Sayap yang patah

1008 Kata
Zavier menyeka air matanya saat mengingat peristiwa kelam itu, sungguh dia begitu terpukul dengan kepergian sang kakek yang sampai sekarang entah dimana rimbanya. "Tuan saya sudah mendengar kabar tentang tuan Gading," ujar Kevin sambil membawa ipadnya. "Apa itu," ujar Zavier dengan wajah penuh harap sambil menerima ipad itu dari kevin. "Sebaiknya tuan baca sendiri," lirihnya sambil menunduk. Zavier membaca berita yang di tunjukkan oleh kevin itu, seketika dia syok saat melihat laporan para anak buahnya itu bahwa Gading telah ditemukan di aliran sungai. "Opa," lirih Zavier syok melihat berita itu. Tubuh Zavier langsung terjatuh, harapannya pupus sudah dia menunggu kepulangan sang kakek yang menghilang tadi malam dia masih berharap kakeknya itu masih dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun. "Ini berita bohong kan kevin?" lirih Zavier seakan menolak fakta itu. Kevin menggeleng, ”Itu benar tuan dan jenazah tuan Gading akan segera tiba disini sebentar lagi," ujarnya membuat jantung Zavier berdebar kencang. "Kenapa, kenapa kau meninggalkanku opa!" teriak Zavier sambil memeluk ipad itu, dia meraung keras seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. "Kenapa kau meninggalkanku seperti ini, bagaimana aku bisa hidup tanpa ada kalian di sisiku opa," teriaknya. Hati kevin seakan tertusuk belati mendengar jeritan tuannya itu, begitu besar musibah yang Zavier dapatkan seakan kebahagiaan tidak boleh berpihak sedikitpun padanya. "Tuan bangkitlah tuan, anda harus kuat anda harus bisa membalas semua ini tuan," ujar Kevin. "Hiks, aku tidak butuh semua harta ini Kevin aku membutuhkan orang tuaku dan juga opa, kenapa mereka justru ikut meninggalkanku," isaknya semakin pilu. Kevin yang tidak kuat mendengar rintihan Zavier itu justru memeluknya, dia memeluk tuannya itu dengan erar sebagai seorang sahabat yang akan selalu bersama dengannya. "aku mohon jangan menangis Zavier, aku tahu ini begitu berat bukan hanya untukmu tapi juga untukku opa, tuan Liam dan nyonya Sonia adalah keluargaku kepergian mereka adalah pukulan tersakit di hidupku, aku mohon Zavier bangkitlah kau harus bisa membalas semua ini." "Hiks hiks, ini begitu sakit Kevin begitu berat jika kepulangan ini hanya membuat aku kehilangan opa aku tidak akan pulang Kevin, aku tidak akan melihat papa untuk terakhir kalinya." Kevin menggeleng dan menepuk pundak Zavier, "Dengarkan aku Zavier, semua ini pasti memiliki alasan jangan salahkan semua yang telah terjadi. kita harus bisa mencari siapa orang yang telah melakukan semua ini." Zavier mengangguk dengan air matanya, ”Aku akan membalas semuanya Kevin, aku akan membalas semuanya," lirihnya dengan suara parau. ** Proses pemakaman tuan Gading hanya di hadiri oleh Zavier dan para anak buahnya, tidak ada kerabat tetangga atau yang lainnya dia ingin prosesi itu berjalan dengan khidmat tanpa ada berita miring yang mengiringinya. ”Opa, kepergianmu adalah hal terburuk yang pernah aku rasakan sedihnya kehilangan mama kemudian di susul dengan kepergian papa dari hidupku membuat sayapku patah, aku berharap dengan sayap yang hanya tinggal satu aku bisa terbang kemanapun aku mau. Tapi nyatanya kini sayap itu juga ikut patah, lalu bagaimana caranya aku bisa terbang opa?" isak Zavier sambil mengelus nisan Gading. "Kau mengajariku tentang arti keikhlasan, selama kita hidup jauh dari papa aku sudah mencari tahu sebab kematian mama opa. Dan aku begitu merasa berdosa pada papa karena telah menuduhnya, kini kalian berkumpul disana meninggalkanku seorang diri disini." Zavier memeluk makam yang masih basah itu dengan hati begitu hancur, "Aku akan membalas semuanya opa, aku tidak akan membiarkannya anak cucunya bahagia," ucap Zavier yakin. Zavier menyeka wajahnya yang basah karena air mata, dia tidak pernah menangis tapi kini air mata itu berhasil lolos dan seakan sulit untuk di tahan. Para anggota Zavier hanya menunduk, mereka ikut hancur dengan kematian Gading yang begitu sadis itu. Bagaimana tidak mayat Gading sengaja di buang ke sungai untuk menghilangkan jejak, tentu mereka tidak mau ada yang mengetahui aksinya. ** Di sisi lain kini Kasih dan Olivine sedang sibuk membersihkan rumah Radian, pria itu akan begitu kasar pada mereka jika rumah itu tidak beres, Kasih dan Olivine begitu muak tinggal disana namun tidak ada pilihan lain untuk mereka. "Olivine ibu ke atas dulu, ibu lupa untuk membawa pel yang ibu letakkan di kamar non Intan," ujar Kasih pada Olivine yang sedang sibuk mengelap meja. Olivine mengangguk sebagai jawaban, dan kasih lantas langsung naik ke atas untuk mengambil pel itu. Pekerjaan mereka hari ini lebih banyak dari biasanya, hal itu terjadi karena sejak kematian Liam kemarin mereka sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di bawa kesana dan kemari oleh Radian untuk membantu urusannya termasuk saat menjaga mayat Liam di rumahnya. “Jadi Tuan Gading sudah meninggal?" ujar Mika yang tidak sengaja terdengar oleh Kasih yang sedang melintas di depan kamarnya. "Ya dan mayatnya sudah di buang ke sungai, tapi ada kabar terbaru hari ini." Merasa penasaran dengan ucapan Radian itu Kasih lantas menguping di depan pintu. "Ada beberapa orang sepertinya anggota dari tua bangka itu berhasil menemukannya, bahkan pemakaman telah diselenggarakan tadi siang secara privat." Mendengar hal itu kasih yang ada di luar tersentak kaget, "Tuan Gading meninggal?" lirihnya, dengan jantung berdebar kencang. Mika yang mendengar hal itu syok, "Pah jika orang-orang itu menyelenggarakan pemakaman secara tertutup, bukankah berarti ada orang lain yang memerintah mereka?" tanya Mika membuat wajah Radian menegang. "Orang lain? tidak ada orang lain Mika," tegas Radian tidak mau berfikir jauh. "Pah, jangan ambil resiko apapun kira sudah melenyapkan Sonia, Liam dan juga Gading bukan tidak mungkin mereka memiliki satu orang lainnya yang selama ini sengaja mereka rahasiakan," ujar Mika. Radian melirik ke arah Mika, "Maksud kamu anak Liam?" tanya Radian dan di angguki oleh Mika. "Siapa yang tahu jika dimana makam anak Liam berada? sama sekali tidak ada konfirmasi jelas, anak kecil yang ditemukan waktu itu juga tidak jelas bagaimana rupanya." Jelas Mika mengingatkan akan kejadian puluhan tahun lalu, saat anggota mereka menembak Sonia dan juga seorang anak kecil yang berada di gendongannya. Brak! Kasih terhenyak kaget saat pel yang dia pegang tadi terjatuh hingga menimbulkan suara nyaring karena tersentuh lantai. "Siapa itu?" teriak Mika. Kasih langsung mengangkat pel itu bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Radian. Ceklek "Kasih ngapain kamu disini?" tanya Mika dengan wajah tegang. Kasih melirik ke arah majikannya itu dengan jantung berdebar kencang, "Saya baru saja mengepel lantai ini nyonya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN