Bab 2. Membawa ke Mansion

1018 Kata
Daisy melangkah pelan, tas besar yang kini berisi barang-barangnya tergantung di pundak, berat bukan hanya karena barang-barang di dalamnya, tetapi juga karena kenangan yang tak akan pernah bisa ia pulihkan. Tempat yang selama ini ia sebut rumah kini bukan lagi miliknya. Tersisih dan terasing, Daisy terpaksa mengembara di tengah dinginnya kota, tak tahu harus menuju ke mana. Malam semakin larut, langkah kakinya menuntunnya menuju halte kosong di pinggir jalan. Ia duduk di sana, membiarkan keheningan malam menelannya bulat-bulat. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh perlahan, mengalir tanpa bisa ia cegah. Ia memeluk tasnya erat-erat, seakan itu adalah satu-satunya pelukan yang bisa ia dapatkan di tengah keterasingan ini. Di tengah isakannya, suara deru mesin mobil terdengar mendekat. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya. Daisy mengangkat kepala, matanya masih sembab, tetapi ia tertegun melihat sosok pria yang turun dari dalam mobil. Austin, dengan jasnya yang rapi, berdiri di depannya, sorot mata birunya tajam, wajahnya tanpa ekspresi. Kendati Daisy merasa seolah melihat secercah harapan, ada ketegangan yang tak bisa ia abaikan dalam pandangan pria itu. "Kenapa kau duduk di sini sendirian?" Austin bertanya, suaranya sedingin angin malam yang menerpa, nada tajam dan penuh jarak. Daisy menunduk sejenak, menelan kepahitan yang ia rasakan sebelum menjawab dengan suara parau. "Rumah saya … sudah disita bank, Pak. Saya tak punya tempat lain untuk pergi." Austin mengalihkan pandangannya, wajahnya tetap dingin meski hatinya perlahan dipenuhi rasa iba yang tak ia harapkan. Ia tahu betul bagaimana sulitnya hidup ini, tetapi ia tak ingin memperlihatkan perhatiannya terlalu nyata. Baginya, perhatian yang terlalu lembut bisa jadi malah menimbulkan kelancangan. Namun, tatapan Daisy yang penuh luka itu menariknya lebih dalam ke dalam perasaan yang ia sendiri tak bisa memahaminya. Dengan napas yang terembus pelan, Austin akhirnya mengangguk kecil. "Masuklah ke dalam mobil," ucapnya, nadanya masih kaku dan tak bersahabat. Daisy menatapnya, sedikit ragu. "Pak … benar tidak apa-apa?" Austin menatap balik dengan sorot mata yang lebih tajam. "Aku tak suka mengulang perintah, Daisy. Masuk ke dalam!" Daisy menggigit bibir, mengangguk pelan, lalu berdiri dan melangkah menuju mobil. Austin menutup pintu dan duduk di belakang kemudi, tanpa berkata apa-apa ia memacu mobilnya di tengah malam yang semakin kelam. Daisy hanya bisa duduk diam, tak berani bertanya apa pun. Hanya ada detak jantungnya yang berdegup, antara takut dan terharu, menanti ke mana pria itu akan membawanya. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion, Austin menoleh ke arah gadis itu sejenak. "Kau akan tinggal di sini," ujarnya datar, suaranya tak menunjukkan kehangatan, lebih menyerupai pemberitahuan yang tak bisa diganggu gugat. "Ini bukan karena aku merasa iba padamu, Daisy," tambahnya, menatapnya tajam. "Aku hanya tak ingin kau tinggal di tempat sembarangan yang mungkin dipenuhi kuman. Kalau kau membawa kuman itu ke dekat Lily, aku tak akan memaafkanmu." Daisy hanya mengangguk pelan, menerima ucapan Austin tanpa menjawab sepatah kata pun. Kendati alasan pria itu terdengar tegas, ada kelegaan dalam hatinya mengetahui bahwa untuk sementara ia akan memiliki tempat berlindung. Namun, saat ia hendak turun, pandangan Austin terhenti pada dadanya yang terlihat basah. "Kau … bajumu basah," ujarnya, keningnya berkerut, seolah mengira ada yang salah dengan pakaian Daisy. Daisy menunduk, melihat bercak lembap yang sudah menyebar di bagian depan bajunya. Secepat mungkin, ia memalingkan pandangan, berharap Austin tidak memperhatikan terlalu lama. "Ah, maaf, Pak," ucapnya, agak gugup. Padahal ia tahu betul apa yang terjadi. Karena sudah berjam-jam tidak memompa, ASI-nya mulai merembes tanpa bisa ia kendalikan. Rasa sakit dan tegang di dadanya semakin tak tertahankan, tapi ia tak berani mengatakannya. Austin tetap memperhatikannya dengan saksama, sorot mata tajamnya kini dipenuhi rasa ingin tahu. "Kau merasa tidak nyaman, bukan?" Daisy mengangguk, akhirnya menyerah pada pandangan Austin yang terus mengintimidasinya. "Ya, Pak, maaf. Saya seharusnya memompa, tapi tidak membawa alatnya sekarang." Austin terdiam sejenak, memproses penjelasan Daisy, lalu ia mengangguk dengan ekspresi serius. "Kalau begitu, kau bisa langsung menyusui Lily. Mungkin itu bisa membantu meredakan sedikit rasa sakitmu. Aku juga tidak punya alat pompa di sini," ucapnya tanpa basa-basi. Daisy menatapnya sejenak, tersentuh oleh perhatian tersembunyi di balik kata-kata tegas itu. Meski kata-kata Austin terdengar dingin, pria itu rupanya cukup peka untuk memahami ketidaknyamanannya. "Terima kasih, Pak Austin," ujarnya dengan suara lembut. Daisy keluar dari mobil dengan langkah pelan, suara tapak kakinya terdengar samar di permukaan batu yang membentang di halaman depan mansion. Di dalam mobil, Austin menatap punggung Daisy yang semakin menjauh. Sorot matanya tak sekadar memperhatikan, ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya, seolah memendam misteri yang hanya ia yang tahu. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di kursi sebelah, lalu menekan tombol panggilan. Ia menunggu beberapa detik sebelum suara seseorang terdengar di ujung sana. “Dia sudah bersamamu?” Suara itu bertanya tanpa basa-basi, menuntut jawaban tegas. Austin mengangguk, meski lawan bicaranya tak dapat melihat. “Iya, sudah aman dalam perlindunganku,” jawabnya dengan suara datar. “Bagus,” sahut suara itu singkat, tak ada rasa terima kasih ataupun pertanyaan lain. Seakan memahami bahwa kehadiran Daisy di mansion bukan sekadar kebetulan, tetapi bagian dari sesuatu yang sudah direncanakan. “Jangan biarkan siapa pun tahu soal ini. Aku akan menjaganya sesuai permintaanmu,” lanjut Austin, masih sama dengan nada dinginnya. Di ujung sana, lawan bicaranya seolah puas dengan jawaban Austin. “Baiklah, aku percayakan padamu. Tapi ingat, jangan sampai dia tahu alasan sebenarnya dia ada di sana. Tolong ... jaga dia dengan baik. Aku tidak akan pernah lelah mengingatkanmu.” Austin menutup telepon tanpa ucapan perpisahan, matanya kini kembali menatap ke arah mansion tempat Daisy menghilang tadi. Bayangan gadis itu menari-nari di pikirannya, meski ia berusaha menepisnya, tetap saja ingatan akan bayangan masa lalu terus melekat di benaknya. Daisy tak tahu, dan mungkin tak akan pernah tahu, bahwa kehadirannya di sini bukan sekadar hasil dari kebaikan hati Austin atau sekadar belas kasihan. Ada hal-hal lain yang tersembunyi, rencana-rencana yang lebih besar, dan Austin terikat di dalamnya. Dengan napas panjang, Austin membuka pintu mobil dan melangkah menuju mansion, mengikuti jejak Daisy yang telah lebih dulu masuk ke dalam tempat itu. Bagi Austin, ini adalah jalan yang telah ia pilih, jalan penuh rahasia dan keputusan yang tak bisa lagi ia ubah. "Aku akan melindungimu dari semua musuh-musuh keluargamu, meski harus mempertaruhkan keselamatanku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN