepala Anggun terangguk mengerti. Gadis itu maju dua langkah hingga kini ia dan Axel berdiri dengan yang sangat dekat, lelaki itu bisa mendengar deru napas memburu Anggun dari tempatnya berdiri.
"Aku nggak akan menyerah." ucapnya menjeda tangannya diam-diam membuka tali bathrobe yang dikenakannya dengan sorot mata tidak terima.
"Kalau Om bilang aku nggak pantas dapatin Om karena Om bukan pria baik-baik. Buat aku jadi gadis yang tidak baik-baik. Impas kan."
Sret.
Mata Axel melotot lebar ketika Anggun membuka bathrobe yang dikenakannya tiba--tiba lebar hingga lelaki dewasa seperti Axel bisa melihat tubuh Anggun yang hanya mengenakan pakaian dalam melekat pada tubuh indahnya. Axel menggeram dalam hati, ia mendongak menatap wajah Anggun yang matanya tertutup rapat saat ini, bahkan ia bisa melihat bagaimana tubuh gadis itu menahan napas dengan tubuh gemetaran. Helaan napas berat terdengar dari lelaki itu, tangannya terangkat mencengkeram bahu Anggun lembut kemudian memutar tubuh gadis itu untuk membelakanginya.
"Jangan memperlihatkan tubuh kamu pada laki-laki yang bahkan tidak mencintai kamu Anggun. Istirahatlah." bisik Axel dengan nada datar.
Dua detik berikutnya Anggun bisa mendengar suara pintu dibuka dan bunyi klik menyusul setelahnya.
Bruk.
Lutut Anggun meluruh lemas, gadis itu memeluk tubuh gemetarnya erat. Bahu Anggun terguncang gadis itu menangis entah karena apa. Apa ia menyesali perbuatannya atau karena perkataan Axel yang seakan mengatakan jika lelaki itu tidak mencintainya.
"Hiks aku cinta sama Om." lirihnya membiarkan dirinya tetap terduduk diatas lantai kamar hotel sendirian.
Diluar pintu Axel mengusap wajahnya kasar, bayangan putihnya tubuh Anggun bagaimana merahnya wajah gadis itu membuat jiwa lelaki Axel nyaris kehilangan akal.
Sial. Umpatnya kesal.
____
TBC>>>