Kalila masih menjalankan misinya, menjadi Syakilla. Tak ada yang curiga setelah seminggu lamanya dia berada di kampus. Dia bersyukur begitu mirip dengan Syakilla. Sehingga tak ada yang mudah mengenalinya kecuali jika ada semacam tes yang akan menyudutkannya. Padahal dia dan Syakilla begitu berbeda jika dilihat begitu detail. Syakilla memiliki t**i lalat di leher sedangkan dirinya memiliki tahu lalat di belakang telinga kanannya. Hanya keluarganya yang tahu perbedaan itu. Entah ini dinamakan kejahatan atau tidak. Baginya, apa yang dia lakukan sudah benar. Dia ingin menjadi Syakilla walaupun terasa susah. Dia ingin menarik perhatian keluarganya begitupula mereka yang tak menganggapnya ada dan tak acuh padanya.
Bukan hanya itu saja, sikap yang berbeda dan kini dia agak kesusahan bersikap layaknya Syakilla. Langkah kakinya turun dari satu tangga ke tangga lainnya. Dia terkejut saat di meja makan mendapati Fauzan yang menatapnya dengan senyuman manis. Pagi ini dia memang belum sempat mengecek ponselnya. Tetapi, kedatangsn Fauzan kali ini benar-benar mengejutkannya.
"Sini duduk, Sayang!" Mama Helena menatapnya dengan senyuman. Dia yakin mamanya sedang melakukan akting seakan keluarga ini sedang baik-baik saja. Padahal tadi malam ada pertengkaran hebat lagi yang dia saksikan. Untung saja halaman rumah ini luas sehingga tetangga tak akan merasa kesal karena malam-malam diganggu oleh suara bantingan benda dari penghuni rumah ini.
Kali ini dia berperan sebagai Syakilla, maka senyuman lebar dia tampilkan walau agaknya terpaksa. Entah mamanya menganggapnya sebagai Kalila atau justru Syakilla. Dia ingin dianggap sebagai Kalila, kali ini saja.
Biasanya kembar itu tak bisa dipisah dan salah satunya sakit. Nyatanya justru pilih kasih sayang sehingga salah satunya merasakan sskit hati. Ah, dia tak boleh galau disaat seperti ini yang akan menimbulakn kecurigaan nantinya.
"Anak papa cantik banget," ujar Papa Siswanto.
Kalila hanya mengulas senyuman. Fauzan yang duduk di seberangnya masih tersenyum lebar.
Ardian menatap orang tuanya dengan tatapan datar. Drama ini menurutnya begitu memuakkan.
"Ya jelas dong, Pa. Ada calon mantu jemput anak kita," goda Mama Helena sambil terkekeh pelan. Kalila tersenyum dan menundukkan kepala. Dia takut jika pada akhirnya hatinya melabuhkan cinta pada sosok lelaki yang telah menjadi tunangan saudara kembarnya. Walapun Syakilla sudah tiada, tetapi bukan lelaki itu yang dia inginkan. Akan tetapi kasih sayang orang tuanya.
Dia melirik Ardian yang hanya diam. Dia menyadari bahwa kakaknya itu tak suka akan keadaan ini. Dalam hati dia tertawa. Kakak lelakinya itu begitu menyayangi Syakilla, tidak dengan dirinya yang dianggap angin lewat.
"Ya sudah, sekarang kita makan. Syakilla, ambilkan makanan untuk calon suamimu," titah Papa Siswanto yang untung saja tidak keceplosan memanggil namanya Kalila.
Kalila mengangguk. Hendak menyendokkan nasi, suara sendok yang sengaja dijatuhkan membuatnya mengalihkan perhatian. Dia melihat kakaknya begitu marah walau raut wajahnya datar.
"Ada apa Ardian?"
Ardian memilih diam lalu berdiri meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Fauzan menatap bingung mengenai perubahan sikap Ardian yang tak biasa itu.
"Ah, Ardian pasti sedang ada masalah. Biasa anak muda tak jauh dari masalah hati," ujar Papa Siswanto membuat Fauzan tersenyum tipis dan mengangguk.
Kalila memilih melanjutkan kegiatannya. Setelah selesai memberikan piring yang penuh makanan kepada Fauzan.
"Aku tak suka terong, Syakilla. Bukannya kamu sudah tahu?" tanya Fauzan menatap piringnya. Kalila menelan ludah kasar. Dia harus menjawab apa.
Mama Helena buru-buru menjawab, "Maklum, Fauzan. Syakilla tadi bangun kesiangan masih lemot dia. Tadi malam lembur mengerjakan tugas."
Kalila berdecak kesal di dalam hatinya. Dia memang sedang mengerjakan tugas tetapi hanya sebentar. Karena tugasnya ketikan sehingga dia tak bersusah payah menulis meniru tulisan Syakilla. Tadi malam dia tak bisa tidur karena perdebatan mama dan papanya yang tak ada habisnya. Topiknya masih sama saja. Dia sadar betapa bobroknya keluarganya ini.
Fauzan mengangguk mengerti. Dia melirik Syakilla khawatir. Kalila yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah.
"Kamu bilangin Fauzan, supaya Syakilla tidak tidur terlalu larut. Papa kasihan sama tubuhnya jika terus begitu."
Kalila senang mendengar perkataan sang papa yang terkesan mengkhawatirkan keadaannya. Namun, dia tak tahu apakah itu rekayasa atau memang murni dari dalam hatinya.
Fauzan menjawab, "Fauzan udah sering bilang, Pa. Syakilla begitu suka belajar."
"Belajar boleh, tetapi jangan terlalu ngotot hingga tak tahu waktu. Memerhatikan kesehatan tubuh juga perlu, pola makan harus diatur dengan baik. Tugas beres, lalu setelahnya masuk rumah sakit. Sama saja merugikan diri sendiri. Lebih baik santai, dikerjakan yang penting selesai. Kalau deadlinenya mepet, ya paling tidak dikerjakan jangan sampai malam. Kalau deadlinenya lama ya kerjakan dengan cara dicicil." Mama Helena memberikan penjelasan yang begitu panjang. Kalila tersenyum manis. Andai saja dia selalu mendapatkan hal ini. Namun, sayangnya kini dia berakting sebagai Syakilla. Rasa sedih tak dapat dia pungkiri.
"Betul sekali, jangan melupakan kewajibannya yang lain juga. Jangan karena satu hal membuat lalai pada kewajiban yang lain. Harus pintar mengatur waktu," celetuk Fauzan membuat Papa Siswanto bangga mendengarnya. Lelaki itu memang pantas menikah dengan anaknya. Namun, sayangnya Syakilla sudah tiada. Dia juga tak yakin akan menikahkannya dengan Kalila mengingat lelaki itu begitu mencintai Syakilla.
"Ayo, makan dulu! Nanti dilanjutin mengobrolnya!" Papa Siswanto tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan Kak Ardian?" tanya Fauzan.
"Nanti biar mama yang samperin ke kamarnya. Kita makan dulu saja. Biasa anak muda. Lagi tak ingin diganggu Ardian tuh," ucap Mama Helena dengan tertawa pelan.
******
Lain di meja makan, lain di dalam kamar Ardian. Lelaki itu mengepalkan kedua tangan. Amarah tak bisa dibendung lagi. Ingjn rasanya memporak-porandakan seisi rumah. Dia kesal akan drama yang dilakukan oleh keluarganya. Sampai kapan kehidupan seperti ini akan dia jalani.
Masih tak percaya jika Syakilla sudah tiada. Dia jadi teringat perkataan Syakilla tentang sabar.
"Bagaimanapun keadaannya kakak harus tetap sabar. Mungkin butuh waktu lama untuk menempuh kebahagiaan. Syakilla percaya, keluarga kita akan sempurna seperti keluarga lainnya. Kita hanya menunggu waktu saja, Kak."
Ardian tersenyum miris. Entah sampai kapan. Hanya itu yang dia katakan di dalam hatinya. Diraihnya foto yang ada di meja samping ranjang. Foto gadis berjilbab dengan senyuman lebar. Diusapnya pelan. Setetes air mata jatuh membasahi pigora tersebut. Dia begitu merindukan adiknya, Syakilla. "Kenapa kamu pergi secepat ini Syakilla. Kakak masih tak menyangka. Kakak begitu menyayangimu."
Dalam sudut hatinya dia tak percaya jika Syakilla sudah tiada. Adiknya tak akan mungkin meninggal secepat itu. Tetapi, bukti-bukti itu menguatkan bahwa Syakilla sudah tiada. "Syakilla, kakak harap kamu bahagia di sana. Kakak percaya kebahagiaan itu akan segera datang dan mungkin memang butuh waktu. Kakak akan mencoba untuk bersabar lagi. Kenapa kamu meninggal secepat ini? Kamu tahu melihat binar bahagia di wajah Fauzan membuat kakak tak tega melihatnya. Kakak juga bingung harus melakukan apalagi. Kakak ingin mengatakan semuanya. Namun, hal ini akan menghancurkan keluarga kita."
Ardian mengacak rambutnya kesal. Dia harus sabar. Setelah ini dia akan kembali membicarakannya dengan sang papa. Dia tak bisa membiarkan semua ini terjadi begitu lama. Kasihan Fauzan jika tahu kenyataannya yang selama di sampingnya itu tak lain adalah Kalila bukan Syakilla. Apalagi jika lelaki itu tahu jika Syakilla sudah tiada. Dia tahu begitu bucinnya Fauzan dengan Syakilla.