Asisten Pribadi

2070 Kata
"Aish, terlalu lama aku menunggu jawabanmu. Sudahlah, terserah saja!" seru Gempita. Dia sudah tak sabar lagi menunggu jawaban dari Genta. Keburu hilang ide yang bersarang di kepalanya guna melanjutkan rancangan gedung tersebut, begitu pikir Gempita. Sementara Genta nampaknya sedang bingung dan malu untuk menyadari kenyataan yang ada bahwa Gempita memiliki bakat di bidang yang sama seperti dirinya. Genta teramat malu karena awalnya sempat menyepelekan Gempita. Ternyata benar kiranya bahwa kita tidak boleh menilai dari luarnya saja, melainkan dari dalam juga. Supaya tidak salah arti dan malu seperti Genta. Genta segera mengerjakan salah satu pekerjaannya untuk menghindari pertanyaan Gempita tadi. Sedangkan Gempita pun tidak peduli lagi, dia mengambil iPad dan stylush pennya. Perempuan itu kemudian mencari tempat yang nyaman baginya— sofa di sudut ruangan Genta menjauhi si pemilik ruangan. Dia berusaha mencari ketenangan. Stylush pen pun bergerak ke sana kemari mencoba menyelesaikan rancangan gedung Genta. Gempita sangat serius merampungkannya. Dia sampai tak menghiraukan waktu dan juga Genta yang sedang membuat rancangan gedung pula untuk proyek kedua. Dia memang seperti itu jika sudah melakukan sesuatu, pasti akan sangat fokus. Sesekali Genta juga mengawasi Gempita, takut jika hal buruk terjadi karena Gempita itu bukan orang sembarangan. Ya begitulah yang Genta tahu, intinya dia harus tetap waspada dengan perempuan itu. Tapi sepertinya Genta mulai kali ini harus memberi kepercayaan penuh pada Gempita yang ternyata bisa dipercaya. "Genta... Bagaimana menurutmu? Apa ini masih ada yang perlu diubah?" tanya Gempita. Dia berjalan menghampiri Genta yang juga sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan lain. Dia pun memberikan iPad kepada Genta untuk diperiksa. Rancangan gedung yang baru setengah tadi dirampungkan Gempita. Kini sudah selesai dan sangat bagus. Genta jadi terkagum-kagum dengannya. Terlebih lagi itu sesuai dengan keinginan Genta. "Bagus juga. Tapi gedungnya nanti tidak berwarna jingga, melainkan putih biasa dan ada sedikit abu-abu di beberapa titik," seru Genta. Dia lalu mengubah warna gedung yang tadinya berwana jingga yang lembut menjadi putih dengan campuran warna abu-abu, sesuai dengan rencana sebelumnya. "Padahal jingga lebih bagus." Gempita nampak sedih dengan Genta yang mengubah warna gedung bertingkat yang baru saja dia rampungkan dengan kreativitas yang sangat tinggi. "Iya, memang bagus. Tapi kan tidak sesuai dengan konsumen. Kamu mau dikomplain dan konsumen kamu pergi semua?" Gempita mengiyakan maksud Genta. Meskipun hatinya berkehendak lain, sebagai seorang arsitek harus mengutamakan kepentingan konsumen. Arsitek hanya bertugas mengarahkan jika keinginan konsumen melenceng. Selebihnya diserahkan kepada keinginan konsumen. Konsumen sudah seperti raja, apa pun keinginannya harus dipenuhi. Mereka kemudian segera mengirimkan rancangan tersebut kepada pihak yang bersangkutan. Ternyata tak butuh waktu lama untuk itu, rancangan disetujui dan justru pihak tersebut sangat senang– mereka diberi uang lebih untuk desain tersebut. Genta sangat lega karena salah satu kerjaannya rampung. "Ehm... Genta...." "Apa? Kamu mau imbalan karena telah membantuku? Nanti aku transfer uang ke kamu. Catat nomor rekeningnya di sini," ucap Genta memberikan secarik kertas dan bolpoin kepada Gempita. Dan gadis itu menggeleng. Bukan itu yang Gempita inginkan. Lagi pula dia bukan orang yang melakukan sesuatu kemudian meminta imbalan. Dia benar-benar bukan seperti itu orangnya. "Aku tidak mau uang. Aku hanya ingin pekerjaan, aku tidak bisa kalau menganggur terus." Begitu jawaban yang diberikan Gempita. Dia hanya ingin satu— niatnya sedari awal— yaitu pekerjaan supaya hari-harinya diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Genta mengernyitkan dahi melihat Gempita berkata demikian. Dia lantas teringat bahwasanya perempuan itu dari awal memang menginginkan pekerjaan. Dia kemudian berpikir sejenak sebelum akhirnya memberi keputusan untuk Gempita. "Baiklah, kamu bisa menjadi asistenku." Perkataan Genta itu tentu saja membuat Gempita girang. Dia langsung melompat senang. Dan Gempita pun tak segan-segan memeluk Genta sebagai ungkapan rasa terima kasihnya karena telah memberikannya pekerjaan. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari ini. "Hey! Lepaskan!" Genta kelimpungan dengan pelukan Gempita yang erat sekali hingga dirinya tidak bisa bergerak bebas. "Biarkan aku memelukmu, Genta. Aku sangat senang sekali." Gempita selalu seperti itu. Tidak hanya ketika dia sedih saja yang memerlukan pelukan untuk membuatnya tenang, tapi juga ketika dia senang. Dia pasti juga akan membagi hal apa yang membuatnya senang pada orang di sekitarnya dengan cara memberikan pelukan. Cukup lama Genta membiarkan dirinya dipeluk Gempita, lelaki itu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membalas pelukannya. Dan tak lama kemudian pelukan terlepas. Genta segera meregangkan tubuhnya. Lega sekali bisa terlepas dari pelukan yang teramat erat. Genta kemudian memberikan petuah apa saja yang harus dilakukan Gempita selama menjadi asistennya nanti. Sepertinya kehadiran Gempita akan mempermudahkan Genta menyelesaikan pekerjaan. Dengan begitu Genta juga akan memiliki waktu untuk menikmati kesendiriannya. Genta berharap keputusannya menjadikan Gempita asistennya ini tepat dan tidak ada resiko di kemudian hari. Gempita bekerja mulai hari itu juga. Jadwal Genta diatur olehnya, tak hanya masalah pekerjaan saja, tetapi Gempita juga mengatur kegiatan pribadi Genta seperti kapan dia harus istirahat, makan, ibadah, dan lain sebagainya membuat Genta jadi geleng-geleng melihat list hariannya. Terlalu berlebihan, ini bukan sepenuhnya tugas seorang asisten. "Apa ada yang salah? Bukankah tugas asisten juga begitu? Dia harus memperhatikan kesehatan Tuannya juga, kan?" tanya Gempita saat melihat wajah Genta yang nampaknya kurang puas atau ada sesuatu yang salah dengan jadwal Genta. Tapi baginya itu sudah benar dan harus dilakukan oleh seorang asisten. "Ah, terserah kamu saja." Percuma juga menentang segala sesuatu yang telah dirancang perempuan itu, karena bermacam cara untuk membantahnya pun pasti telah disiapkan sebelumnya oleh Gempita. Ah, sudah tertebak oleh Genta. Lelaki itu membiarkannya begitu saja. Jika memang ada yang kurang beres nantinya, dia baru akan meluruskannya. *** Waktu bergerak tiada henti. Rasanya baru saja matahari muncul, tapi kini sudah hendak kembali lagi. Begitu cepat hingga tak ada yang sadar. Genta dan Gempita sama-sama difokuskan dengan beragam keperluan yang dibutuhkan untuk proyek bulan ini. Sampai makan siang pun terlewatkan, hingga kini malam sudah datang menjemput. "Genta... Cacing di perutku sudah menari-nari." "Siapa yang melatih mereka menari? Pandai sekali," jawab Genta acuh. Dia bahkan tak menatap lawan bicaranya, dan asyik mengamati ponselnya. Genta ingin menertawakan jawabannya tadi yang ternyata cukup menggelikan, tapi dia terlalu pandai menjaga image-nya di hadapan Gempita. "Mungkin Papaku yang melatihnya. Ah, tidak tahu juga. Tapi intinya mereka menari dan memberontak meminta makanan...." Efek lapar membuat Gempita ikut menggila hingga jawaban aneh pun diberikannya. Nampaknya bukan hanya Gempita saja yang akan merasakan hal demikian, melainkan juga semua orang yang kelaparan. "Kemasi barang-barangmu. Hari ini sudah cukup, besok kita lanjut lagi." "Hm, baiklah." Usai berkemas, Gempita langsung keluar dari ruangan Genta tanpa menunggu lelaki itu terlebih dahulu. Dan yang membuat Genta kesal adalah Gempita yang ternyata sudah duduk di mobilnya. Dia pikir Gempita pulang terlebih dahulu karena saking laparnya, tapi ternyata tidak. "Ayo Genta... Belikan aku makanan, aku sudah lapar." Sebenarnya Genta hendak pulang ke rumahnya untuk menikmati santap malam bersama Papa dan Mamanya. Tapi tidak mungkin membawa Gempita, takut jika Papa dan Mamanya berpikiran yang tidak-tidak. Dia jadi teringat obrolannya bersmaa mereka beberapa waktu lalu yang menyudutkannya bersama Gempita. Maka dari itu Genta mengajak Gempita ke sebuah tempat makan yang tak jauh dari sana. Dia tidak akan membawa Gempita ke rumah lagi. *** Di sisi lain, seorang laki-laki tampan sedang bercanda ria dengan seorang perempuan yang cantik pula— yang mana juga sudah lama akrab dengan laki-laki tersebut, yaitu Kale. Sementara si perempuan bernama Elena. Mereka berdua baru saja tiba di sebuah tempat makan pecel lele yang duduknya lesehan. Elena merupakan salah satu barista di kedai kopi Kale yang juga merupakan barista yang teramat dekat dengan si pemilik kedai kopinya. Belum cukup lama mereka bersama, hanya saja sudah sangat akrab seolah bertemu lama sekali. Begitulah jika memang satu frekuensi, mereka akan lebih cepat akrab. "Aish, pedas sekali. Seperti amarah Mamaku," ucap Kale saat menikmati suapan pertama lele goreng dengan sambal tomat yang teramat pedas meski hanya sedikit saja. "Kamu dimarahi Mamamu lagi? Kenapa memangnya? Masalah yang sama?" tanya Elena dengan antusias cukup tinggi. Meski demikian dia jauh lebih antusias memakan satu porsi pecel lele di hadapannya. "Ya begitulah. Kalau kuceritakan lagi kamu pasti bosan," sahut Kale. Dia kemudian menikmati pecel lelenya lagi. Nasi hangat yang pulen terasa cocok dengan lidahnya, namun baginya kurang sesuai jika dengan rasa pedas karena semakin membakar mulut. "Mau kubantu memisahkan daging dan durinya?" tanya Elena saat dirinya melihat Kale kesulitan memisahkan daging dan duri ikan lele di piringnya. Elena tidak hanya kasihan, dia malah semakin gemas dengan Kale yang ternyata tidak bisa memakan ikan dengan benar— seperti anak kecil. "Jangan meledekku. Aku memang tidak berbakat untuk memisahkan duri ikan," ucap Kale. Dengan malu-malu, dia menyodorkan piringnya ke hadapan Elena supaya dibantu dan dia bisa makan dengan nyaman. Elena semakin gemas dengan tingkah Kale. Dia kemudian memisahkan daging dan duri ikan lele milik Kale dengan hati-hati dan teliti— dia tidak mau ada satu duri yang tertinggal. "Nah, sudah selesai. Selamat makan, Baby Kale..." ledek Elena usai memisahkan daging dan duri lele milik Kale. Dia senang sekali jika harus meledek Kale. Baginya Kale seperti hiburan karena selalu ada saja tingkah lelaki itu yang tentu juga menggelakkan tawa. Sementara Kale malah jadi malu-malu sendiri. Dia nampaknya harus kursus supaya bisa makan ikan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kale itu memang pecinta ikan jenis apa pun dan yang dimasak apa pun, tapi ya itu tadi kelemahannya, tidak bisa makan sendiri dan harus dibantu orang lain memisahkan durinya. "Terima kasih. Sepertinya aku memang membutuhkanmu dalam kehidupanku," seru Kale. Elena terhenyak seketika. Dia terbawa dengan suasana apalagi karena Kale tadi berkata lembut dan menyentuh hatinya. Tapi dia kemudian tersadar, Kale hanya membutuhkannya saat lelaki itu sedang makan ikan saja. Selebihnya tidak akan dibutuhkan lagi. Intinya, dia tetap tidak boleh berharap lebih. "Kenapa? Kamu pasti terbawa suasana, ya?" Kale tersenyum saat melihat Elena berhenti sejenak menyeruput es jeruk di hadapannya. Kale kemudian menarik selembar tisu. Dia menggerakkan tangan yang telah memegang tisu itu untuk mengusap sudut bibir Elena yang terkena noda sambal tomat. Tentu saja hal itu semakin membuat Elena terhenyak. Dia terdiam dengan sedotan di mulutnya, namun tidak bergerak menyeruput minuman di hadapannya. Elena kemudian menoleh ke arah Kale yang tersenyum membuatnya semakin salah tingkah. "Jangan salah tingkah, jangan terbawa perasaan. Aku tidak akan menyukaimu, dan kuharap kamu tidak menyukaiku pula. Anggap saja aku kakakmu, karena aku telah lama menganggapmu adikku sendiri, Ele...." Perkataan Kale itu membuat Elena menangis dalam diam. Rasanya benar-benar menyedihkan mendengar Kale berkata demikian— sangat menyakitkan. Ena tertawa— tawa dalam kesedihannya. Dia kemudian berkata, "Aku tidak akan menyukaimu. Tidak perlu memperingatkanku." "Baiklah, adikku, Sayang!" Kale dengan tangannya yang kotor itu merangkul Elena dengan erat. Tentu Elena berpura-pura kesal karena tangan Kale yang kotor, tapi sebenarnya dia juga senang karena mendapat rangkulan dari Kale. Akan tetapi dia juga tersadar bahwasanya dirinya tidak boleh lebih dari ini, dia hanya dianggap adik oleh Kale yang memang sejak dulu menginginkan seorang adik. Tak berlangsung lama, Kale segera melepaskan rangkulannya. Dia melanjutkan makannya, sayang jika dinikmati saat nasi dan lauknya sudah dingin, tidak senikmat suapan pertama. Begitu pula dengan Elena yang kembali fokus menyantap makanannya. "Ehm, Elena...." "Iya?" Kale kembali mengajak Elena untuk mengobrol di saat makanan keduanya hampir habis. Elena ternyata menghabiskannya terlebih dahulu, dia kemudian berdiri menuju ke wastafel yang tak jauh dari tempatnya tadi. Kemudian kembali seperti semula, bersiap mendengarkan pembicaraan Kale. "Apa kamu tidak mau menjadi pacarnya Genta?" tanya Kale yang membuat Elena yang kala itu sedang menyeruput es jeruknya hampir tersedak. "Apa maksudmu! Jangan bilang kalau kamu mau menjodohkanku dengan dia? Tidak... Tidak... Hal konyol itu tidak boleh terjadi!" gertak Elena. Dia sudah bisa menebak apa yang sedang Kale pikirkan. Lelaki itu memang selalu memiliki rencana bodoh, konyol, dan tak masuk akal. Kali ini Elena tidak akan membiarkan rencananya berhasil. Sementara Kale yang baru saja menghabiskan makanannya segera mencuci tangan karena takut tangannya panas terkena sambal tadi. Dia kemudian duduk di sebelah Elena lagi, namun menghadap perempuan yang sebenarnya tidak menghadapnya balik. "Aku harus mencarikan Genta jodoh biar incaranku tidak diambil Genta. Aku takut sekali," ucap Kale kemudian memberikan alasan kenapa dia ingin menjodohkan Elena dengan Genta. "Cari yang lain, jangan menjodohkanku dengan Genta!" gertak Elena lagi. Tebakannya tadi benar bahwasanya ada yang Kale khawatirkan hingga akhirnya mencoba menjodohkannya dengan Genta. Sudah berulangkali Kale bersikap seperti ini, tentu untuk kesekian kalinya pula Elena kesal dan berapi-api. "Untuk kali ini aku benar-benar menginginkan perempuan itu. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Tapi perempuan itu juga mengenal Genta, aku takut jika perempuan itu jatuh di tangan Genta. Pokoknya dia harus menjadi milikku!" Elena membiarkan Kale, dia tak lagi menanggapinya karena muak. Sudah berulangkali pula Kale demikian, dan dia juga tidak sadar bahwasanya Genta itu hatinya sudah mati, makanya tidak akan jatuh cinta lagi. Dan Kale juga harus tahu bahwa perempuan yang diinginkannya tidak akan menjadi milik Genta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN