13. RASA KECEWA

1821 Kata
** Suasana di dalam mobil tenggelam dalam sunyi yang menyesakkan. Pria itu tetap dingin dan kaku, seolah jarak di antara mereka memang sengaja ia pelihara. Mira menarik napas pelan, sadar bahwa kesabaran adalah satu-satunya bekal yang ia miliki untuk menghadapi calon suaminya. Ia menoleh sekilas, memperhatikan garis rahang pria itu yang tegas dan sorot mata yang lurus menatap jalan tanpa sedikit pun menoleh padanya. Tidak ada kelembutan, tidak pula penolakan yang terang-terangan hanya batas yang tak kasatmata. Seandainya pernikahan ini bukan keputusan ayahnya, dan seandainya orang tua Matteo tidak memperlakukannya dengan begitu hangat, mungkin sejak awal Mira telah memilih untuk mundur. Namun kini yang tersisa hanya keheningan canggung yang menggantung di antara mereka. Di perjalanan yang terasa begitu panjang, kebersamaan itu justru menjelma lelah sebab berjalan bersama seseorang yang tak sejalan, sering kali lebih melelahkan daripada melangkah sendirian. Seketika Mira terpikirkan akan masalah pekerjaannya dan merasa inilah saat yang tepat untuk membicarakan pekerjaannya dengan Matteo. Barangkali percakapan kecil mampu mencairkan jarak di antara mereka. Namun sebelum kata pertama terucap, kegugupan lebih dulu menyerang. Keringat dingin mulai merayap di dahinya, hingga ia menggigit bibirnya pelan, mencoba menenangkan debar yang tak terkendali. Setelah mengumpulkan keberanian, dengan segenap tekad, kegugupan itu perlahan surut. Mira menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka percakapan dengan Matteo. "Teo, sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting," ucap Mira pelan. Namun kalimatnya terhenti ketika ponsel Matteo berdering, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. "Sebentar," ujarnya singkat, lalu segera menerima panggilan telepon dari markasnya tanpa menoleh. Mira menarik napas perlahan. Ada desir kecewa yang ia pendam dalam diam. Setelah susah payah menata keberanian, kesempatan itu kembali tertunda, seolah waktu pun enggan berpihak padanya. Namun di balik rasa kesalnya, Mira tetap menyadari bahwa semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Matteo. Ia hanya terdiam, membiarkan tatapannya lurus ke depan sementara pikirannya kembali dipenuhi keraguan. "Apa yang terjadi?" tanya Matteo, suara baritonnya rendah dan tegas. "Maaf mengganggu, Tuan. Kami membutuhkan Anda segera. Musuh melancarkan serangan di wilayah timur. Apakah kami menunggu perintah lebih lanjut?" suara David terdengar tenang, profesional seperti biasa. Matteo tidak menyalakan pengeras suara. Karena itu, percakapan mereka hanya menjadi bisikan samar yang tak mampu dijangkau oleh Mira. Dari sudut pandangnya, Mira melihat perubahan halus pada wajah Matteo. Rahangnya menegang, sorot matanya mengeras, seakan keputusan besar telah diambil dalam diam. Keheningan di antara mereka semakin menekan, dan tanpa ia sadari, firasat buruk kembali merayapi pikirannya. "Siapkan semuanya. Tunggu aku kembali," ucap Matteo tegas, tanpa menyisakan ruang untuk bantahan. "Baik, Tuan." Matteo mengakhiri panggilan itu tanpa banyak kata, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan di depan. Melihat perubahan pada wajahnya, Mira perlahan mengurungkan niat untuk melanjutkan pembicaraan. Rahang yang mengeras dan sorot mata yang membeku sudah cukup menjadi jawaban. Ada sesuatu yang berubah. Mungkin masalah besar tengah menantinya di perusahaan. Kakinya menekan pedal gas tanpa ragu. Mobil melesat semakin cepat, sementara jantung Mira berdegup tak beraturan mengikuti laju kendaraan itu. Jalan di depan terasa menyempit, Setiap tikungan berubah menjadi ancaman, setiap gerakan terasa fatal. Mira menggigit bibir, menahan napas, sementara rasa takut yang mencekam menjalar dari ujung kepala hingga ke kaki. Satu kesalahan kecil saja… dan semuanya bisa berakhir dalam kehancuran yang tak terelakkan. "Teo! tolong Pelankan kecepatannya!" teriak Mira, suaranya pecah oleh getaran panik. Raungan mesin menelan setiap kata. Mobil melaju kencang, jarum kecepatan melonjak tanpa henti, dan jalan di depan menyempit seolah menekan mereka ke ujung jurang. "Tenang. Pegang erat," suaranya singkat dan dingin, tanpa memberi ruang untuk bantahan. Mobil menukik ke tikungan tajam dengan kecepatan gila. Tubuh Mira terhempas ke kursi, napas tercekat, dan rasa takut merayap pelan, menutupi setiap sudut kesadarannya seperti bayangan gelap yang tak terhindarkan. Mobil itu akhirnya melambat di depan butik tempat mereka berjanji bertemu dengan desainer gaun pengantin. Decit pelan ban yang berhenti seolah menutup perjalanan penuh ketegangan itu, menyisakan keheningan canggung bersama napas yang masih terengah dan detak jantung yang belum kembali tenang. Wajah pria itu tetap datar, tanpa penyesalan sedikit pun, seolah apa yang terjadi barusan bukanlah kesalahannya. Ketenteramannya yang nyaris tak tergoyahkan justru menyulut bara di d**a Mira. Jemarinya mengepal, menahan amarah yang bergetar di balik napas yang mulai memburu. Matteo melirik sekilas ke arahnya. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Ia menyadari pucat yang merayap di wajah Mira dan napasnya yang tak lagi teratur. Ada keinginan untuk meminta maaf, tetapi harga dirinya menahan kata-kata itu tetap terkunci di tenggorokan. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Suaranya tajam, memecah ketegangan yang menggantung di udara seperti kaca rapuh. Mira menoleh dengan sorot mata membara, seolah berharap panggilan itu membawa jawaban atau justru awal dari masalah yang lebih besar. "Pergilah dulu. Aku akan menyusul." Suara pria itu tetap datar, nyaris tanpa emosi. Ia mengalihkan pandangan ke layar ponsel yang masih menyala, seakan percakapan itu telah selesai. Sementara Mira tertinggal dalam diam, berdiri ragu dengan perasaan tak tenang yang perlahan merambat semakin kuat. Akhirnya ia mengangguk pelan tanpa keberatan. Ia melangkah memasuki butik mewah itu seorang diri. Para staf menyambutnya dengan salam sopan dan senyum ramah, sebab mereka semua tahu siapa dirinya. Di mata para karyawan butik tersebut, Mira bukan sekadar tamu biasa, melainkan calon menantu keluarga Vittale. Keluarga terpandang di kota itu, Mira membalas sambutan itu dengan senyum anggun walau detak jantungnya belum sepenuhnya tenang setelah kejadian tadi. Tak lama, seorang wanita yang tampak seperti asisten pribadi Efana mendekatinya. "Selamat pagi, Nona Mira. Senang bisa melayani Anda," sapanya sopan. Mira terdiam sejenak. Ia sedikit heran bagaimana wanita itu bisa mengetahui namanya? "Halo, senang juga bertemu denganmu. Terima kasih," balas Mira dengan senyum lembut. "Saya asisten pribadi Desainer Efana. Silakan, Nona, ruangannya berada di sebelah sini," ujar wanita itu sopan, lalu mempersilakan Mira masuk ke ruangan sang desainer. Di ruangan itu, desainer pilihan Sofia sendiri Efana telah menunggunya. Ia berdiri anggun di antara gaun-gaun mahal yang tergantung rapi, tatapannya tajam namun profesional, seolah tengah menilai kanvas hidup di hadapannya. Senyum tipis menghiasi wajah Mira. Untuk sesaat, ia mencoba melupakan gejolak yang masih bersisa di dadanya. "Selamat datang, Nona Mira. Akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan calon menantu keluarga Vittale. Merupakan kehormatan bagi saya untuk melayani Anda," tuturnya halus. Mira membalas dengan senyum anggun, menyambut uluran tangan itu dengan sopan. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung, Efana. Terima kasih atas sambutannya." "Namun… di mana Tuan Matteo? Apakah beliau tidak turut hadir hari ini?" tanya Efana hati-hati. Pandangannya sempat beralih ke arah pintu, seakan berharap pria itu muncul sewaktu-waktu. Mira tersenyum kaku. "Maaf, tapi Matteo masih di luar. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya, jadi ia akan menyusul nanti," ucapnya setenang mungkin, meski ada kegelisahan yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. "Oh, begitu rupanya," Efana tersenyum tipis. "Baiklah, mari kita mulai," balas Efana lembut. Pita meteran melingkari tubuh Mira dengan cekatan. Efana bekerja profesional, mencatat setiap ukuran dengan teliti. Mira berdiri diam, menatap lurus ke cermin besar di hadapannya. Pantulan dirinya terlihat anggun calon pengantin dengan masa depan yang telah tersusun rapi. Namun pikirannya melayang. Bayangan wajah Matteo yang dingin kembali muncul, bersama nada datarnya yang seolah tak tersentuh apa pun. Dadanya kembali terasa sesak. Ia mencoba menarik napas perlahan, menenangkan detak jantung yang tanpa sadar kembali tidak teratur. "Nona Mira, tolong angkat sedikit bahunya," ujar Efana, memecah lamunannya. Mira tersadar dan menurut. Ia memaksakan senyum kecil, seakan semua baik-baik saja. Padahal jauh di dalam hati, ada kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan entah karena sikap Matteo, atau firasat samar bahwa sesuatu sedang terjadi di luar sana. Setelah pengukuran selesai, mereka beralih memilih bahan dan desain gaun pengantin. Lembaran-lembaran brokat dengan tekstur halus diperlihatkan satu per satu, disertai sketsa rancangan yang dapat disesuaikan dengan keinginan Mira. Mereka mendiskusikan setiap detail dengan cermat, hingga akhirnya pilihan pun jatuh pada desain yang paling mencerminkan seleranya. Mira tersenyum girang saat membayangkan gaun pengantin sederhana rancangan Efana. Senyum itu masih tersisa ketika semuanya selesai, namun Matteo tak kunjung datang. Ia tetap duduk tenang, berusaha terlihat biasa saja. Meski begitu, kegelisahan perlahan merayap di dadanya. Pandangannya sesekali tertuju pada para pegawai yang sejak tadi setia menunggu. Dalam diam, ia merasa tidak enak hati, seolah kehadirannya sendiri justru menyita waktu mereka lebih lama dari yang seharusnya. Setelah menunggu terlalu lama, gadis itu akhirnya bangkit dari duduknya. "Maaf sudah membuat kalian menunggu. Aku akan memanggilnya dulu," ucap Mira pelan. Ia segera melangkah keluar dengan tergesa. Raut gelisah tak lagi bisa disembunyikan saat ia menyusuri setiap sudut butik, mencari sosok pria yang sejak tadi tak kunjung muncul. Ia tidak menemukannya di dalam butik. Ia akhirnya melangkah keluar dan melihat pria itu masih berada di tempat yang sama seperti sebelumnya. Dengan napas yang ditahan, Mira menghampiri Matteo yang masih sibuk di telepon. "Teo…" panggilnya lembut namun tegas. "Bisakah kamu melanjutkan telepon itu nanti saja? Mereka sudah menunggumu sejak tadi. Mari kita selesaikan dulu janji temu hari ini, setelah itu kau bebas melanjutkan aktivitasmu." Matteo menoleh sekilas ke arahnya. Wajahnya datar, sulit ditebak apa yang sedang ia pikirkan. Mira menunggu dalam diam, kegelisahan masih bergetar di dadanya. "Nanti kulanjutkan," ucap Matteo singkat sebelum menutup teleponnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, atau sekadar meminta maaf karena telah membuat Mira khawatir, ia langsung berjalan lebih dulu ke ruang temu. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, berbanding terbalik dengan pikiran Mira yang kini dipenuhi tanda tanya. Namun di balik segala kegelisahan yang menguasainya, Mira tidak ingin berpikir macam-macam. Mungkin Matteo memang sedang sibuk. Mungkin ia hanya terlalu sensitif. Meski begitu, ada perasaan tipis yang tetap mengganjal di dadanya perasaan seperti berdiri di samping seseorang yang hadir, tetapi tak benar-benar memperhatikannya. Ia tidak curiga. Ia hanya merasa… tak dianggap. Mira menarik napas pelan, berusaha menenangkan dadanya yang terasa sesak. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung tas yang ia bawa, seolah mencari pegangan agar pikirannya tidak semakin liar. Ia menunduk sejenak sebelum kembali melangkah, memaksa dirinya untuk tetap terlihat baik-baik saja. Setelah beberapa saat, Mira akhirnya berhasil membujuk Matteo untuk masuk ke ruang pengukuran bersamanya. Efana segera bekerja dengan cekatan, pita ukur melingkari bahu dan d**a Matteo dengan gerakan terampil dan profesional. Pria itu berdiri tegak tanpa banyak bicara, ekspresinya tetap tenang dan sulit ditebak. Sementara itu, Mira berdiri tak jauh darinya. Sesekali pandangannya tertuju pada sosok calon suaminya itu rapi, berwibawa, dan tetap terlihat dingin. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun semuanya kembali ia telan dalam diam. Tak lama kemudian, ruangan itu kembali dipenuhi kesibukan yang tertata rapi, seolah ketegangan beberapa saat lalu tak pernah terjadi. Sejak awal, Matteo memang terlihat tidak begitu tertarik dengan aktivitas tersebut. Untungnya, ia memiliki calon istri yang memahami banyak hal. Mira dengan sabar membantu memilihkan bahan dan menentukan desain yang paling sesuai untuknya. Di sampingnya, Matteo hanya duduk tenang, memperhatikan Mira dan Efana yang tengah berdiskusi. Sesekali senyum tipis terukir di wajah gadis itu. Tatapannya sempat bertahan sedikit lebih lama saat Mira menjelaskan sesuatu dengan penuh keyakinan. Saat itu Ada rasa kagum yang samar meski tak pernah ia ucapkan. Dengan sedikit kendala di awal, akhirnya janji temu untuk pengukuran tubuh, pemilihan bahan, hingga penentuan desain hari itu dapat diselesaikan dengan baik. Namun entah mengapa, bagi Matteo, ada sesuatu yang terasa berbeda hari itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN