"Deanova, tunggu!" Ana dengan kaki yang tidak begitu panjang, berusaha mengejar Deanova di tengah kerumunan. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa meter saja hingga sampai ke meja panitia. Namun karena padatnya situasi dan juga arah yang berlawanan dengan banyak orang lainnya, Ana menjadi kesulitan. Ketika langkahnya hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa sampai ke meja panitia, ponselnya berdering begitu nyaring di tengah hiruk pikuk keadaan bazar. Ana berdecak keras, dia menatap ke arah meja panitia dimana Deanova sedang berbincang dengan beberapa orang. Niatnya adalah mendekati pria itu untuk menanyakan apa maksud dari Adeline yang menulis puisi Kesukaannya? Sedangkan yang sebenarnya adalah puisi milik Ana, Ana sendiri yang menulis puisi itu dengan menggunakan nawa Edelweiss ya

