Flora menatap takut ke arah pintu dapurnya yang bergerak-gerak. badannya bergetar menahan rasa takutnya, kini, ia hanya bisa berharap detektif Monza mengerti pesan yang dikirimkannya, kalau tidak, ia akan melakukan perlawanan dan tidak akan dibiarkannya sang pembunuh berantai itu bebas begitu saja melakukan aksi kepadanya. Sementara itu, Monza yang terbangun dari tidurnya, melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak akan ada orang yang iseng membangunkannya tengah malam, kecuali untuk hal yang penting. Monza melihat id caller yang memanggilnya ternyata adalah Flora. “Kenapa Flora menghubungiku tengah malam begini.” Pikir Monza dan langsung menekan tombol hijau pada layar handphonenya. Akan tetapi Monza tidak mendengarkan sahutan sama sekali, Monza pun tet

