Sementara itu, di kediaman Vittale, suasana terlihat sibuk tetapi tetap tertib. Para pelayan bergerak cepat ke sana kemari, menyelesaikan tugas mereka dengan sigap dan terlatih.
Langkah-langkah yang teratur itu seakan menjadi bagian dari kemewahan rumah besar yang sudah terbiasa menjadi tuan rumah bagi jamuan penting.
Dapur besar di mansion Vittale pun tak kalah sibuk. Para pelayan bergerak sigap membantu Sofia, yang memilih turun tangan sendiri menyiapkan jamuan malam itu.
Walaupun ia dapat mempercayakan semuanya pada para pelayan yang terampil, Sofia tetap ingin terlibat langsung dalam penyajiannya.
Senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya, sesekali ia menyapa dan mengarahkan dengan lembut, menciptakan suasana yang akrab di tengah kemewahan.
Aroma masakan hangat memenuhi dapur luas itu, bercampur dengan wangi rempah dan mentega yang meleleh di atas wajan panas. Sofia berdiri di salah satu meja marmer panjang, tangannya terampil menata hidangan terakhir dengan penuh perhatian.
Di atas meja tersaji berbagai menu istimewa sup krim labu yang lembut, pasta dengan saus krim dan jamur pilihan, serta daging panggang yang dimasak perlahan hingga empuk sempurna. Tak lupa salad segar dengan potongan buah dan keju, sebagai penyeimbang hidangan utama yang kaya rasa.
Sesekali Sofia mencicipi saus yang ia aduk sendiri, memastikan rasanya pas. Bukan karena ia meragukan kemampuan para koki, melainkan karena ia ingin malam itu terasa lebih personal. Jamuan ini bukan sekadar makan malam biasa ini adalah pertemuan keluarga, awal dari ikatan yang akan menyatukan dua anak mereka.
"Tambahkan sedikit lagi saus di piring itu," ucapnya lembut pada salah satu pelayan, matanya tetap hangat namun teliti. Semua harus sempurna, setidaknya di matanya sebagai seorang ibu.
Sementara itu, pelayan lainnya sibuk memperindah setiap sudut ruangan merapikan dekorasi, dan menyiapkan ruang makan dengan detail yang elegan. Kesibukan itu berpadu dengan kehangatan, menjadikan kediaman Vittale bukan sekadar megah, tetapi juga terasa hidup dan penuh sambutan.
Begitu mobil melewati gerbang tinggi berornamen besi hitam, mata Mira langsung melebar. Dari balik jendela, ia melihat hamparan taman luas yang tertata rapi, air mancur yang memantulkan cahaya lampu, serta jalur batu yang membentang panjang menuju bangunan utama.
Napasnya tertahan tanpa sadar. Rumah itu tidak, lebih pantas disebut istana terlihat begitu megah hingga membuatnya merasa kecil. Jari-jarinya mencengkeram ujung tas di pangkuannya, seolah mencari sesuatu untuk menenangkan diri.
Saat mobil melaju semakin dekat, detail bangunan itu makin jelas. Pilar-pilar tinggi menjulang di teras depan, jendela-jendela besar memancarkan cahaya hangat dari dalam, dan pintu utama berdiri kokoh dengan ukiran yang tampak mahal bahkan dari kejauhan.
Perlahan, rasa kagum bercampur gugup memenuhi d4danya.
Ini… rumahnya? batinnya lirih.
Saat mobil berhenti tepat di depan teras luas, dua pengawal berseragam rapi sigap membukakan pintu. Pemandangan itu membuat Mira semakin tertegun, hatinya dipenuhi rasa kagum akan kemewahan yang membentang di hadapannya.
Gadis itu sempat ragu keluar, Kakinya terasa sedikit lemas saat menjejak lantai batu yang dingin dan mengilap. Ia mendongak, menatap fasad bangunan yang menjulang di hadapannya, lalu tanpa sadar merapikan rambutnya sendiri.
Bukan karena ingin terlihat sempurna melainkan karena tiba-tiba ia merasa seperti orang asing yang sedang berdiri di dunia yang bukan miliknya.
Di sampingnya, Matteo sudah berdiri lebih dulu, tampak biasa saja, seolah kemewahan itu hanyalah bagian dari kesehariannya. Kontras itu justru membuat Mira makin sadar betapa berbedanya kehidupan mereka.
Matteo yang sudah berdiri di samping Gadis itu, melirik sekilas. Tatapannya jatuh pada jemari Mira yang masih menggenggam tasnya sedikit terlalu erat.
"Kau gugup?" tanyanya singkat.
Bukan dengan nada mengejek, bukan pula benar-benar lembut hanya datar, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikannya.
Mira tersentak kecil. Ia segera menggeleng cepat, meski senyumnya tampak kaku.
"Sedikit." jawabnya pelan.
Matteo tidak membalas dengan kata-kata. Namun langkahnya melambat, menyamakan kecepatan dengan Mira saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama sebuah penyesuaian kecil yang nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat langkah Mira terasa sedikit lebih ringan. Pelayan dengan sigap membukakan pintu besar itu untuk tuannya dan Mira.
Di dalam mansion, ruang tamu yang luas telah dipenuhi keluarga besar Matteo yang sedari tadi menanti. Begitu melihat putra mereka datang bersama calon menantunya, Sofia dan anggota keluarga lain segera maju menyambut.
Senyum hangat menghiasi wajah mereka, memancarkan kebahagiaan tulus atas kedatangan gadis yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga besar Vittale.
Sofia menjadi orang pertama yang mendekat. Gaun elegan yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya, sementara senyum hangat tak lepas dari wajah anggunnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, nak" ucapnya lembut. Nada suaranya penuh kehangatan, sama sekali tidak terdengar canggung ataupun menilai. Tatapan matanya menelusuri wajah gadis itu sejenak, bukan untuk menghakimi, melainkan memastikan bahwa Mira merasa diterima.
Mira sempat tertegun. Ia tidak menyangka akan disambut sehangat ini. Gugup yang sejak tadi mengikat dadanya perlahan mengendur, tergantikan oleh rasa haru yang tak terduga.
"Senang bertemu lagi, Bibi Sofia," jawab Mira pelan, sedikit terbata.
Sofia tersenyum makin lebar. Tanpa ragu, ia menggenggam lembut tangan Mira dengan kedua tangannya sentuhan yang hangat, seperti seorang ibu yang menyambut anaknya pulang.
"Kau terlihat cantik malam ini," ujarnya tulus.
Pujian sederhana itu justru membuat pipi Mira memanas. Ia menunduk malu, sementara di sampingnya Matteo hanya memperhatikan dalam diam tatapannya tenang, namun kini tak sepenuhnya acuh.
Di tengah sambutan hangat itu, langkah Sofia perlahan menuntun Mira mendekati seorang pria tua yang duduk tegak di kursi berlengan besar. Rambutnya telah memutih seluruhnya, namun sorot matanya masih tajam dan penuh wibawa.
"Itu Kakek Thomas," bisik Sofia lembut.
Jantung Mira langsung berdegup lebih kencang. Tanpa sadar punggungnya menegang.
Inilah orang yang telah menjadikannya calon istri Matteo sosok yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ayahnya, kini berada tepat di hadapannya.
Mira menunduk hormat, jemarinya saling menggenggam gugup di depan tubuhnya.
"Selamat malam, Tuan Thomas," sapanya pelan. Thomas menatap gadis itu beberapa detik. Tatapan yang awalnya terlihat tegas perlahan melunak. Kerutan di sudut matanya mengiringi senyum hangat yang kemudian terbit.
"Jadi kau Mira," ucapnya dengan suara berat namun tenang. "Gadis yang sudah membuat cucuku akhirnya mau pulang lebih cepat." Ucapan itu membuat beberapa anggota keluarga terkekeh pelan. Wajah Mira langsung memerah, antara malu dan tak tahu harus menjawab apa.
Thomas lalu mengulurkan tangannya. Bukan sekadar formalitas genggamannya hangat dan mantap saat Mira menyambutnya dengan kedua tangan.
"Terima kasih sudah datang malam ini," lanjutnya lembut. "Mulai sekarang, anggap rumah ini juga rumahmu."
Kata-kata itu membuat d**a Mira menghangat.
Rasa takut yang sejak tadi mengendap perlahan mencair, digantikan oleh perasaan diterima yang tak ia duga akan datang secepat ini.
Di sisi ruangan, Matteo memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Namun untuk pertama kalinya malam itu, sorot matanya melembut saat melihat kakeknya tersenyum pada gadis di sampingnya.
Thomas belum juga melepaskan senyumnya saat menoleh ke arah cucunya yang berdiri tak jauh dari Mira.
"Matteo," panggilnya santai, namun penuh makna. "Kau membuat gadis semanis ini menunggu lama di luar tadi?"
Beberapa anggota keluarga langsung menahan tawa.
Sofia bahkan menutup bibirnya, berusaha terlihat tetap anggun meski matanya berbinar geli.
Matteo mengembuskan napas pelan. Ia tak mungkin bersikap dingin pada Thomas di hadapan Mira, terlebih hatinya sendiri belum sepenuhnya reda dari pertengkaran mereka pagi tadi.
"Tidak selama itu, Kakek," ucapnya datar, walau nadanya terdengar sedikit lebih ringan dari biasanya.
Thomas terkekeh pelan. "Begitu, ya? Hati-hati, Mira. Cucuku ini memang tidak banyak bicara, tapi bukan berarti tidak punya hati."
Ucapan itu membuat pipi Mira kembali memerah. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya yang lolos begitu saja.
Sementara itu, Matteo hanya menggeleng kecil, seolah sudah terbiasa dengan godaan sang kakek. Namun tatapannya sempat beralih singkat ke arah Mira dan kali ini, tidak sepenuhnya tanpa ekspresi.
Suasana ruang tamu yang tadinya terasa formal perlahan berubah hangat, dipenuhi tawa kecil dan percakapan ringan yang mulai mengalir di antara mereka.
Tanpa sepatah kata pun, Matteo berbalik dan menaiki tangga menuju kamarnya. Di tengah keluarga yang masih menyambut hangat, Mira diam-diam mengikuti setiap langkah pria itu dengan pandangannya.
Ia tidak menoleh sama sekali. Langkah panjangnya menjauh, meninggalkan Mira tetap berdiri di ruang tamu bersama keluarga yang kini terasa asing.
Mira menatap punggung itu sampai menghilang dari pandangan. Rasa perih perlahan merambat di d4danya halus, tapi dalam membuat napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Di ruang tengah yang terasa hangat itu, mereka mengobrol santai tentang pendidikan Mira, perjalanan kariernya, dan kesehariannya.
Dengan senang hati, Mira menjawab satu per satu pertanyaan tentang dirinya. Ia pun merasa nyaman bercerita karena sambutan mereka begitu ramah dan penuh perhatian.
Sepanjang percakapan, gadis itu berbicara dengan nada lembut dan sopan, selalu disertai senyum manis. Gerak-geriknya yang tenang membuat keluarga Vittale semakin menyukainya.
Sesekali, obrolan mereka diiringi tawa ringan dan cerita-cerita kecil yang membuat suasana terasa akrab dan menyenangkan.
Setelah waktu berlalu cukup lama, mereka akhirnya beralih ke ruang makan. Para anggota keluarga telah berkumpul dan menempati kursi masing-masing, namun suasana tak sepenuhnya hangat. Percakapan ringan memang terdengar, tetapi kerap terputus oleh jeda-jeda canggung yang menggantung di udara.
Dua kursi di meja itu masih kosong kursi milik Matteo dan Valez yang memang sudah izin akan bergabung kebelakangan.
Namun berbeda dengan Matteo yang Sejak kedatangannya bersama Mira tadi, Ia belum juga kembali menampakkan diri. Ketidakhadirannya perlahan menimbulkan kegelisahan yang tak terucap di antara mereka.
**