Aree: Terlalu Totalitas
"Bagus! Kenapa baru pulang? Nggak sekalian aja baju-baju di lemari kamu beresin, terus angkat kaki dari sini."
"Ma," desis gue, gelisah.
Bukan tanpa alasan gue baru balik ke rumah jam tujuh pagi. Gue keliling Jakarta dari jam setengah dua dan baru berani balik sekarang. Gue udah pasrah aja pokoknya. Daripada muter-muter nggak ada hasil, gue bisa pingsan karena kehausan, kelaparan, mending pulang dan ngomong jujur ke Mama kalau Douvan sama Wangga hilang.
"Apa?!" Mama berkacak pinggang. Kedua matanya melotot. "Emang nih ya. Kamu nggak bisa dikasih kebebasan sedikit aja! Baru dikasih izin sekali, malah pulang pagi!"
"Ma, dengerin aku dulu," kata gue memelas.
Gue harus mulai dari mana dulu? Sebentar, gue mau cari kata-kata pembuka yang tepat. Jangan sampai Mama marah, terus kepala gue ditabok sama penggorengan panas dari dapur.
"Itu Ma," gumam gue sambil mengusap tengkuk. Bulu-bulu halus di tangan kompak berdiri. Dua puluh empat tahun gue hidup di bumi, nggak pernah takut sama setan, apa lagi sampai merinding begini. Nah, ketimbang bilang, "Ma, Wangga sama Douvan hilang karena aku tinggalin di timezone," Gue udah ngeri parah. Beneran sampai merinding, b*****t.
"Nenek!"
"Ma, seragam Adek udah disetrika belum?"
Sontak, ujung jari gue menunjuk kedua sosok di belakang Mama. Douvan keluar cuma pake handuk di pinggang, sementara Wangga, bocah laki-laki berusia enam tahun itu muncul dengan penampilan rapi mengenakan seragam sekolah TK-nya.
"Lo berdua," tunjuk gue geram.
"Apa? Wle," ejek Douvan, menjulurkan lidahnya ke gue.
"Bu, ini daun bawangnya langsung dipotong ap—"
"Kenapa lo ada di sini?!" pekik gue, bergantian menunjuk ke Madu, eh, Honey, maksudnya.
Bodo, gue lebih suka panggil Madu, pokoknya!
"Ma, aduh! Ma—sakit!" teriak gue, berusaha menghindari amukan Mama.
Bokong gue dipukulin sama bantalan sofa, telinga gue dijewer sampai merah. Gue belum selesai ngomong, belum sempat menjelaskan apa yang terjadi, tahu-tahu dua bocah itu muncul, lalu disusul sama kedatangan Madu di rumah.
"Ini, Nek," seru Wangga, mengangsurkan sapu ke Mama dengan wajah polosnya. "Pukul aja Ayah pirang, Nek! Ayah pirang nakal!"
"Heh!" seru gue, marah. "Gue Bapak lo, nih! Harusnya—AKH! MA, SAKIT!"
Mama melempar sapunya ke sembarang tempat setelah memukulkannya ke b****g gue sampai tiga kali. Mama mengempaskan dirinya ke sofa, kemudian menarik napas panjang sesekali dikipasin sama Douvan menggunakan kedua tangannya.
Wangga menyodorkan segelas air dingin ke Mama, dan Mama menerimanya. "Kamu emang baik," puji Mama. "Semoga nanti saat Wangga udah besar, jangan tiru kelakuan Ayah pirang kamu ya."
"Hmm!" Wangga menganggukkan kepalanya.
Woah, chemistry yang sangat apik sekali ya. Gue berasa lagi nonton serial azab di TV. Seorang Nenek sedang menasihati cucunya supaya nggak nakal dan ngikutin kelakuan jelek Bapak moyangnya! Dan gue, berasa jadi tokoh antagonis di sini! Padahal, mereka yang sering menganiaya gue!
"Coba jelasin, kenapa mereka berdua kamu tinggal di timezone? Kamu ke mana? Mama bilang apa, ajak mereka ke mana pun kamu pergi! Kenapa malah ditinggalin sampai mal udah tutup!" bentak Mama. "Untung si Mini nemuin mereka, dikasih tempat tidur, makan, dan minum gratis di rumahnya! Coba kalau ditemuin orang lain, mereka udah disuruh ngemis di jalan!"
"Ma!" Gue mendesah panjang. Menekan telapak tangan ke kening sesekali mendengus. "Ya nggak mungkin lah! Siapa juga yang mau angkut badan gendutnya Douvan? Belum diculik, orang udah takut duluan lihat badan dia!"
"Nggak usah ngatain gendut juga kali!" sembur Madu, ikut-ikutan mengomeli gue. "Lo tahu? Biarpun Douvan adek lo, sama aja lo udah body shaming ke dia barusan!"
"Tuh, dengerin!" sahut Mama, marah. "Mama sama Papa kuliahin kamu biar jadi orang bener! Bukan malah makin nggak bener begini!" Mama mengelus d**a. "Sia-sia Mama keluarin uang buat kuliah kamu selama ini, dong! Sampai sekarang, pun, kuliah kamu aja nggak beres!"
Di sini, orang-orang kayak kompak memojokkan gue. Mama terlalu sayang sama Wangga kali, ya. Entah efek kecewa sama gue, makanya Mama kayak dendam banget. Gue diam doang, diomelin. Apa lagi bikin kesalahan dengan ninggalin Wangga di timezone dan lupa menjemput? Beneran deh, sepertinya, gue bakal angkat kaki dari rumah ini.
Kadang gue kesal, sebal pun iya. Semenjak ada Wangga, Mama cuma peduli sama bocah itu. Biarpun yang mulai duluan si Wangga, ya gue juga yang bakal kena! Mama mikirin perasaan gue selama ini nggak, sih? Terus, harus banget bahas-bahas masalah kuliah gue yang belum kelar juga?
"Aku jelasin pun, Mama nggak bakal percaya."
"Percaya sama kamu, itu sama aja musyrik!" balas Mama. "Douvan udah cerita semuanya ke Mama."
Ya, terus, ngapain juga nyuruh gue jelasin tadi?!
"Oh ya." Mama menatap gue lurus-lurus. "Mulai sekarang, uang jajan kamu, Mama potong lima puluh persen!"
"Ma, nggak bisa gitu, dong!"
"Kenapa nggak?" Mama mengangkat kedua bahunya. "Setengah dari uang jajan kamu bakal Mama buat untuk biaya jasanya Mini," tunjuk Mama ke Madu.
"Tunggu, jasa apa?" tanya gue, heran.
"Mulai besok, Mini kerja sama Mama. Setengah bantuin Mama ngurus cathering, sesekali bantuin jaga Wangga."
"Kenapa harus pake uang aku kalau gitu?!" protes gue nggak terima. "Wangga, kan, cucu Mama!"
"Loh! Tapi, kan, kamu bapaknya!" balas Mama, memasang ekspresi dibuat-buat.
Totalitas Mama dalam menghukum gue emang perlu kasih standing applause, sih. Selain merenggut delapan puluh lima persen kebebasan gue, menyuruh gue ini dan itu, sekarang, uang jajan gue dipotong sampai lima puluh persen! Sebanyak itu, ya Tuhan! Gue jajan apa ntar, hei?!
"Kalau mau dapet uang tambahan, kerja dong makanya," ujar Mama, melipat kakinya.
"Aku aja belum lulus! Mana bisa aku kerja," sungut gue.
"Kerja sama Mama," jawab Mama cepat dan lugas. "Kamu bisa kerja jadi tukang antar makanan di kedai bakso Mama nanti."
"Kedai bakso?" Dahi gue berkerut. Gue diam selama beberapa detik untuk mencerna kata-kata Mama. Sepuluh detik kemudian, gue baru sadar. Ternyata, "Mama beneran pengin kaya banget sampai mau buka kedai bakso juga?! Mama mau nyaingin siapa sih, Ma?"
"Iya! Kenapa? Mama mau nyaingin Nia Ramandani! Ada masalah sama kamu, hah?!"
"Ma," Douvan menjawil bahu Mama. "Bukannya, Nia Ramadani makin kaya karena suaminya, ya?"
"Hush!" Mama mencubit lengan Douvan. "Pokoknya, selama kamu kerja sama Mama, Mama janji, bakal kasih gaji sesuai kinerja kamu! Gimana?"
"Nggak," tolak gue. "Mending aku puasa kalau gitu!"
"Oh, bagus! Bisa nambah pahala. Sekali-kali kamu berhenti nimbun dosa! Ikut panas Mama rasanya karena kamu berbuat maksiat terus!"
Kena lagi kan, anjing!
To be continue---