Luna dan Hema berjalan berdampingan, dan lagi - lagi juga Alvira menjadi pengikut mereka di belakang. Dia hanya diam saja terus mengikuti kemana kedua langkah kakinya membawa dirinya. Luna berhenti tiba - tiba. Alvira yang berjalan tertunduk, tanpa sadar membentur punggung Hema dengan kepalanya. "Argh..." Alvira meringis, dan mengusap kepalanya yang sakit. Hema menoleh ke belakang dan melirik gadis itu. "Jalan pakai mata, makanya jangan nunduk." Alvira mendongak dan menatap sebal Hema, "Lah, Kak Hema kenapa juga berhenti mendadak? Kak Hema yang salah, nyalahin orang," dengusnya. Luna terkikih, dia menatap Alvira dan tersenyum lebar, "Maaf ya. Tadi aku Al, yang berhenti mendadak. Soalnya aku nemu ini!" seru Luna. Alvira melihat ke arah tangan Luna, sebuah lembaran merah seratus ri

