Nirmala duduk di tepi ranjangnya dengan jantung yang masih berdebar keras. Detak jantungnya jelas melebihi batas normal biasanya. Semua itu bermula ketika dia dan Ivan bercum.bu di bioskop seolah hanya ada mereka di ruangan itu. Suatu hal yang sama sekali tidak pernah Nirmala alami karena dengan Rafi, dia Cuma duduk berdempetan saja. Otaknya memberikan kilas balik tentang kejadian dua jam yang lalu. Film yang mereka berdua tonton tidak lagi menarik usai itu. Nirmala juga malah tenggelam dalam ciuman yang dimulai oleh Ivan, bukannya menolak dan menyudahinya. Tangannya juga ia kalungkan ke leher Ivan dan memberi usapan di sana seiring juga dengan usapan tangan Ivan di pinggangnya. Meski tangan pria ini naik sampai ke bawah dua “gunungnya”, Ivan tidak sampai melebihi itu. Ivan melepaskan

