Selamat dari Jebakan

1834 Kata
"Hey kamu ngapain duduk bersimpuh di tengah jalan begini? Nanti ada mobil lewat kamu ketabrak!" ucap Arga menatap heran Rinda yang terduduk di tengah jalan. Ia berjalan mendekat, motornya diparkir tidak jauh darinya. Rinda terdiam sesaat, jujur kedatangan Arga membuatnya syok. Tapi bukankah tadi itu ia sudah jalan menjauh? Kenapa sekarang balik lagi? "Kak ...." "Bangun, yuk!" ajaknya sambil mengulurkan tangan. Ia tersenyum manis, membuat Rinda kembali berkaca-kaca. "Kakak gapapa?" "Aku? Aku fine! Justru kamu yang kenapa? Ini loh kamu juga menangis. Aduh ada apa, sih?" Arga terlihat kebingungan, sedangkan Rinda kehabisan kata-kata. Gadis itu menyambut tangan Arga yang masih terulur, lalu bangun dan berdiri saat Arga menariknya. Luka di lututnya kembali berdenyut nyeri. "Lutut kamu berdarah?" tanya Arga, ia nampak kaget melihat kaki Rinda yang mengeluarkan darah. "Kamu jatuh?" cecarnya. Rinda menundukkan kepala, lalu mengangguk ragu. "Kamu ngejar aku?" Kali ini Rinda langsung mengangkat kepalanya, lalu lagi-lagi hanya bisa mengangguk. "Kita balik ke ruang UKS, ayo obati dulu luka di lututmu." "A-aku mau bicara sesuatu." ucap Rinda dengan tergagap. "Bicara?" "Iya." Arga menghembuskan nafasnya, merasa aneh dengan kelakuan Rinda hari ini. "Mau di cafe yang kemarin lagi?" "Jangan!" "Jangan?" "Ja-jangan lewat jalan ini." "Maksudnya?" "Kemana pun, asal jangan lewat jalan ini, Kak." Arga mengangguk, meski ia sangat heran. "Ohh oke." Arga mengambil motornya yang terparkir agak jauh dari posisi mereka saat ini, lalu kembali menghampiri Rinda. Keduanya kembali ke lingkungan kampus, menuju ruang UKS untuk mengobati luka di kaki Rinda terlebih dahulu. Sedangkan di tempat lain, Nathan, Beni dan Hendra masih menunggu. Ada dua orang lainnya, dari temannya Beni yang diajak untuk turut serta meramaikan acara pembalasan dendam mereka. Nathan sedari tadi terus melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. "Mana sih, lama banget tuh orang." gerutunya kesal. Ia mulai merasa panas dengan penutup wajah yang dikenakannya, karena hanya ada lubang untuk kedua matanya saja. Dalam keadaan seperti ini, ia persis seperti perampok yang diam-diam masuk untuk merampok rumah orang. "Iya, mana sih lama banget! Udah 20 menit sejak Beni kasih laporan dia berangkat, harusnya target udah sampai dari 10 menit yang lalu, lho!" timpal Hendra yang juga merasa tak sabaran. "Loe beneran Ben, udah mastiin dia jalan, kan?" tanya Nathan yang kali ini mulai ragu dengan laporan Beni. "Udah bos, dengan mata kepala gue sendiri tadi dia udah jalan, pakai helm dan keluar gerbang. Setelah itu gue langsung meluncur ke sini dengan ngebut. Bahaya kan kalo dia ngeliat gue." "Tapi dia ke jalan yang mana, Ben? Jalan utama atau jalan sepi ini?" "Ke jalan sepi ini, bos. Kan loe tau sendiri Arga selalu jalan lewat sini, karena jalan utama itu banyak tanggul." "Tapi kenapa sampai sekarang belum nyampe?" "Mana gue tahu, itu bukan tugas gue lagi. Tugas gue itu kan memastikan dia udah jalan ke tempat kita, dan gue udah mastiin itu. Kalau belum sampai juga, itu bukan urusan gue lagi." "Kok loe gitu ngomongnya?" Nathan terlihat emosi, baginya Arga sampai ke tempat mereka ini adalah tugas yang harus Beni selesaikan. Dan Beni baru memastikan Arga naik motor saja, harusnya laki-laki itu dikawal dari belakang. Untuk benar-benar memastikan. "Udah, udah. Jangan malah pada ribut dong. Kita kan team. Mungkin tuh orang balik lagi ke kampus karena lupa sesuatu. Kita tunggu 30 menit lagi. Kalau dia orang masih belum nyampe juga, kita coba lihat ke kampus." Nathan dan Beni terdiam, membenarkan ucapan Hendra yang bagi mereka Hendra adalah sosok yang selalu berpikir jauh dan matang. Ia tidak gegabah dan selalu berhasil membuat Nathan dan Beni menemukan jalan keluar. *** Rinda meminum air mineral dalam botol yang dibelikan Arga, gadis itu sangat sangat kehausan. "Haus apa doyan, Bu?" ledek Arga sambil terkekeh. Satu botol air mineral hampir habis oleh Rinda. "Haus banget, bayangin aku lari dari lantai satu ke lantai tiga tanpa berhenti, terus turun lagi dari lantai tiga ke lantai satu. Belum lagi ngejar kakak sampai ke jalan sana." ujar Rinda dengan tersengal. Sedangkan Arga mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka ternyata Rinda telah mencarinya begitu sulit. "Aku bantu obatin, ya?" ucap Arga sambil membawa kain kasa, alkohol juga obat merah. Rinda mengangguk, lalu duduk dengan meluruskan kakinya. "Awww sakit, Kak." Rinda meringis saat luka dilututnya dibersihkan dengan alkohol terlebih dahulu. "Tahan." Sedangkan Arga terlihat telaten. Tenggorokannya nampak beberapa kali menelan ludah, merasakan suasana di ruang kesehatan yang hanya ada mereka berdua dengan Rinda yang terluka di kakinya. Jujur, jantungnya berdebar. Ia gugup, entah kenapa. "Ini luka kamu kenapa?" tanya Arga mencoba bersikap normal dan membuang rasa gugupnya. "Jatuh ke aspal." sahut Rinda dengan memasang wajah polosnya. "Kenapa bisa jatuh ke aspal?" "Kakiku tersandung batu." "Kenapa bisa tersandung?" "Karena aku lari, jadi tersandung." "Kenapa kamu lari?" "Aku ... aku ngejar kakak." "Kenapa mengejar kakak?" "Ish, kakak!" Kali ini Rinda mencebik, pertanyaan Arga begitu runtut meminta penjelasan seperti seorang ibu yang mengomel sekaligus khawatir karena anaknya jatuh. "Kenapa kamu mengejar kakak, anak manis?" tanyanya lagi seperti sedang memperlakukan anak kecil. "Aku ... ahh pelan-pelan, sakit!" Rinda kembali meringis saat kali ini kedua lututnya ditetesi dengan obat merah. "Iya, ini pelan-pelan, kok." sahut Arga dengan suara yang amat lembut, membuat Rinda tenang sekaligus malu di saat yang bersamaan. "Jadi ... kamu kenapa?" "Kak ... Nathan, Nathan sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk kakak." Arga terdiam, menatap Rinda yang berekspresi sangat serius kali ini. "Aku melihat Nathan dan teman-temannya mau membegal kakak di jalan sana." "Membegal?" Rinda mengangguk cepat. "Kakak dalam bahaya, mereka mau membalas dendam. Kebencian mereka terhadap kakak sudah mengakar kuat, dari mulai kakak yang terus mengganggu Nathan sejak awal sampai kemarin kakak yang selalu membantu aku, dan menggagalkan rencana Nathan yang mau menculik aku, mereka mau membalas dendam ke kakak dengan membegal kakak di tengah jalan sana." Arga begitu terkejut sampai aktifitasnya yang sedang memberi obat merah ke lutut Rinda itu berhenti seketika. "Rinda, are you sure?" "Aku berani sumpah demi Tuhan, Kak. Mereka benar-benar mau mencelakai kakak. Kakak harus waspada." Untuk sesaat Arga terdiam mencerna semua ucapan Rinda, jujur begitu kaget dengan apa yang didengarnya itu. "Sampai ingin mencelakai ku?" gumamnya tak percaya. "Mereka dendam, terutama Nathan yang telah kalah telak saat kemarin kakak selamatkan aku. Kakak lupa? Kemarin itu dia bahkan gak ada kesempatan untuk melawan kakak. Jadi dia merencanakan untuk membalas kakak dengan teman-temannya. Mereka main keroyokan. Karena Nathan sadar melawan kakak satu lawan satu itu gak mudah baginya." jelas Rinda. "Mereka merencanakan untuk membegal, karena pelaku p********n saat ini lagi marak. Kalau keroyok langsung, pelaku bisa terdeteksi dengan mudah karena tinggal dicari siapa musuh kakak. Sudah pasti nama Nathan dan teman-temannya akan langsung terendus. Berbeda dengan pelaku begal, yang pelakunya masih umum, karena target utama pelaku p********n itu adalah harta korban. Jadi mereka menggunakan cara itu untuk membuat orang-orang tidak menuduh mereka." lanjutnya memberi penjelasan yang saling berkaitan satu sama lainnya. Arga mengangguk-anggukan kepala. Ia mengerti, semuanya masuk akal. "Apa itu sebabnya kamu mengejar aku sampai sejauh ini?" Rinda mengangguk cepat. "Kakak kenapa susah sekali dicarinya. Biasanya kakak selalu muncul di hadapanku tanpa permisi, dan mengajak ribut. Di saat aku butuh saja, kakak malah susah dicari. Lihat gara-gara aku mengejar kakak, lututku sampai berdarah seperti ini." jelas Rinda sambil mengerucutkan bibirnya, kesal. "Heh apa? Mengajak ribut? Kau yang selalu mengajakku untuk ribut!" protes Arga mendengar kalimat Rinda yang tidak bisa ia terima. "Kakak yang selalu mengajakku ribut. Tidak merasa, heh?" "Enak saja, dasar kau cewek jadi-jadian." "Heh, kating rese! Sudah jahil, petakilan, rese, suka mengatai orang lagi!" "Kau juga mengataiku kating rese?" "Kan kakak memang rese?" "Kau juga menyebalkan," "Kakak juga tidak kalah menyebalkan di mataku." "Ahh benar-benar kau," Bukannya membicarakan hal yang lebih penting dari itu, mereka malah kembali berdebat dan adu mulut. Rinda membuang wajahnya ke samping karena sebal, tangannya bersedekap di d**a. Dilihat dari samping seperti ini, Rinda terlihat cantik sekali. Anak-anak rambutnya berseliweran di dahinya. "Cantik." ucap Arga tanpa sadar. Rinda langsung mengalihkan kembali pandangannya. "Aku memang cantik!" sombongnya dengan jumawa. "Itu kalau dilihat dari samping." "Jadi maksudmu kalau dilihat secara keseluruhan, aku jelek begitu?" Kali ini mata Rinda melotot. "Iya kau seperti nenek lampir," "Ihhh kakak!" "Pfffttttt ...." Arga menahan tawanya, suasana yang sempat membuatnya kesal tadi entah kenapa sekarang malah ingin tertawa. "Gak lucu!" "Maaf, maaf. Iya, iya. Kamu cantik. Kuakui kamu ini sangat cantik, gadis paling cantik di lingkungan kampus yang pernah kutemui." ujarnya kali ini jujur dari hatinya yang terdalam. Seketika wajah Rinda langsung merona merah seperti kepiting rebus. Ia tidak menyangka Arga akan mengatakan seperti itu, hal ini membuatnya malu. Sangat malu. Sedangkan Arga sendiri tidak menyadari, ucapannya tersebut telah membuat gadis di hadapannya itu tak berkutik dan kehabisan kata-kata karena malu. "Ja-jadi kakak pe-percaya sama aku, kan?" tanya Rinda membuang rasa gugup yang melanda hatinya saat ini. Ia kembali beralih ke topik yang sempat terlupakan karena perdebatan mereka. Arga terdiam belum menyahut. Ia merasa wajar saja jika hal itu dilakukan Nathan, kalau dipikir-pikir memang benar setelah semua yang ia lakukan kepada laki-laki itu pasti Nathan merasa dendam. Hanya saja ia tak menyangka, laki-laki itu berniat mencelakainya bahkan bisa saja membunuhnya. "Tapi bagaimana kamu bisa tahu rencana Nathan sampai sedetail itu?" Kali ini Arga mulai penasaran dengan hal itu, sedang Rinda tampak bingung harus menjawab apa. Tidak mungkinkan ia menjawab yang sejujurnya? Bahwa ia mengetahui hal tersebut, karena membaca pikiran laki-laki itu. "Pokoknya aku tahu!" "Tapi bagaimana caranya kamu tahu?" "Kakak gak usah kepo, pokoknya aku berkata jujur dan gak bohong." "Dia akan melakukan itu di tempat yang biasa kulalui?" "Iya ...." Arga menghembuskan nafasnya, ia tidak bisa membayangkan jika tadi ia tidak balik lagi mungkinkah saat ini ia sudah dihabisi oleh mereka? Bisa saja ia melawan mereka dengan ilmu bela dirinya, tapi hal itu tetap saja membuatnya tidak bisa menang. Mengingat Nathan membawa banyak orang untuk mengalahkannya. "Kakak sendiri kenapa bisa balik lagi ke belakang? Tadi aku lihat kakak sudah jalan jauh. Kukira aku terlambat, kukira aku gak akan bisa menyelamatkan kakak." Kali ini Rinda berwajah sendu, mengingat segala keputus-asaannya tadi. Arga tersenyum. "Tadi ada pedagang es, kakak emang gak denger teriakan kamu yang panggil nama kakak. Tapi pedagang itu kasih tau kakak, dia bilang ada yang mengejar-ngejar kakak. Akhirnya kakak balik lagi, jujur kakak kaget ternyata kamu yang mengejar kakak." jelas Arga. "Syukur Alhamdulillah, itu artinya kakak masih dipayungi, masih dilindungi. Untung ada pedagang es. Kalau gak ada beliau, aku pasti menyesal banget." Kali ini Arga memicingkan matanya. "Kenapa kamu menyesal?" "Karena aku yang tahu rencana busuk Nathan. Kalau usaha dia sukses, aku benar-benar menyesal gak bisa bantu kakak." Arga tersenyum. "Makasih ya, kamu udah bantu kakak, cewek jadi-jadian." ucapnya terkekeh lalu mengacak rambut Rinda. "Ishh, males ahh. Kating rese!" Pukul tiga sore, mereka memilih pulang. Melewati jalan yang ramai, juga berusaha supaya berbarengan dengan mahasiswa lain yang belum pulang. Hari ini Arga masih selamat, tapi tidak tahu dengan hari esok. Rinda dan Arga tahu betul watak Nathan yang tidak akan menyerah jika misinya belum tercapai. Rinda pun punya rencana sendiri, ia harus berpura-pura baik dengan Nathan dan terus berkomunikasi dengan laki-laki itu. Jika berhadapan langsung, Rinda akan dengan mudah mengetahui hati laki-laki itu dan bisa membaca pikirannya. Sehingga ia bisa menangkal segala rencana busuknya dan menyelamatkan Arga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN