Empat puluh

1563 Kata

"Gimana sama kertas puisi lo?" Dengan se plastik batagor di tangannya, Ana menoleh ke arah Bagas. "Enggak ketemu. Aku jadinya bikin ulang," jawabnya kemudian. "Lah, emang masih inget?" Ana mengangguk, "Masih dong. Puisi itu kan aku sendiri yang bikin, jadi ya pasti masih inget." Berdecak kagum, Bagas kemudian berseru, "Keren banget lo! Gue aja kalau habis nulis materi kuliah, beberapa menitnya langsung lupa lagi." Tertawa, Ana mencibir, "Itu mah memang kamu nya aja yang kurang pinter." "Iya deh gue mah ngaku kalau enggak bisa dibandingin sama lo. Yang penting kan gue enggak harus sampai ngulang mata kuliah," ujar Bagas tenang. Pria itu merenggangkan tubuhnya, memutar punggungnya ke kanan dan ke kiri hingga terdengar bunyi khas tulang. "Jangan kebiasaan digituin, bahaya," kata Ana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN