5. BENTUK TUBUH YANG BAGUS

1906 Kata
Demi keamanan calon menantunya, Xander terpaksa meminta bantuan istrinya. Dialah yang akan berbicara pada Matteo, meyakinkan putranya agar sendiri yang menjemput Mira dari kediaman Damien. Mereka tidak bisa menebak sampai sejauh mana musuh bergerak, atau seberapa dalam mereka menyelidiki setiap celah yang bisa dijadikan kelemahan. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan teliti. Karena itulah, Matteo sudah lebih siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Setiap gerakannya diperhitungkan, agar Mira tetap terlindung dari bahaya yang mungkin mengintai. Xander menatap istrinya sebentar, mengetahui bahwa strategi ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga keselamatan keluarga mereka. Rasa cemas, waspada, dan sedikit lega bercampur di dadanya karena setidaknya, langkah mereka kini lebih terkontrol. ** Kali ini Sofia menemui putranya dalam keadaan yang tampak sedikit lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya, Matteo tidak lagi memasang wajah dingin seperti pagi tadi. Pria itu sedang duduk sendirian di teras kamarnya, sebatang rokok menyala pelan di sela jemarinya. Pandangan pria itu jatuh lurus ke bawah, ke halaman rumah mereka, namun entah apa yang sebenarnya ia lihat. Dari tempatnya berdiri, Sofia menangkap sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak kekosongan yang begitu nyata di mata putranya, seolah hidup masih berjalan, tetapi jiwanya tertinggal entah di mana. Sofia segera melangkah menghampiri Matteo yang tengah duduk seorang diri di beranda kamar. Langkahnya pelan, seolah takut suara sekecil apa pun bisa memecahkan rapuhnya suasana di antara mereka. Jemarinya sempat saling menggenggam gelisah sebelum akhirnya terlepas kembali. "Nak, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Sofia lembut, menatap lurus ke arah Matteo yang masih duduk di teras kamar. Matteo tidak langsung menjawab. Ia hanya mengembuskan asap rokok pelan, membiarkannya menghilang di udara siang yang lengang. Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah suara ibunya datang dari tempat yang sangat jauh. Untuk sesaat, rahangnya menegang. Namun alih-alih menoleh, ia justru menunduk sedikit, menghindari tatapan Sofia yang penuh kekhawatiran. Jarak di antara mereka begitu dekat, tetapi terasa seperti terbentang jurang yang tak kasatmata. "Aku sudah lebih baik," kata Matteo pelan. Ia segera memadamkan rokoknya yang bahkan belum sepenuhnya dihisap. Ia tak ingin ibunya menghirup asap yang berbahaya baginya. Puntung rokok itu ia tekan sedikit terlalu kuat ke asbak, hingga ujung jarinya ikut menegang. Setelahnya, tangannya terdiam di sana beberapa detik, seolah ia lupa harus berbuat apa. Matteo lalu menarik napas pendek dan mengalihkan wajahnya, menatap ke arah halaman lagi, menghindari mata ibunya yang pasti dipenuhi tanya dan cemas. "Syukurlah… Mama lihat juga begitu. Sekarang kau tampak lebih baik," ujar Sofia sambil bergerak duduk di kursi kosong di sebelahnya. "Mama ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucap Sofia lagi, nadanya terdengar lebih halus namun serius. Sofia tidak mendapat balasan, namun ekspresi tenang Matteo sudah cukup menunjukkan bahwa ia siap mendengar ucapannya. "Begini, Nak… Mama ingin kamu tidak terlalu kasar pada kakekmu. Mama tahu bagaimana perasaanmu saat ini, terlebih setelah mendengar tanggal pernikahanmu dipercepat," ucap Sofia pelan. suara terakhir terdengar sedikit bergetar, seolah ada beban yang ikut terucap bersama kata-kata itu. Sofia menatap ke bawah sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Kakekmu tidak sendiri saat keputusan itu diambil, Mama dan papapmu ada di balik rencana yang berjalan begitu mulus. Semua terjadi karena kerja sama dan keinginan kami Nak. Kami ingin kau segera menikah, memiliki keluarga kecil, dan hidup bahagia… seperti adikmu Valez." Ada harapan dalam setiap ucapannya, serta keinginan tulus untuk melihat Matteo benar-benar menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya. Namun saat nama itu disebut, rahang Matteo tampak mengeras. Jemarinya perlahan mengepal di atas pahanya, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menarik napas dalam, tapi terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam. "Jadi jangan hanya marah pada kakekmu. Kau juga boleh marah pada Mama dan Papamu, karena Kamilah yang bersepakat diam-diam untuk mempercepat semuanya, Nak." Rasa bersalah tampak di wajahnya, namun kini hatinya terasa sedikit lebih tenang, meski belum sepenuhnya lega. Matteo menatap ibunya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Dadanya terasa sesak, namun ia tidak sepenuhnya marah ataupun menyangkal maksud baik yang mereka inginkan untuknya. "Semuanya sudah terjadi. Keputusan pun sudah ditetapkan…" Matteo berhenti sejenak, menarik napas pendek. "Bukan berarti aku tidak bisa membatalkan semua rencana yang kalian ambil tanpa seizinku. Aku bisa." Rahangnya mengeras sebelum ia melanjutkan. "Tapi aku sudah sangat lelah… lelah dengan semuanya. Kalian tidak akan pernah berhenti memaksaku patuh pada setiap keputusan kalian," jelas Matteo pelan. Tatapannya tak sedetik pun teralihkan. Setiap katanya terdengar serius dan letih, seolah ia sudah terlalu lama berusaha menghindar. Sofia terdiam. Jemarinya yang sejak tadi bertaut di pangkuan perlahan mengerat, Ia ingin menyela, ingin mengatakan sesuatu untuk meredakan luka di hati putranya, namun tak satu pun kata sanggup keluar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari betapa lelahnya Matteo berjuang sendirian di tengah keputusan yang bahkan bukan ia buat sendiri. Sofia menatap putranya penuh rasa bersalah, ia menyadari bahwa perbuatan mereka benar-benar melelahkan bagi Matteo. "Mama minta maaf, Nak. Kami sangat berterima kasih karena kau tidak lari dari tanggung jawabmu,"ucapnya tulus. Tangannya perlahan terangkat, sempat terhenti di udara seolah ia ragu. Namun akhirnya jemarinya menyentuh punggung tangan Matteo dengan sangat hati-hati, seakan takut sentuhan itu justru akan membuat putranya semakin menjauh. Matteo tidak menarik tangannya. Namun ia juga tidak membalas. Tangannya tetap diam di sana, dingin dan kaku, seolah sentuhan itu datang dari tempat yang jauh. Ia menelan pelan, tatapannya masih lurus ke depan. Untuk sesaat, napasnya terdengar lebih berat, lalu ia memejamkan mata sebentar bukan untuk menenangkan diri, melainkan untuk menahan sesuatu yang hampir runtuh di dalam dadanya. "Mira… gadis yang baik. Dan satu lagi, dia punya senyum yang sangat hangat, memberi ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya," kata Sofia sungguh-sungguh. Nada suaranya terdengar penuh kebanggaan saat memuji gadis itu. "Mama yakin dia tidak akan merepotkanmu." Matteo tidak menunjukkan reaksi apa pun, meski nama itu begitu dijunjung tinggi oleh ibunya. Ia tetap terlihat tenang dan tidak berusaha menyangkal setiap ucapan Sofia, sebab ia memang belum pernah bertemu dengan calon istrinya. Nama itu terdengar asing di telinganya, namun entah mengapa terasa berat saat jatuh di dadanya. Bukan karena gadis itu salah, bukan pula karena ia membencinya melainkan karena nama itu datang bersama takdir yang tak pernah benar-benar ia pilih. Matteo menurunkan pandangannya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam diam… apakah seseorang bisa belajar menerima kebahagiaan yang tidak pernah ia minta? "Bagus, kalau dia bukan tipe wanita yang merepotkan. Aku jadi bisa lebih fokus pada pekerjaanku," ucapnya dingin, seolah tak peduli pada apapun, selain fakta bahwa gadis itu tidak akan merepotkannya. Sofia terdiam. Senyum kecil yang tadi sempat muncul perlahan memudar, meski ia berusaha menyembunyikannya. Ada sesuatu dalam nada suara Matteo yang membuat dadanya terasa nyeri bukan marah, bukan pula kecewa sepenuhnya, melainkan sedih karena putranya terdengar begitu jauh dari harapan akan kebahagiaan itu sendiri. Ia menunduk sebentar, menarik napas pelan sebelum kembali menatap Matteo dengan lembut, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa waktu akan mengubah segalanya. "Mira juga punya bentuk tubuh yang bagus," ucap Sofia, ingin melihat bagaimana reaksi putranya terhadap hal itu. "Bukankah itu hanya bonus…?" Pandangan Matteo yang tadinya lurus ke depan kini beralih pada Sofia yang duduk di sisinya. "Setidaknya dia punya sesuatu yang bisa dibanggakan," ucap Matteo dingin, tanpa memikirkan bagaimana perasaan ibunya saat mendengar kata-katanya. Sofia terdiam. Untuk sesaat, ia bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum. Ada rasa nyeri kecil yang menjalar di dadanya, bukan karena tersinggung, melainkan karena ia menyadari betapa jauh putranya memandang pernikahan itu dari makna yang sesungguhnya. Bibirnya bergerak pelan, seolah ingin menegur, namun tak satu pun kata jadi terucap. Akhirnya ia mencoba menerima bahwa hati Matteo mungkin belum benar-benar siap untuk siapa pun. Sofia kembali mengatur napasnya yang sempat tidak beraturan karena kaget. "Sudah, abaikan saja… Mama tidak ingin membahas soal itu lagi. Yang terpenting saat ini, kau sudah siap menikah dengannya, dan Mama bisa merasa lebih lega sekarang." Ia menarik napas panjang, menahan detik-detik cemas di dadanya, lalu menatap Matteo perlahan. Pandangannya lembut, penuh harap, namun tetap hati-hati, seolah ingin memastikan putranya benar-benar siap tanpa menekan apapun. Untuk sekejap suasana disekitar mereka terasa sunyi. Matteo tampak tidak memiliki sesuatu yang ingin diucapkan, sementara Sofia masih menimbang bagaimana menyampaikannya lagi kepadanya. "Sebenarnya, sore ini kita akan mengadakan makan malam bersama di rumah," ucap Sofia dengan nada lembut. "Mira juga sudah diundang untuk hadir. Bagaimana kalau nanti kau yang menjemputnya dari kediaman Roseti?" Nada suaranya hangat, penuh perhatian, seolah ingin membuat Matteo merasa nyaman sekaligus ikut mengambil bagian dalam persiapan acara. Matteo menatap ibunya sebentar, wajahnya tetap tenang dan datar. Tidak ada senyum, tidak ada protes. "Mama tidak bermaksud buru-buru ingin membuat kalian dekat." ia menarik napas sebentar, menatap Matteo dengan lembut. "Saat penetapan tanggal pernikahan tiga hari yang lalu, kau tidak ada di sana bersama kami. Jadi Mama bermaksud, agar kau yang menjemput Mira dan sedikit menenangkan hati Tuan Damien," ucapnya pelan, penuh kehati-hatian. Sofia menunduk sebentar, lalu menatap Matteo lagi. "Mungkin, saat mereka melihatmu datang, mereka akan merasa bahagia… dan ikatan antara kedua keluarga pun bisa semakin hangat, Nak." Matanya menyiratkan harap, seakan ingin meyakinkan bahwa semua ini dilakukan demi kebahagiaan mereka, bukan untuk memaksa putranya. "Kita punya banyak supir pribadi, bahkan ada jasa lain seperti Thomas dan Xander," ucap Matteo dengan santai, menyebut nama kakek dan ayahnya sendiri seakan itu hal biasa. Matteo mengangkat alis, menatap ibunya datar. "Teo! Jaga sikapmu, Nak… mereka itu kakek dan Papamu!" seru Sofia setengah bercanda, setengah menegur. Pria itu cuma menghela napas pelan, lalu menoleh ke depan, tapi di sudut matanya terlihat sedikit kilatan tak sabar. Sofia tersenyum tipis, tahu betul putranya sulit ditebak, tapi setidaknya tidak terlalu memberontak. "ucapanku memang tidak salah. Banyak orang yang bisa melakukannya, lalu kenapa harus aku?" ucap Matteo, wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun menampakkan rasa bersalah. "Sebentar lagi aku akan pergi ke markas, Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan." tambahnya, nada tetap dingin dan tegas. Ia menoleh sebentar ke arah ibunya, mata lurus tanpa ekspresi, seolah mengatakan keputusan dan tugasku tidak bisa diganggu. Sofia hanya bisa menelan napas pelan, menyadari bahwa Matteo memang akan bersikap dingin. "Baiklah, kalau memang begitu. Mama tidak akan memaksamu… tapi singgahlah sebentar saja, Nak. Kau tidak perlu lama-lama di kediaman Roseti, cukup lakukan sapaan kecil agar mereka tidak kecewa padamu," bujuk Sofia, nada lembut tapi tetap meyakinkan. Raut wajah Matteo terlihat menimbang sesuatu. Ia menarik napas pelan, lalu melangkah ke arah pintu beranda. Kakinya terhenti sejenak di ambang pintu. Matanya menatap Sofia, datar dan sulit ditebak. "Aku akan menyempatkan waktu… setelah pekerjaanku selesai," ucapnya pelan, nada tetap dingin. Ia melangkah masuk kembali ke kamar, menutup pintu kaca itu perlahan. Ia tidak punya rencana atau maksud maksud lain, selain menjaga nama baik keluarganya di mata orang lain. Maka dari itu, ia harus bersikap hati-hati. Setiap tindakannya diperhitungkan agar tidak menodai martabat keluarganya, sekalipun kadang itu berarti menahan keinginannya sendiri. Ia menatap jendela kamarnya sebentar, memikirkan konsekuensi setiap langkah yang akan ia ambil. Di balik wajah tenangnya, ada tekanan yang tak terlihat dilema antara melakukan apa yang benar menurut hati dan apa yang harus ia lakukan demi keluarga. Matteo menarik napas panjang, menenangkan diri, sebelum akhirnya bersiap meninggalkan kamar. Setiap gerakannya kini dipenuhi tanggung jawab, sekaligus rasa berat yang harus ia pikul sendiri. Sebuah senyuman muncul di wajah Sofia. Ia menghela napas panjang, menahan campuran lega dan kekhawatiran. Meskipun Matteo bersikap dingin, setidaknya ia mau memberi sedikit ruang bagi pertemuan itu untuk terjadi. Dari luar pintu kaca, Sofia mengamati pergerakan kecil Matteo di dalam kamarnya. Ia melihat putranya menyesuaikan stelannya dengan rapi, menyisir sedikit rambutnya, dan memastikan segala sesuatunya siap. Terlihat jelas bahwa ia benar-benar bersiap untuk pergi ke Markas besar Fercgrey. Sofia menahan napas pelan, hatinya campur aduk antara lega, bangga, dan sedikit cemas. Meskipun Matteo tetap dingin dan serius, setidaknya langkahnya menunjukkan tanggung jawab yang tak terbantahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN