Malam itu, suasana di ruang rawat Daisy terasa sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Lampu rumah sakit menyala redup, memberikan kesan hening, sementara jendela yang sedikit terbuka membiarkan udara malam yang dingin masuk ke dalam ruangan. Daisy terbaring dengan wajah yang tampak lelah, matanya setengah terpejam, berusaha tidur meski tubuhnya masih lemah. Pintu kamar perlahan terbuka, dan Austin memasuki ruangan dengan langkah hati-hati. Matanya langsung tertuju pada Daisy yang tengah berbaring, tubuhnya diselimuti selimut tipis. Daisy tidak mengucapkan sepatah kata pun saat Austin duduk di sisi tempat tiduran. Hanya ada hening yang panjang, yang membuat Austin semakin cemas. Dia menghela napas pelan dan akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Daisy,” suaranya terd

