Eps 3

1172 Kata
Inggris, London Tahun 2021 Liliana berjalan dengan gusar menuju ke rumahnya. Hari ini adalah hari tersial bagi gadis berambut coklat itu. Pacarnya ketahuan selingkuh dengan wanita lain yang lebih kaya darinya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai pelayan restoran karena terlambat masuk, dan kini sepatu kets miliknya rusak karena terlalu sering dipakai. Dengan kesal ia menendang kerikil yang berserakan di jalanan. Mulutnya tidak pernah berhenti menggerutu selama perjalanan pulang ke rumah, sampai pada akhirnya kedua mata gadis itu menangkap sesuatu yang menarik yang tertempel di tiang listrik. Liliana menghampiri selebaran yang tertempel itu. Sebuah iklan lowongan pekerjaan dengan gaji fantastis, bahkan gaji perbulannya hampir sama dengan lima bulan gajinya sebagai waiters di restoran. Dengan perasaan senang, Liliana melepas selebaran yang tertempel dengan hati-hati, melipatnya kecil dan memasukkannya ke dalam saku rok. Mendung di hati dan otaknya telah sirna setelah menemukan selebaran yang kini terasa bagaikan kertas lotre untuknya. "Semoga saja masih berlaku," lirihnya lalu kembali berjalan di jalan setapak yang sempit menuju ke kediaman keluarga Brown, rumahnya. Gadis yang kini mengenakan kaus hitam polos yang dipadukan rok berwarna senada tersebut sesekali bersenandung selama perjalanan. Setelah sampai di rumah ia dihadapkan oleh kekacauan seperti biasanya. Rumahnya kini dalam keadaan seperti kapal pecah. Liliana mengembuskan napas berat, ia berjalan dan mengambil karet gelang yang ada di atas meja yang jaraknya tak jauh darinya, menguncir rambut dengan karet itu. Ia mulai memunguti barang-barang yang sekiranya sudah tidak terpakai lalu memasukkannya ke dalam tong sampah. Beberapa pakaian dengan bau tidak sedap berserakan di lantai dan sofa. Dengan cekatan ia mengambilnya dan segera menuju ke dapur untuk memasukkan baju-baju kotor itu ke keranjang, mengantre untuk dicuci. Liliana meraih sapu yang tertempel di dinding. Kembali ke ruang tamu dan mulai menyapu lantai, ia juga mengelap meja serta beberapa figura kecil yang sengaja di letakkan di atas meja sudut ruang tamu. Tak lama, adik bungsunya keluar dari kamar dengan kondisi berantakan. Rambutnya sudah mirip dengan rambut singa jantan, baju yang dikenakan olehnya terlihat kusut. Gadis yang baru menginjak usia lima belas tahun itu mengusak kedua matanya lalu mengerjapkannya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Ia menguap cukup lebar dan menggaruk rambut coklatnya hingga membuat rambut itu semakin berantakan. "Ane, kau sudah pulang? Cepat sekali, bukankah kau baru pergi beberapa jam yang lalu?" tanyanya. Ia segera berjalan ke dapur dan mengambil gelas, menuangkan air ke dalamnya lalu kembali ke ruang tamu. Ia duduk lalu meminum air di tangannya sambil mengamati Liliana masih sibuk membersihkan rumah. "Apa kalian tidak bisa untuk tidak membuat kekacauan setiap harinya? Sungguh aku terlalu lelah jika harus selalu membersihkan kekacauan yang kalian buat." Liliana mulai menggerutu. Adik bungsunya itu hanya merotasikan kedua matanya malas, ia sudah terlalu sering mendengar ceramahan yang keluar dengan mulus dari bibir kakaknya. Selalu saja tentang hal yang sama. Ia segera bangkit dan mengambil gelas miliknya, berjalan kembali ke arah kamar. Tidak memedulikan ocehan kakak pertamanya. "Kau mendengarku, tidak?" Liliana marah, ia melipat kedua tangannya ke depan d**a sambil memelototi adik bungsunya. "Ya, ya, aku mendengarkanmu, Liliana. Sudah puas?" Setelah itu gadis berusia lima belas tahun itu langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dengan sedikit keras, kesal karena Liliana memarahi dirinya. Liliana hanya bisa membuang napas pasrah, setelah pekerjaannya selesai ia masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di atas kasur. Merogoh saku rok yang ia kenakan dan mengeluarkan selembar kertas yang ia ambil di perjalanan pulang tadi. Liliana kembali membaca lowongan pekerjaan itu dengan teliti dan mulai berpikir. "Apa aku bisa mendapatkan pekerjaan ini? Aku tidak memiliki pengalaman sebelumnya," lirihnya. Liliana bangkit dari sana, keringat di tubuhnya memaksa gadis itu