Sangat Menyenangkan

2048 Kata
Gempita lantas berlari ke tengah hujan, perempuan itu lantas berputar dan menari-nari. Sangat ceria, begitulah caranya mengusir pedih di hatinya. Rambut dan baju telah basah kuyup. Dingin sekali, tapi tak membuatnya berteduh juga. Dia sangat menyukai hujan. Baginya hujan sangatlah istimewa dan menyenangkan sekali. Sudah cukup lama dia menantikan kedatangan hujan, dia tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Sementara Genta masih terdiam di tempatnya. Dia menatap Gempita yang terlihat gembira bersama hujan. Genta teringat dengan Tamara yang juga suka dengan hujan. Perempuan itu selalu saja mencari celah ketika ada hujan. Tamara juga senang menari dan berlarian di tengah hujan. Tidak peduli lagi pada orang yang melarangnya. Bagi Tamara, hujan menjadi obat untuk dirinya. Hujan menyamarkan tangisnya ketika rasa sakit atas kemoterapi menyerang. Begitulah Tamara. Ketika sakit saja dia masih berusaha untuk bermain hujan. Meski berulangkali Genta mengingatkannya, Tamara tetap kekeh. Dia tetap bermain hujan. Dan pada akhirnya Genta luluh, dia membiarkan Tamara bermain dengan hujan. "Hey! Apa yang kamu pikirkan? Ayo menari denganku!" Gempita menghampiri Genta yang melamun, dia mengajak Genta hujan-hujanan. Kedua tangan mereka saling bertaut, dan Gempita mengajak Genta berputar bersamanya serta mengikuti seluruh gerakannya. Mereka berdua menari-nari tak peduli apa yang akan terjadi setelah ini. Intinya keduanya sedang mencari bahagia, dan akhirnya mereka mendapatkannya. Mereka cukup bahagia. Tiba-tiba saja Genta terduduk lemas di tanah, dia tak sanggup lagi, dia tidak bisa menikmati hujan dengan baik. Dulu bersama Tamara, dia juga sering melakukan hal sederhana seperti ini— menari di tengah derasnya hujan. Ingatan lalunya kembali datang. Genta kembali sedih. Wajah Tamara semakin teringat jelas, begitu pula segala kenangan yang telah tercipta. Sungguh, Genta ingin kembali ke masa itu. "TAMARA, AKU MERINDUKANMU!" teriak Genta dengan isakan tangis. Tak begitu jelas karena larut bersama hujan. Air matanya bercampur dengan air hujan. Benar-benar sedih rasanya. Dadanya pun begitu sesak. Genta meraung-raung, memukuli tanah yang menjadi tempatnya berpijak saat ini. Dirinya merasa bersalah karena merasa tidak bisa membuat Tamara bertahan. Meski banyak yang menyadarkan jika kematian adalah takdir, tapi Genta tetap merasa bersalah akan kematian Tamara. Harusnya dia membawa Tamara berobat kemana pun asalkan bisa pulih. Genta harusnya membuat perempuan itu bertahan hingga saat ini. Tapi semuanya berakhir begitu saja. Gempita membimbing Genta untuk berteduh. Perempuan itu sendiri jadi ikut bersedih melihat Genta yang terisak, dia tahu bagaimana rasanya menjadi Genta. "Hidup tetap berjalan, Genta. Kamu tidak bisa jika seperti ini terus. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, aku juga bisa merasakan betapa sakitnya ditinggal pergi. Tapi yang jelas, kita tidak boleh terus menerus membiarkan diri direnggut dengan kesedihan," tutur Gempita pelan. Dia memeluk dirinya sendiri merasakan dingin. Setelah menghindari hujan memang baru terasa dinginnya. Kini mereka sudah berteduh di parkiran pemakaman. Genta bersandar di dinding karena dirinya benar-benar lesu dan tidak berdaya. Tangisnya memang sudah terhenti, tapi tidak dengan kesedihannya. Genta tetap sedih. Hanya itu yang dia rasakan. Dinginnya udara dan tubuhnya yang basah kuyup tidak dihiraukan. "Aku mencintainya. Begitu dalam. Tapi Tuhan begitu jahat karena memisahkanku dengannya...." Genta mengusap wajahnya yang masih basah dengan kedua tangannya. Kini jelas sekali bahwa mata Genta masih memerah, dan masih ada air mata yang menggenang di pelupuknya. Lesu sekali hingga orang di dekatnya enggan untuk menatapnya. "Bangkitlah! Cari kebahagiaan lain. Aku yakin jika kebahagiaanmu tidak semata-mata karena perempuan itu. Kamu bisa bahagia tanpanya. Cukup simpan segala hal tentangnya dalam hatimu." Gempita berharap nasihatnya kali ini bisa didengar dan dipraktikkan oleh Genta. Lelaki itu lantas menatap Gempita yang terlihat sungguh-sungguh usai perkataannya berakhir. Perkataannya tadi benar jika kebahagiaannya tak semata-mata bersalah dari Tamara. Hanya saja dirinya enggan bergerak dari zona nyamannya sehingga kesedihan lebih mendominasi untuk saat ini. "Kehilangan memang tidak akan jauh dari kehidupan manusia. Semuanya akan merasakan hal itu, bahkan juga bisa menjadi bagian yang hilang itu. Kita semua akan pergi. Jika memang yang pergi terlebih dahulu itu kekasihmu, maka tidak masalah. Itu berarti Tuhan juga terlampau mencintainya. Yang harus kamu lakukan hanyalah merelakan, mendoakannya, dan tidak boleh terus larut dengan kesedihan yang tidak berujung." Gempita kembali berkata panjang lebar tanpa menatap Genta. Gempita menatap rintik yang masih mengguyur tanah. Tatapannya kosong dan sedih. Dia sendiri jadi sedih karena teringat sesuatu. Gempita juga merasakan kehilangan sama seperti Genta. Bedanya dia mampu keluar dari zona kesedihan, dia mampu mencari kebahagiaan untuk menutupinya. Sementara Genta kembali terhenyak. Entah kenapa perkataan Gempita sangat mengena di hatinya. Dia seolah mendapat pukulan atas kesalahannya yang terus menerus larut dalam kesedihannya. Genta seperti mendapat semangat juga— semangat baru. Dia tersadar, tapi belum tahu harus berbuat apa setelah ini. Hujan masih mengguyur, namun tak sederas tadi. Kedua insan itu kini telah berada di dalam mobil. Genta hendak mengantarkan Gempita pulang, sebagai ungkapan terima kasih karena turut menguatkan dirinya. Ya, Gempita menyadarkan Genta. Oleh karenanya, Genta harus membalasnya. "Genta, bolehkah aku memutar lagu?" tanya Gempita. Entah kenapa dia tertarik dengan playlist lagu di mobil Genta. Dan usai mendapat izin dari pemilik, Genta pun segera menekan lagu di playlist pertama. Lagu berjudul Rela yang dibawakan oleh Shanna Shannon. Gempita sendiri belum pernah mendengarkan lagu tersebut. Lagu diputar hingga selesai, lirik dua bait lagu di atas rupanya sangat sesuai dengan kesedihan Genta, sangat mengena. Gempita terhenyak mendengarkannya. Selain suaranya merdu, lirik yang disajikan dalam lagu tersebut juga penuh makna. Gempita jadi teringat dengan seseorang yang pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu dengannya. Dia jadi sedih, namun terlalu pandai menyembunyikannya hingga yang nampak tetap keceriaan seperti biasanya. "Sepertinya lagu yang kamu suka bernuansa sedih semua, ya?" seru Gempita menoleh ke arah Genta yang sedang fokus mengemudikan mobil. "Mungkin," sahut Genta singkat, dia hanya menoleh sekilas ke arah Gempita. Larut dengan lagu yang sangat mengharukan Gempita sampai tidak tahu bahwa dirinya telah sampai di rumah. Dia tersadar saat Genta menatapnya begitu lama. Ah, ternyata dia terlalu lama melamunkan lagu-lagu sedih milik Genta. Ternyata hujan kembali datang. Sangat deras, Gempita jadi enggan keluar karena dirinya sudah lelah untuk main hujan. Tapi tidak mungkin terus menerus berada di mobil Genta. Beruntung Ayahnya keluar saat mendengar suara mobil. Dan beruntungnya pula membawakan payung untuk Gempita. "Genta, terima kasih telah mengantarkanku pulang," ucap Gempita seraya melepas sabuk pengamannya. "Ah, iya, maaf mobilmu jadi basah," lanjutnya karena tersadar bahwa dirinya masih basah kuyup dan memasuki mobil Genta. "Ya, tidak masalah. Nanti juga kering," sahut Genta. Gempita kemudian membuka kaca mobil, dia melambaikan tangan kepada Ayahnya yang masih berdiam diri karena pasti memastikan terlebih dahulu apakah yang berada di mobil itu anaknya atau bukan. Dan setelah tahu betul itu anaknya, ayahnya pun segera menghampiri. "Astaga. Kamu basah kuyup, padahal naik mobil," ucap ayahnya seraya menggelengkan kepalanya. Heran dengan anaknya yang basah kuyup, padahal naik mobil. "Kehujanannya sebelum masuk mobil, Pah," sahut Gempita terkekeh. Dia membuka pintu pelan-pelan dan ikut berpayungan dengan Ayahnya. Dia memeluk dari samping supaya tidak semakin basah kuyup karena hujan. "Singgah dulu sebentar, Nak," sapa ayah Gempita pada Genta. Dia kasihan dengan lelaki yang mengantarkan anaknya pulang itu ternyata juga basah kuyup. Benar-benar tidak tega. Awalnya Genta memang tidak mau. Dia memilih untuk segera pergi. Tapi Ayah Gempita terus memaksa. Dia pun akhirnya mau untuk mampir terlebih dahulu. Lagi pula tidak ada salahnya untuk berdiam diri sejenak sembari menunggu hujan kembali reda. "Gantilah bajumu dengan baju Papaku," ucap Gempita seraya memberikan pakaian lengkap kepada Genta. Gempita telah berganti baju, dan setelah itu dia langsung mengambilkan baju untuk Genta yang sudah pasti sangat kedinginan karena bajunya juga basah. "Ah, iya, biar tidak sakit," timpal Papanya Gempita. Baik dan perhatian sekali. Terlihat sangat menyayangi anaknya juga. Genta hanya bisa menurut. Dia sendiri sudah tidak tahan karena tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Dia pergi ke kamar mandi yang telah ditunjukkan Gempita tadi. Tak perlu waktu lama Genta berganti pakaian. Dia pun juga telah mengemas pakaian basahnya untuk dibawa pulang. Genta merasa malu saat keluar dari kamar mandi usai berganti pakaian milik Pak Hideko. Dan benar saja, Genta ditertawakan sang pemilik rumah dan anaknya. Bagaimana tidak, Pak Hideko berbadan besar tentu saja pakaiannya juga besar. Kaos biru tua itu terlihat besar sekali di tubuh Genta yang kurus. Dan celana panjang itu terlihat seperti kulot saat Genta pakai. Pinggangnya yang lebar membuat celananya melorot terus hingga Genta pun memegangnya erat. "Kaos dan celananya kebesaran hehe...." Genta jadi salah tingkah sendiri saat kembali duduk di samping Pak Hideko yang sedang menikmati ocha— teh khas Jepang. Dia berusaha menahan malunya. Yang penting baginya saat ini tidak mengenakan baju yang basah kuyup dan kedinginan lagi. "Tidak masalah. Yang penting kamu tidak akan sakit nantinya karena sudah berganti baju," ucap Pak Hideko tergelak, diselingi dengan tawa lebar Gempita. Sementara Genta hanya diam. "Tapi lucu sekali. Ini bukan Genta yang kukenal," cicit Gempita dengan tawa yang lepas. Dia selalu melihat Genta berpakaian rapi. Kemeja yang berbalut dengan jas, kaos dengan berbalut jas, atau hanya memakai kemeja saja. Itu pun selalu pas di tubuhnya hingga lekuknya pun terlihat. Intinya sangat sesuai. Tapi kali ini dia melihat lain, baju dan celana yang kebesaran bukanlah outfit yang tentu juga tidak disukai Genta. Sementara Genta hanya bisa diam. Dia sedikit kesal dengan Gempita yang semakin keras saja suara tawanya. Genta jadi ingin membungkam mulutnya supaya tidak mendengar tawa ledekan. Ah, tapi Genta harus benar-benar mengurungkan niatnya. Gempita sudah berniat baik padanya. "Aaa... Minumlah ocha ini biar tubuhmu hangat," seru Gempita sembari mengulurkan secangkir ocha ke hadapan Genta. Perempuan itu menyudahi tawanya karena takut juga dengan Genta yang sifatnya pemarah. Genta lekas menerimanya. Tangannya merasa hangat memegang cangkir tersebut. Diseruput sedikit teh hijau khas Jepang itu. Enak dan menghangatkan. Cocok sekali dengan orang yang baru saja bermain hujan-hujanan. Cukup lama Genta tidak merasakan minuman khas Jepang itu, dia jadi rindu hendak terbang ke sana. Awalnya memang canggung. Wajar pula karena baru pertama kali bertemu. Semakin ke sini Genta semakin mengenal Pak Hideko yang ternyata hampir sama seperti Papanya; humoris dan supel. Mereka mengobrol ke sana kemari hingga gelak tawa tercipta. Genta pada akhirnya bisa tertawa lepas setelah kesedihannya tadi. Gempita yang bijaksana ternyata menurun dari Papanya. Pak Hideko merupakan orang yang bijaksana, Genta belajar banyak hal darinya. Semangat Genta semakin menggebu apalagi saat dia mendengar beragam cerita pilu Pak Hideko hingga akhirnya kesuksesan tercapai. Genta semakin semangat bekerja hingga akhirnya dia mencapai titik lebih dari sukses. Genta kembali saat hampir gelap. Dia tentu saja berpamitan dengan baik pada orang yang telah memberikannya baju ganti dan minuman hangat. Dia sangat berterima kasih karena bisa diterima dengan baik oleh penghuni rumah tadi. Hari ini banyak hal yang dilalui Genta, ada suka yang terselip dalam duka. Lelaki itu sampai di rumahnya ketika hari sudah gelap. Dia melangkah menghampiri Papa dan Mamanya yang sedang berpelukan menyaksikan serial drama. Dia duduk di tengah mereka hingga akhirnya pelukan pun terlepas. Kebiasannya memang seperti itu ketika Papa dan Mamanya bersama. Sama seperti yang Kale lakukan. Mereka selalu membuat Papa dan Mamanya geleng-geleng. "Kebiasaan!" desis Pak Binar menyentil telinga Genta. Dia lantas berpindah ke samping istrinya dan kembali memeluknya. Tidak rela jika sedang asyik berpelukan tetapi malah diganggu. "Pah... Biarkan aku memeluk Mama." Genta pun berusaha untuk memisahkan mereka lagi. Dia ingin memeluk Mamanya. Genta memang belum akan puas jika pulang tidak mendapat pelukan dari Mamanya. Begitu juga dengan Kale atau Pak Binar sendiri. Mereka harus memeluk Bu Lili terlebih dahulu ketika kembali dari suatu tempat "Aih, Genta. Baju siapa yang kamu pakai? Kenapa seperti gelandangan?" seru Kale yang baru saja datang dengan makanan ringan di tangannya, duduk pula di ruang keluarga. Ternyata sedari tadi Kale berada di dapur menikmati segala macam makanan. Mungkin dia melewatkan makan siangnya. "Lah, iya? Bukannya tadi kamu pakai kemeja rapi? Kenapa sekarang jadi pakai kaos dan celana yang besar seperti itu?" timpal Bu Lili, baru saja sadar dengan pakaian anaknya. Itu bukan pakaian Genta. Mana mungkin Genta berpenampilan tanpa aturan seperti itu. Pasti telah terjadi sesuatu. Dan Genta hanya mendengus. Kesal sekali dibilang gelandangan. Dia kemudian memberikan paper bag berisikan bajunya yang basah itu kepada Mamanya. "Kamu kehujanan? Pantas saja tubuhmu dingin dan wajahmu pucat," seru Bu Lili membelai wajah Genta yang memang sedikit pucat. "Mobilmu bocor atau bagaimana? Bisa-bisanya bawa mobil kehujanan," ucap Pak Binar yang kemudian membuat Kale terbahak-bahak. Sementara Bu Lili tidak, dia malah khawatir jika Genta jatuh sakit. Genta mudah sekali sakit. "Mungkin, Pah. Coba Papa lihat," sahut Kale. Dia masih saja menertawakan dan meledek Genta. Sementara itu, Genta semakin kesal. Dia menginjak kaki Kale hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. Kale jadi tidak mau kalah, dia membalas perbuatan Genta. Mereka saling balas karena tidak mau kalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN