Aroma coklat memenuhi dapur. Syakilla tersenyum menghirup baunya. Dengan segera dia berlari menuju dapur. Tak dia sangka bahwa di sana ada Mama Helena bersama Papa Siswanto yang sedang bercengkrama. Langkah kaki Syakilla mundur, dia memilih bersembunyi di balik tembok supaya dapat mendengarkan pembicaraan mereka. Para pembantu juga tak ada di dapur. Seharusnya sedang di dapur membuatkan sarapan untuk sang majikan. Hari ini dia ada kuliah pagi, jadi menyempatkan diri untuk makan. Akan tetapi, kejadian dihadapannya membuatnya mengurungkan niat. Sepertinya juga belum ada makanan di meja. Hanya dua cangkir, yang satu terisi coklat hangat dan yang satu teh. "Anak-anak kita sudah dewasa, aku pikir memang sebaiknya kita mengurangi sikap egois kita. Apalagi kamu, Mas. Sudah beberapa kali aku m