agar segera mandi. Dengan lamgkah cepat ia mengambil pakaian di lemari lalu keluar dari kamar, menuju kamar mandi untuk memulai ritualnya. Setelah beberapa menit Liliana telah menyelesaikan ritualnya,, aroma dari sabun yang ia kenakan menguar jauh dari dalam bilik kamar mandi. Gadis itu membelit rambutnya yang basah dengan handuk, ia bisa melihat adik keduanya yang bernama Luciana telah pulang. Gadis yang mengenakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak itu bersandar di tembok dan menegak minuman dari botol yang dipegangnya. "Baru pulang?" tanya Liliana, Luciana yang sedang minum langsung tersedak hingga air di dalam botol tumpah di lantai. "Astaga, kau mengejutkanku, Ane." Luciana memegang dadanya sendiri yang kini tengah berdebar. Wajah gadis itu tampak suram, Liliana yang menyadarinya langsung bertanya. "Apa ada masalah?" Luciana merogoh saku celananya dan mengambil amplop putih yang dilipat menjadi dua bagian. Menyerahkannya pada sang kakak dengan wajah tertunduk. Liliana mengambilnya, membuka amplop yang diberikan oleh adiknya lalu membaca isi surat di dalamnya. Liliana menatap adiknya yang masih saja tertunduk. Ia menepuk bahu adiknya dengan lembut. Luciana mendongak, menatap kakaknya yang kini memberikan senyuman termanis yang dimiliki olehnya. "Jadi kau mengkhawatirkan ini? Kurasa aku masih memiliki sedikit tabungan, kau bisa menggunakannya terlebih dahulu," lirih Liliana. Luciana yang mendengar hal itu tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Dengan cepat ia memeluk kakaknya dan berterima kasih. "Terima kasih, Ane. Kau adalah pahlawanku." Liliana hanya bisa tersenyum melihat adiknya bahagia. Kini ia harus benar-benar bekerja keras untuk memenuhi biaya kebutuhan seluruh keluarganya. Ia bertekad untuk datang ke alamat rumah yang ada di brosur iklan itu dan melamar pekerjaan, demi keluarganya. ***** Semua orang kini berkumpul untuk makan malam bersama. Suasana di meja makan itu terasa sangat hangat dan nyaman. Luciana dan adiknya tengah membahas sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan mereka pada sang ayah. Marquis juga aktif merespon cerita kedua putrinya. "Bagaimana perkembangan kondisi Ibu, Ayah?" tanya Liliana seketika. Sang ayah menatap putri sulungnya dan berkata jika keadaan Serenaーibunya baik-baik saja, Marquis juga bilang jika Serena bisa keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama dua hari. Liliana bisa bernapas lega sekarang. Serena memang memiliki penyakit jantung yang sering kambuh hingga harus bolak-balik ke rumah sakit. Dokter bilang jika Serena bisa melakukan operasi cangkok jantung maka kondisinya akan baik-baik saja, tetapi keluarga Brown tidak mampu membayar biaya operasi yang terbilang sangat mahal bagi keluarganya. "Syukurlah, Ayah maaf aku dipecat dari restoran siang tadi." Liliana menundukkan kepalanya. "Tidak masalah, kita bisa mencari pekerjaan lain." Sang ayah mencoba menenangkan putrinya dan memberikannya sedikit semangat. "Besok aku akan melamar pekerjaan sebagai pengasuh, aku melihat iklan tadi siang. Doakan aku agar diterima, Ayah." Marquis menggenggam jemari putrinya dan mengelusnya perlahan. "Maafkan Ayah karena membebanimu dengan tanggung jawab sebesar ini." Terdengar helaan napas panjang yang keluar dari mulut Marquis. Liliana menepuk tangan ayahnya dan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan yang mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Tiba-tiba Chokyーanjing pudle kesayangan Luciana menggonggong ke arah Liliana, gadis itu dengan segera menggendongnya. "Apa yang kau mau, Manis? Kau lapar?" Choky kembali menggonggong yang menandakan jika ia memang lapar. Liliana pergi ke laci yang ada di dapur, mengambil mangkuk makan Choky dan sereal untuk hewan. Ia menuang sereal tadi ke dalam mangkuk dan meletakkannya di depan Choky. Anjing itu mulai makan dengan lahapnya. Liliana tersenyum melihat kehangatan keluarganya saat ini, meski mereka serba kekurangan, tetapi Liliana tetap bersyukur karena Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup setelah mengalami kecelakaan tragis beberapa tahun yang lalu. to be continue ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN