Sebulan setelah kepergian Azel, rumah megah milik keluarga Martin terlihat sunyi. Tak ada lagi kehidupan disana, hanya sering terdengar tangisan dan rasa penyesalan yang amat dalam. "Sudahlah Maya, kamu sudah sering menangis. Penyesalan kita tidak akan membalikkan waktu." Ucap Martin menenangkan istrinya. Maya hanya menatap lirih pigura anak bungsunya, "Kita bukan orang tua yang baik untuknya pah, sampai kapan pun kita tetap menjadi orang terburuk." Isaknya. Sungguh penyesalan ini membuat Martin dan Maya tersiksa, betapa bodohnya mereka dahulu saat tidak peduli dengan anak bungsunya. Rasa sakit keduanya tak sebanding dengan rasa sakit putri bungsunya yang sudah tersiksa dari dulu. Semuanya tak akan bisa diulang. Rasa penyesalan itu membuat keduanya hanya bisa merenung. Mereka bukan or

