Sah!

1148 Kata
Kirana Embusan angin sejuk terasa menyapu di wajahku, aku merasakan tepukan-tepukan di bagian kedua pipiku. Aku bisa mendengar orang bebicara tentang aku, namun kedua mataku masih enggan untuk terbuka. “Kiran, Kirana?” panggil seorang wanita yang ku yakini itu suara Bude Diyah, sembari menggosokkan minyak kayu putih di telapak tangan dan kakiku sementara Anya menepuk-nepuk pipiku. Aku yakin karena suara cerocosannya sejak tadi aku dengar begitu nyaring di telingaku. “Bangun, Mbak. Jangan nyusahin terus deh!” ketus Anya. Pipiku terasa sedikit perih karena ulah adik tiriku. Bagaimana tidak, dia bahkan memukul pipiku dengan sangat kuat. Mungkin saja dia menaruh dendam kepadaku. Jadi dia memanfaatkan kesempatan ini untuk membalasku. “Kamu nggak boleh begitu, Anya. Dia kakakmu, jangan kasar!” Seru Bude Diyah. Dia seolah tak terima dengan yang dilakukan oleh Anya, bude Diyah adalah istri paman Sultan. Kakak kandung dari Ayahku. “Iya bude, maaf,” kata Anya yang memang selalu berkata sarkas kepadaku. Aku membuka mata perlahan. Aku baru sadar, ternyata aku sempat pingsan tadi. Aku kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Hatiku kembali terasa nyeri dan perih. Aku menunduk dengan rasa kecewa yang kembali muncul. “Sudah jangan nangis lagi. Sebentar lagi pernikahan akan di lanjutkan. Kamu touch up lagi ya makeupnya,” kata bude, sepertinya dia menyadari jika aku akan menangis lagi. Da memng yang membantu hampir semua persiapan pernikahanku. Sementara ibu tiriku lebih memilih sibuk dengan urusannya sendiri dan hanya mau terima jadi. “Maksud bude gimana, bukankah pernikahanku sudah batal? Mas Fer. Tidak, pria itu bahkan nggak mau mendengar penjelasan dariku, bude. Aku nggak semurahan itu. Setelah mengatakan hal itu dia mau kembali lagi, aku juga masih punya harga diri,” kataku kesal. Aku bahkan enggan menyebut nama pria itu lagi karena kecewa. Napasku kembali berat ketika mengingat kejadian sebelumnya. Ayah pasti sangat malu mendengar tuduhan dan fitnah yang dilakukan oleh Ferdi kepadaku. “Bukan Ferdi kali, mbak. Lagian mana mungkin dia mau menikah dengan mbak yang jelas-jelas sudah nggak prewi lagi. Nggak tau tuh siapa yang mau sama mbak, mungkin dia buta,” sahut Anya dengan kata-kata yang membuat hatiku tercubit nyeri. Aku kesal namun kali ini tak bisa membalas ucapannya. Aku masih merasa lemas untuk sekadar berdebat dengan anak itu. “Astagfirullah Anya! Sebaiknya kamu keluar deh. Bikin bude tambah meriang saja dengerin kamu. Tadi ibumu sekarang kamu, kelian ini memang ya!” kata Bude Diyah mendorong Anya keluar menuju pintu dan segera menutup kembali pintu itu. Bude segera kembali berjaan ke arah di mana aku duduk. Hanya ada aku bude dan seorang MUA yang memang di sewa untuk meriasku di hari ini. “Mbak, saya rapikan makeup-nya ya, itu berantakan,” kata Mbak Dewi yang terlihat sedikit takut dan ragu. Jujur saja aku sebenarnya sudah enggan melanjutkan acara ini. Aku juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku bahkan belum bisa menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya. Entah, apakah masih ada yang akan percaya dengan penjelasanku nanti. “Maaf ya, mbak. Malah jadi berntakan begini. Nanti aku kasih kompensasi deh karena acara jadi molor,” kataku yang merasa tak enak kepada mbak Dewi. Aku yakin jadwal mbak Dewi padat hari ini. Apalagi ini adalah bulan musim pengantin. Mungkin saja ada beberapa client yang menunggunya di hari ini juga untuk menggunakan jasanya. “Nggak usah, dek. Yang penting acara lancar. Mbak tau perasaanmu saat ini. Kamu yang kuat ya, mbak yakin jika ini semua hanya fitnah,” kata Mbak Dewi mencoba menguatkanku. Dia bahkan mengenggam kedua tanganku. Tangisku semakin pecah saat ini. Mbak Dewi memelukku dengan erat. Aku memang sudah mengenal wanita yang berumur 10 tahun di atasku sejak aku kecil. Aku sengaja memakai jasa riasnya, selain kenal juga karena memng hasil makeupnya yang bagus dan mangklingi kata orang tua. Bude Diyah tersenyum berjalan ke arahku. Aku segera mengurai pelukan mbak Dewi dan segera mengambil beberapa lembar tisu yang ada di meja rias untuk mengelap air mataku yang sudah membasahi pipi. Sebelum mbak Dewi merapikan makeupku. Aku menarik napas dalam mencoba menenangkan hatiku, kucoba segala cobaan di hari ini dengan iklas. Walaupun itu sangat sulit tentunya. “Kamu ikuti saja apa kata Ayahmu ya, nduk! Ini demi kebaikanmu,” katanya. Aku bahkan tak tau apa maksud dari semua ini. Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan dari bude Diyah. Tapi sejujurnya aku sama sekali sudah tak memiliki minat mendengarkan apapun itu. Aku mendengar suara penghulu dari balik kamar, ternyata acara ini benar di lanjutkan. Ya Tuhan scenario apa yang Engkau gariskan untukku. Kenapa setiap hari terasa begitu berat bagiku. “Saya nikahan engkau Dirgantara Davindra bin Andra Derriawan dengan putri saya sendiri Kirana Vinaya binti Gandi dengan maskawin uang tunai 77.000 rupiah dibayar tunai!" Kupejamkan mataku ketika namaku di sebut oleh seorang pria yang tengah mengucap janji di depan penghulu, Ayah dan juga Allah. Karena setelah ini aku tak bisa kembali ke masa sebelumnya. Aku iklhas ya Allah, jika ini jalan terbaikmu. “Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Vinaya binti Gandi dengan maskawain tersebut dibayar tunai!” “Bagaimana para saksi?” “Sah!” “Alhamdulilah ....” Suara semua orang terdengar serempak mengucap syukur telah terlaksananya akad dengan khidmad. Mbak Dewi sudah selesai merias wajahku. “Selamat ya, Kiran. Semoga pernikahanku langgeng sampai maut memisahkan. Mbak yakin dia pria baik yang dikirim Tuhan untuk kamu. Kamu iklas saja menerima jalan ini,” kata Mbak Dewi dengan tulus. Aku yakin dia mencoba menghiburku. “Aamiin.” Wanita mana yang mau di hari bahagianya menjadi seharusnya menjadi hari paling membahagiakan menjadi momen paling menggores luka dan trauma. Tentu aku tak mau itu terjadi. Aku mengira dia pria yang mencintaiku, namun ternyata akupun salah. Aku iklas jika dia bukan jodohku, aku terima garis takdirku. Sekarang aku telah menjadi istri orang. Aku juga tak tau siapa pria malang yang mau menutup aib keluargaku itu. Dirgantara Daviandra, nama itu seperti tidak asing di telingaku. “Ayo kita keluar, nduk. Suamimu sudah menunggu di depan. Senyum ya bude selalu di sampingmu,” kata Bude Diyah sembari mengapit lenganku. Aku hanya mengangguk. Jujur saja, aku merasa deg-degan saat ini. Kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan siapakah sosok pria yang menjadi suamiku saat ini. Kami melangkah perlahan dan sedikit hati-hati. Balutan kain batik dengan kebaya berwarna putih khas adat sunda membuatku tak leluasa berjalan dengan langkah panjang. Kami tiba di depan rumah yang menjadi tempat di langsungkannya acara akadku. Aku melihat begitu banyak tamu undangan yang berbisik membicarakan. “Cantik ya, si Kirana.” “Iya, cantik. Tapi kok pengantin lakiknya beda sama yang di poto ya, lebih ganteng, tapi sayang pake kacamata,” sahut salah seorang dari tamu undangan itu. “Iya ya, aku baru nyadar deh,” timpal yan lain. Aku bahkan masih bisa mendengar bisikan-bisikan yang lainnya. Namun aku mencoba mengabaikan semua itu. Aku semakin berjalan ke arah di mana pria itu berdiri. Pria yang sudah sah menjadi suamiku beberapa waktu lalu. Pria itu tersenyum ke arahku. “Dirga!” gumamku. Setelah menyadari siapa pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN