Setelah kepergian Nyonya Viona, bibi pelayan datang sambil membawa kain kecil untuk Selly. “Ya ampun, kening anda berdarah.” Selly mendongakan wajahnya menatap ke arah bibi pelayan sambil berusaha tersenyum. “Aku tidak apa-apa, bi.” “Mana mungkin tidak apa-apa. Kalau berdarah seperti itu. Padahal nyonya yang paling kesulitan karena hilang ingatan. Presdir sangat keterlaluan,” ucap bibi pelayan merasa kesal. “Bi, tolong jangan katakan tentang hal ini pada suamiku.” “Bagaimana mungkin? Anda kan terluka, tuan pasti...” “Lukanya cuma terbuka sedikit. Aku hanya takut, nanti dia jadi khawatir.” “Tapi nyonya…” Selly pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lantai atas. Di dalam kamar, dia mengambil kotak obat dan duduk di meja riasnya. “Ah…!!” Selly memegang keningnya yang terluka

