Kalila menatap penampilan barunya di cermin. Biasa memakai baju pendek dan tampilan yang terkesan urakan, kini ia memakai baju gamis dan jilbab yang panjang. Ia sudah seperti Syakilla. Tetapi, bagaimanapun ia tetaplah Kalila, bukan Syakilla.
Seperti hari biasanya, ia akan ke kampus. Tidak ada yang tahu kabar meninggalnya Syakilla. Bahkan, teman maupun tunangan Syakilla sekalipun. Keluarga merahasikan meninggalnya Syakilla, mereka masih berharap bahwa Syakilla masih hidup. Salah mereka juga yang tak mau melakukan otopsi. Mungkin jika ia pergi, pasti tidak ada yang mengharapkannya masih hidup lagi.
Kalila menatap ruang makan yang sepi. Orang tuanya tentu sudah berada di tempat kerjanya masing-masing. Ia tersenyum miris. Panggilan dari Bi Isti--pembantu rumah tangga yang memintanya untukan makan pun ia hiraukan.
Sesampainya di kampus, ia kebingungan mencari letak kelas Syakilla. Hanya sedikit cerita yang ia dapatkan, dengan segera ia merogoh ponsel milik Syakilla dan menghubungi Tiara--sahabat dekat Syakilla. Walaupun canggung ia akan tetap mengatakan sejujurnya.
"Assalamu'alaikum, Syakilla yang cantik," sapa Tiara di seberang sana.
Kalila memutar bola matas malas mendengar suara cempreng itu. "Wa'alaikumussalam."
"Hari ini 'kan libur, bagaimana kalau kita ke Mall?" ajakan dari Tiara membuat Kalila terdiam. Satu kata tetapi membuatnya tercengang.
"Libur?"
"Iya, Syakilla. Masa' lupa, sih. Kita libur, lho. 'Kan besok kuliah lagi. Hari ini dosen gak ada, jadi diganti besok deh."
Kalila memijat keningnya. Ia merasa pusing.
"Jangan bilang kalau lo ke kampus?"
Kalila hanya berdehem untuk menanggapinya.
"Ya udah lo ke rumah gue gih. Ke Mall gitu, gabut gue di rumah terus."
"O--ke." Kalila langsung saja mematikan sambungan telfon. Ia menghentakkan kaki penuh kesal. Apa tadi, ke rumah Tiara? Tetapi nyatanya ia tidak tahu rumah Tiara.
Dengan kesal ia berjalan menuju motornya, memutuskan pulang saja. Tetapi, sesampainya di rumah ia segera berganti baju dan berjalan menuju "Kedai Mawar" dimana tempat teman-temannya berkumpul.
*******
"Darimana kamu?" Suara dingin menyambutnya kala ia baru membuka pintu rumah. Kalila menatap sosok lelaki yang ia panggil kakak itu.
Kalila tak menggubrisnya, memilih menaiki tangga. Ia sangat lelah hari ini. Banyak pelanggaan yang datang. Lelah juga dengan kepura-puraan ini. Tak bisakah ia bebas menjalani hidup sesuai keinginannya?
"Sampai jam segini kamu baru pulang. Bagus, Kalila," sindir suara itu.
Kalila hanya diam di undakan tangga. Tak sedikitpun ia menoleh lagi.
"Kamu ini cewek, Kalila. Bahaya kalau cewek pulang malam-malam. Apa kegiatanmu selama tidak ada kakak, papa, mama, kamu selalu begini?" bentak Ardian tanpa berpikir bahwa perkataannya sungguh menyakiti perasaan Kalila.
"Kakak juga tahu kalau kamu menggantikan Syakilla di kampus, apa tujuanmu, Kalila?" tanya Ardian sambil berjalan mendekati Kalila.
Kalila memilih menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya. Tak peduli suara Ardian yang terus memanggilnya. Hanya kamar tempatnya yang paling nyaman. Ia menangis sesenggukan sambil menenggelamkan kepalanya di bantal. Tak tahukah mereka, apa yang ia lakukan setiap hari? Ia memang kuliah, tetapi untuk apa jika hanya Syakilla yang dipedulikan. Sedangkan, usaha yang ia capai siang malam demi mendapatkan juara 1 dalam perlombaan pun tak membuat mereka bangga padanya. Ia tidak gila pujian. Tetapi, bagaimanapun ia seorang anak, ingin dipuji dan dibanggakan oleh orang tuanya. Bukan hanya Syakilla, Syakilla terus.
Hingga ia rasa, semua yang ia lakukan itu tidaklah penting. Di mana mereka selalu mengatakan supaya pintar seperti Syakilla. Seakan-akan mereka meminta ia harus bisa seperti Syakilla. Padahal, nyatanya walaupun saudara kembar sekalipun. Ia tetaplah Kalila, bukan Syakilla. Tetapi, siapa yang mengerti perasaannya?
Hanya dengan bekerja ia dapat melupakan kepedihan yang ia rasakan. Ya, itulah salah satu cara yang bisa ia lakukan. Bekerja di kedai. Uang yang ia kumpulkan akan ia buat untuk berbisnis sekaligus sisanya ia berikan kepada yang membutuhkan.
Ia sempat berpikir untuk kabur dari rumah. Tetapi, nanti saat waktu yang tepat. Entah kapan itu, asalkan ia bahagia. Daripada bertahan di sini tetapi hanya luka yang ia dapat.
******
"Nak, kamu gak ingin pulang toh?"
Syakilla terdiam mendengar perkataan Bu Sarah.
"Ibu bukannya mau mengusir kamu. Gak papa kamu tinggal di sini terus. Tetapi, kamu punya keluarga. Mereka pasti mengkhawatirkanmu."
Syakilla yang sedang mencuci ikan gurame pun membalikkan badan menatap Bu Sarah. "Syakilla nyaman di sini, Bu."
"Nyaman atau ingin bersembunyi terus?"
"Bu .... "
"Syakilla, pulanglah, Nak. Kamu boleh datang ke sini lagi. Pintu rumah ibu buka kapanpun kamu datang," ujar Bu Sarah.
"Bu, mereka 'kan tahunya Syakilla udah meninggal. Ya udah .... "
"Jangan seperti ini, Nak. Ibu tidak suka dengernya. Mereka pasti bahagia jika melihatmu masih hidup. Apa kamu tidak rindu orang tuamu? Kakakmu? Teman-temanmu?"
Syakilla terdiam mencerna perkataan Bu Sarah. Ia rindu dengan mereka. Tetapi, orang tuanya mana mungkin sedih saat ia pergi. Mereka tidak ada waktu untuk menangisinya.
"Nak .... "
"Bu, biarkan Syakilla di sini dulu ya, Bu. Nanti Syakilla bakal balik di waktu yang tepat."
Bu Sarah menghela nafas. Mengelus bahu Syakilla dan tersenyum. Mungkin benar yang dikatakan Syakilla. Bahwa ia butuh waktu, dan akan kembali di waktu yang tepat. Perjalanan hidup yang pahit tentu membuat Syakilla tak mudah menerimanya. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Kesabaran, keikhlasan yang akan terlaksanakan.
******
"Tumben mama dan papa mengajak makan pagi bersama," celetuk Ardian sambil menatap orang tuanya.
Mama Helena tersenyum tipis, begitupula Papa Siswanto. "Ada hal yang ingin papa bicarakan dengan Kalila."
"Ada apa?" Ardian menautkan keningnya. Ia begitu penasaran akan apa yang ingin papa katakan kepada Kalila.
"Tunggu Kalila ke sini," ujar Papa Siswanto.
Di sisi lain, Kalila sedang memakai kaca mata untuk menutupi kedua matanya yang membengkak. Ia sudah rapi dengan pakaian milik Syakilla. Dengan langkah pelan ia berjalan menuju ruang makan. Ia tertegun mendapati orang tuanya ada di sana. Jika begini, rencananya akan semakin berantakan. Ia menghela nafas lelah, tetapi ia tetap melanjutkan langkahnya menuju orang tuanya dan Kak Ardian.
"Kalila," ujar Mama Helena terkejut. Papa Siswanto dan Kak Ardian tak terkejut akan penampilan Kalila.
Dalam hati Kalila sedikit senang saat mamanya mengenal dirinya sebagai Kalila, bukan Syakilla.
"Ada yang ingin papa bicarakan dengan Kalila."
Kalila menatap kedua mata Papa Siswanto. "Papa tahu, meninggalnya Syakilla begitu dirahasiakan. Beruntungnya beberapa orang tidak mengenalmu, hanya orang tertentu saja. Tetapi, kamu tetap tidak bisa menggantikan Syakilla."
Kata beruntungnya membuat Kalila tersadar. Bahwa, mereka memang tidak menginginkannya. Hatinya terluka.
"Tetap jalani hidupmu seperti biasanya," lanjut Papa Siswanto berkata.
"Lalu .... bagaimana dengan tunangan Syakilla?"
Mereka terdiam. Kemudian, Mama Helena menjawab, "Semua akan baik-baik saja. Cepat atau lambat Fauzan akan tahu."
"Biar aku yang akan memberitahukan kepada Fauzan bagaimana Syakilla," sahut Ardian.
"Lebih baik jangan dulu," ujar Papa Siswanto.
Kalila terdiam.
"Kamu .... lebih baik belajar, supaya bisa pintar seperti Syakilla," lanjut Papa Siswanto berkata sambil menatap Kalila.
"Tetapi, jika dihadapan Fauzan, tetaplah menjadi Syakilla," celetuk Papa Siswanto.
"Maksud Papa?" tanya Kalila dengan bingung.
"Mereka tahunya Syakilla sudah tiada, maka untuk beberapa bulan kamu yang akan menggantikan Syakilla."
"Pa, apa ini namanya tidak membohongi banyak orang? Bagaimanapun sikap Kalila dan Syakilla berbeda!" Ardian yang tak setuju pun mengutarakan pendapatnya.
"Kalila sudah muncul dihadapan teman Syakilla. Papa juga tak mau keluarga Fauzan tahu yang sebenarnya. Kamu tahu 'kan mereka membawa keberuntungan bagi perusahaan papa."
Ardian menghela nafas gusar. Mama Helena hanya diam mendengarkan penjelasan suaminya.
"Hanya beberapa bulan saja," ujar Papa Siswanto lagi.
Kalila memilih diam. Ia berdiri lalu pergi begitu saja. Tidak ada gunanya ia di sana terus. Mereka tetap sama. Panggilan dari mereka ia abaikan. Ia memutuskan berangkat ke kampus di mana Syakilla belajar dan ia memilih membolos di kampus tempatnya belajar.
Sesampainya di kampus, ia melihat Tiara dan Fauzan tertawa bersama. Fauzan, lelaki itu memang tampan. Tetapi, sayangnya lelaki itu sudah menjadi tunangan Syakilla.
"Eh, Sayang," panggil Fauzan lalu berjalan menuju Kalila.
"Kamu baru datang, naik apa?"
"Seperti biasanya," jawab Kalila dengan suara pelan.
Tiara berjalan menuju dirinya, merangkulnya dan menyenggol bahunya dengan pelan. "Kemarin gue tunggui lo gak dateng-dateng. Jahat dih, gue akhirnya ke Mall sendirian. Mau ke rumah lo, tetapi katanya satpam lo gak ada."
Kalila terdiam.
"Kamu tahu 'kan kebiasaan Syakilla, suka mager kalau diajak ke luar rumah," cetus Fauzan smabil terkekeh.
"Tetapi, gue salut lho, sama hubungan kalian ini. Dekat udah lama tanpa status, jarang ke luar bareng, eh tiba-tiba udah jadi tunangan saja. Gercep banget sih, Fauzan. Langsung tancap menuju tunangan." Tiara tersenyum lebar.
Kalila tersenyum tipis menanggapi. Ia jadi tahu bagaimana detailnya hubungan Syakilla dengan Fauzan. Terlebih tatapan cinta yang Fauzan berikan saat menatapnya yang dikira bahwa ialah Syakilla.
"Ya mending gini 'kan, Syakilla juga gak mau ya basa-basi dalam masalah percintaan," jawab Fauzan sambil terkekeh pelan.
Tiara mengangguk setuju. "Si pemalu ini memang penuh kejutan. Lo beruntung mendapatkan Syakilla, lo harus menjaganya dengan baik."
Fauzan mengangguk dan tersenyum. "Tanpa lo minta pun gue akan menjaga Syakilla dengan baik."
Cinta Fauzan begitu besar, tetapi Fauzan tidak tahu jika Syakilla sudah tiada.
"Bagaimana acara jelajahnya waktu tuh, Syakilla?" tanya Fauzan membuat Kalila tergeragap. Ia menelan ludahnya dengan kasar.
"Baik," jawabnya singkat.
Melihat ekspresi Kalila membuat Fauzan tak yakin, tetapi ia segera mengenyahkan pikiran buruknya yang terlintas. Selama empat minggu ia berada di luar kota, bahkan luar pulau. Rasa rindunya seketika hilang saat melihat Syakilla tampak baik-baik saja. Ia sempat khawatir karena bagaimanapun jelajah itu resikonya tinggi. Tetapi, ia tidak bisa melarangnya yang nanti berakhir pertengkaran. Karena, memang itulah hobi Syakilla. Apalagi Syakilla begitu sulit ia hubungi sebulan yang lalu. Hanya jawaban yang singkat diberikan untuknya. Wanita itu juga melarangnya datang ke rumah katanya sedang liburan di luar kota setelah acara jelajah.
Di sisi lain, Ardian yang baru saja menyelesaikan makannya pun menatap orang tuanya dengan tatapan datar. "Pa, Ma. Tindakan apa yang akan kalian lakukan?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Posisi perusahaan papa sekarang tidaklah baik, Ardian. Biarkan sampai saat ini keluarga Fauzan tidah tahu, terlebih Fauzan. Jangan sampai mereka tahu kenyataannya bahwa Syakilla sudah tiada."
"Apa papa yakin bahwa Syakilla sudah tiada?"
Mendengar perkataan Ardian, membuat Mama Helena membanting sendok. "Apa maksud kamu, Ardian?"
"Meninggalnya Syakilla tiba-tiba, seperti sudah direncanakan," ujar Ardian.
"Salah kita yang meminta untuk menolak diidentifikasi lebih lanjut, tetapi ya sudahlah. Kenyataannya Syakilla udah tiada, Ardian."
"Ikhlaskan Syakilla, adikmu itu sudah tenang di sana," ujar Papa Siswanto.
Ardian hanya mengangguk saja. Tetapi, melihat sikap Kalila kenapa ia merasa bahwa penyebab meninggalnya Syakilla karena Kalila. Selama sebulan ini ia memilih diam, menyadarkan diri bahwa Syakilla memang sudah tiada. Tetapi, nyatanya tetap saja ia merasa Syakilla masih hidup dan ini sepertinya sudah direncanakan.