Aree: Mampus, Digoreng Mama!
"Inget, jangan ke mana-mana sampai gue balik."
"Bang," Douvan memegangi lengan gue. "Abang tadi janji ke Mama apa?" Badan bongsornya berada di depan gue persis. "Abang boleh pergi main, asal kita berdua ikut."
Gue mendorong kepala Douvan. "Nah, lo udah ikut, kan? Apa lagi?"
"Tapi, kenapa kita berdua Abang tinggal di sini?" Douvan menunjuk ke sekitar.
Kedua tangan gue berada di pinggang, di kanan dan kiri, sementara pandangan gue tertuju lurus pada Douvan. Ya emang sih, Mama memperbolehkan gue pergi main, asal, membawa Douvan dan Wangga! Haha, Mama gue ajaib nggak, sih? Gue ini mau main sama teman-teman gue, mau nongkrong, mau ngobrol banyak hal, mau minum juga! Kenapa harus digelendotin bocah-bocah?
"Gue udah kasih lo uang buat main sepuas lo." Gue mendekap kedua bahu Douvan. "Kalian boleh main apa pun. Asal," Gue menunjuk Douvan dan Wangga bergantian. "Ini bocah, jangan sampai hilang! Kalau hilang, itu artinya apa? Mama beneran bakal pesan batu nisan yang ada nama guenya."
"Kalau aku hilang, bukannya kamu seneng?" sahut Wangga, raut wajahnya ngajak ribut banget.
"Iya seneng," sambar gue. "Tapi nggak lama, nyawa gue bakal melayang di tangan Nenek lo."
Keinginan terbesar gue sekarang cuma satu, Wangga pergi dari kehidupan gue, keluarga gue, pokonya pergi sejauh-jauhnya dan berhenti membuat hidup gue kacau balau! Mungkin, sekarang Wangga nggak akan paham penderitaan yang gue alami semenjak dia muncul. Dan keluarga gue tahu! Nanti, saat dia udah besar, dia akan tahu betapa merepotkannya berhadapan dengan anak kecil kayak dia!
"Buruan sana!" usir gue, mendorong bahunya Douvan lalu Wangga. "Inget ya. Jangan keluar dari tempat ini sampai gue jemput! Ngerti?!"
Sial, mereka malah ngeloyor pergi!
***
Ah, anjing. Gue lupa waktu saking asyiknya main sama teman-teman di kelab. Bahkan gue nggak ingat meninggalkan Douvan dan Wangga ke timezone! Sekarang jam berapa? Jam satu lewat! Mampus. Gue beneran bakal digoreng sama Mama di rumah!
Gue lari-lari dari sana kemari mencari Douvan dan Wangga di sekitar timezone. Mal udah sepi. Toko-toko yang gue lewati pun tutup dan lampunya mati. Gue naik ke lantai di tempat timezone berada. Waktu di sana, udah nggak ada siapa pun kecuali beberapa penjaganya. Mesin-mesin permainan pun dimatikan, beneran nggak ada satu pengunjung aja di sana.
Mencari sosok Douvan, tuh, nggak bakalan susah. Cowok remaja yang duduk di bangku SMA tersebut punya tubuh yang besar dan tingginya melebihi gue. Nggak mungkin nggak bakal kelihatan dong, sementara di timezone nggak ada pengunjung mana pun selain penjaganya! Mampus, mampus! Kayaknya, ini malam terakhir gue bernapas.
"Makasih, Mbak," kata gue setelah mendapat jawaban dari seorang penjaga timezone.
Waktu gue tanya mereka melihat Douvan dan Wangga yang gue sebutkan ciri-cirinya, mereka bilang, mereka nggak melihat siapa pun. Semua pengunjung di sana, termasuk anak-anak udah pergi dari beberapa jam yang lalu. Gue mendesah panjang tanpa kentara. Gue harus cari mereka ke mana? Sementara jam terus berputar, sedangkan Douvan sama Wangga belum ketemu.
"Apa mereka udah pulang?" gumam gue kepada diri sendiri.
Dalam hati gue meyakinkan diri kalau Douvan dan Wangga udah balik ke rumah duluan. Ya, kan? Mungkin Wangga emang anak-anak yang nggak tahu jalan pulang. Tapi, dia pergi sama Douvan! Adek gue udah SMA, mana mungkin nggak tahu alamat rumahnya sendiri!
Gue mengelus d**a. Menarik napas lega, menuruni eskalator buru-buru. Lihat aja, sampai rumah ntar, gue damprat mereka berdua karena udah bikin gue nyaris kena serangan jantung!
Ketemu Mama di saat Wangga hilang, itu lebih bikin berdebaran ketimbang berhadapan sama malaikat maut! Sumpah!
***
Sesampainya di rumah, Mama sama Papa udah tidur. Gue melepas kedua sepatu lalu berjalan mengendap-endap pergi ke kamarnya Douvan. Mereka sekarang pasti lagi enak-enakkan tidur, sementara gue udah keringat dingin memikirkan mereka ke mana.
Sambil meremas kesepuluh jari dan menyiapkan berbagai makian di luar kepala, gue mendorong pintu kamar Douvan. Tapi, begitu pintu kamarnya terbuka lebar, gue nggak menemukan siapa pun kecuali bantal dan guling di atas ranjang.
Mereka belum pulang ya, b*****t.
Tanpa berkaca pun, gue tahu wajah gue berubah pucat pasi sekarang. Douvan dan Wangga nggak ada di rumah, otomatis, mereka belum pulang dong? Ke mana mereka, sih? Gue udah cek timezone dan beberapa area di mal sana. Siapa tahu Douvan lagi muterin mal, kan, bisa aja. Tapi emang beneran nggak ada!
"Loh, Mas Aree," sapa Mbok Dar, tahu-tahu muncul dari belakang.
Gue menjilat bibir bawah, gelisah. "Mbok lihat Douvan sama Wangga, nggak?"
Dahi Mbok Dar berkerut, bingung. "Kan, pergi sama Mas Aree tadi. Kok, nanya sama Mbok, sih, Mas?"
Gue meringis. Menepuk kening dengan panik. "Belum pulang berarti ya? Aduh, mereka ke mana, anjir!"
Mbok Dar memandangi gue sampai kepalanya miring. Mungkin aja wanita itu bingung kenapa gue ngomel sendiri, sehabis itu, pertanyaan Mbok Dar bikin gue makin panik.
"Dari tadi Ibu sama Bapak nungguin Mas Aree pulang." Mbok Dar celingukkan. "Sampai Ibu ketiduran di depan tadi pas nungguin Mas pulang. Abis itu, disuruh pindah ke kamar sama Bapak."
"Mbok," seru gue. "Kalau Mama bangun, jangan bilang apa-apa dulu ya. Aku mau pergi dulu."
"Mas Aree mau ke mana lagi? Aduh! Nanti Ibu bisa marah," kata Mbok Dar.
"Mbok, aku dalam bahaya," adu gue, Mbok Dar langsung memasang ekspresi terkejut.
"Bahaya kenapa, Mas? Jangan bikin Mbok takut!"
"Aku bisa dibunuh Mama, Mbok," ringis gue, ngeri. "Douvan sama Wangga hilang!"
"Kok, bi—"
"Ceritanya panjang, Mbok," potong gue. "Aku pergi dulu ya. Inget, jangan ngomong apa pun selama Mama nggak tanya! Bisa bantu aku, kan, Mbok?"
Mbok Dar kelihatan bingung. Antara mau bantu, tapi takut juga. Kalau udah urusan Wangga hilang, marahnya Mama udah nggak bisa ditolong lagi. Tinggal siapin mental aja. Mau dicoret dari KK, atau disiapin batu nisan sama perlengkapan pemakaman.
"Aduh, Mas, Mbok jadi bingung!"
"Aku pergi, Mbok!" seru gue, menjejalkan jari-jari kaki ke sandatan sandal jepit.
To be continue---