*** Matteo terjaga ketika jarum jam nyaris menyentuh pukul empat pagi. Langit di luar masih terbalut gelap, hanya semburat cahaya pucat yang menyelinap lembut di sela tirai tebal. Ia menyadari posisi mereka telah berubah. Kini Mira menghadap ke arahnya, tubuh kecil itu terlipat tenang, tangannya terselip di bawah pipi seolah menjadikannya bantal. Napasnya teratur hangat, lembut menyentuh d4da Matteo setiap kali ia menghembuskan udara, seakan menciptakan irama yang hanya mereka berdua pahami. Dalam dekapannya, Mira tampak begitu mungil. Terlalu rapuh untuk dunia yang kejam, namun entah bagaimana justru terasa begitu tepat berada di sana bersandar di d4da bidangnya, seolah tempat itu memang diciptakan untuknya sejak awal. Tanpa disadari, senyum tipis terlukis di wajah Matteo.Perlahan,

