STORY 46 - Berusaha Melupakan
[TIME TRAVEL STORY]
***
Tahun 2025 – Masa kini
REKOMENDASI LAGU – Let Me Down Slowly – Alec Bejamin
Status bukan lagi hal yang Ratu kejar sekarang, dia ingin berubah. Menjadi ibu serta istri yang lebih baik bagi keluarganya, meski tidak sempurna. Tapi setidaknya Ratu sudah berusaha. Muak hidup sendiri tanpa penopang, Ratu tidak bisa membiarkan rasa egois menguasainya lagi.
Meski harus menentang perintah keluarganya. Entah kenapa melihat wajah shock ketiga orang itu membuat dia senang, bahkan Ratu yang biasanya berada cukup lama di sana, kali ini meminta pulang lebih cepat.
Tidak peduli lagi dengan sindiran Davaron, entah siapa yang akan memimpin perusahaan Ragnala nantinya. Ratu tak akan berpikir untuk fokus ke sana,
Di masa depan dia mendapatkan semua itu, uang, kekayaan berlimpah, orang-orang yang bertekuk lutut tanpa bisa membantah, mengalahkan Davaron dengan pencapaian hingga sang ayah sendiri merasa bingung untuk memilih pewaris perusahaan. Sempurna bukan?
Jadi untuk apa Ratu mengejar itu lagi? Jika kemungkinan terburuk datang, Davaron menggunakan kekuasaan berupaya memecat Ratu. Wanita itu tidak akan marah,
Masih banyak pekerjaan yang bisa dia dapatkan. Dengan uang tabungan yang Ratu kumpulkan sejak masih remaja. Uang itu sudah cukup untuk membuka sebuah toko, lagipula berbekal ingatan di masa depan.
Ratu punya peluang lebih banyak mengetahui trend pasar yang akan viral ke depannya nanti. Tidak masalah bagi wanita itu.
Tersenyum tipis, mengendarai mobil dengan santai. Tanpa Ratu sadari dia bersenandung, seolah tak sabar untuk segera pulang bertemu dengan kedua putranya.
Terfokus ke depan, tanpa menyadari sesuatu mungkin saja terjadi malam itu. Dalam waktu beberapa menit saja, di depan sana.
Seseorang dalam kondisi mabuk, berjalan dengan terhuyung hendak menyebrang. Tak bisa menahan kantuk, sinar lampu sedikit membuatnya silau, sembari membawa satu botol minuman di tangan,
Mobil di depan Ratu tiba-tiba mengeluarkan decitan keras, nyaris oleng berusaha mengerem dengan mendadak. Ratu yang awalnya membayangkan wajah Ravin dan Asta langsung tersentak kaget,
Suara decitan ban mobil dengan aspal terdengar menggema, reflek menginjak rem. Tak bisa terelakan, mobil di depan wanita itu akhirnya oleng ke samping, menabrak pagar besi jalan, sementara orang mabuk tadi sudah lebih dulu menghantam badan mobil,
Terlempar tak jauh dari posisi awalnya. Saat mobil Ratu terhenti, dia melihat jelas di depan sana. Jejak darah di aspal dan tubuh yang tergeletak, mobil berpalu dengan pagar besi mengeluarkan asap panas.
Orang-orang di dekat sana perlahan mulai ramai memenuhi jalan raya. Sementara Ratu masih terdiam, amber wanita itu melihat tubuh tergeletak di sana.
Jejak darah yang begitu banyak, suara teriakan kecil. Ramai orang berkerumun, satu hal melintas dalam pikiran wanita itu.
Ingatan tentang mobil yang melaju dengan kencang menabrak tubuh mungil Ravin hingga terpental jauh, darah mengalir deras dalam pelukan Ratu. Tanpa ada kesempatan untuk menangkap orang itu,
Ratu masih mengingat sensasi itu, memeluk tubuh Ravin dalam lebatnya hujan, hingga perlahan hangat jemari Ravin berubah menjadi sedingin es. Bibir tipis membiru, tak ada yang bisa menolong mereka.
Ratu terlambat, trauma besar wanita itu hingga sekarang. Kecelakaan tadi mengingatkannya lagi, gemetar dengan napas terengah, meneguk ludah berulang kali.
Jemari Ratu mengalami tremor, mendadak wanita itu lupa cara menghidupkan kembali mobilnya yang mati, hingga suara klakson di belakang sana berusaha memberitahunya untuk kembali melaju. Tapi dia tidak bisa.
Ratu nyaris melupakan, hal penting yang harus Ia lakukan, waktunya tidak banyak, usia Asta dan Ravin tahun ini baru saja empat jalan ke lima tahun. Itu berarti dia punya waktu sekitar lima tahun lagi untuk mencari tahu,
Sebenarnya kecelakaan malam itu, kenapa Ratu merasa ada yang aneh? Mobil tiba-tiba muncul di jalanan yang sepi, melaju sangat cepat seolah sudah menargetkan Ravin sebelumnya.
Jika Ratu salah mengambil tindakan, bisa saja dia gagal mencegah hal itu terjadi. Kalau Ratu gagal, itu berarti usahanya untuk kembali sia-sia saja,
Degup jantung wanita itu berdetak kencang, tremor tangannya, kerumunan di depan sana dan klakson yang terus berbunyi.
Hingga seseorang mengetuk kaca mobil sang Edrea, mengagetkan wanita itu seketika. Manik ambernya teralih,
Sosok yang familiar terlihat di luar sana, nyaris membuat Ratu berteriak namun dia berhasil menahan.
Lelaki bertubuh tegap dan besar saat melihat wajah Ratu tersenyum tipis. Tapi sayang bagi Ratu, lelaki itu sudah cukup membuat degup jantungnya semakin terasa cepat.
Abhimanu Danantya, suami Hanum.
Kenapa takdir justru mempertemukan dia dengan lelaki itu?
***
Tidak ingin terlihat mencurigakan, terpaksa Ratu langsung menurunkan kaca mobilnya, setelah meminggirkan mobil dan berhasil mengendalikan ekspresi.
Kali ini dia bertemu dengan seseorang yang tidak Ratu kira. Hanum nampak keluar dari mobil sembari menggendong Vanessa dalam pelukan, wanita itu tersenyum lembut.
“Ratu, kita bertemu di sini,” ucap Hanum pelan, menghampiri sang Edrea.
Sementara Ratu masih terdiam sesaat, mengendalikan dirinya. Melihat sosok wanita yang memiliki nasib sama seperti Ravindra. Tungku pembakaran mayat yang membakar tubuh Hanum dan Vanessa nyaris membuat perut Ratu mual, perasaan tidak enak kembali datang.
Ditambah lagi dengan kehadiran Abhimanu yang masih berdiri di dekat mereka, sosok itu tersenyum tipis. “Anda darimana malam-malam seperti ini, Nona Ratu?” tanya sang Danantya berbasa-basi.
Tersenyum tipis, “Ah, tadi ada sedikit pertemuan keluarga dan baru saja selesai,” jawabnya singkat. Melirik ke arah Hanum, “Kalian sendiri sedang apa keluar malam-malam? Vanessa sepertinya kelelahan,” Sengaja menyinggung Vanessa, bisa Ratu lihat bagaimana ekspresi Hanum sesaat berubah panik namun dengan cepat ditutupi.
Abhimanu yang menjawab pertanyaannya, dengan tenang dan yakin, “Kita juga kebetulan baru datang dari rumah orangtua Hanum, Vanessa sepertinya terlalu bersemangat sampai kelelahan, lagipula ini juga sudah jam tidurnya.”
Bodoh jika selama ini Ratu dibohongi oleh figure Abhimanu yang nampak ramah dan dewasa di depan dia dan teman-temannya. Berakting penuh wibawa, memberikan barang-barang mewah pada Hanum, agar semua orang tahu seperti apa perlakuan yang dia berikan pada sang istri.
Padahal di dalam, Ratu baru tahu seberapa kejam sikap Abhimanu. Banyak hal mengganjal terkait keputusan Hanum bunuh diri dan mengajak sang putri untuk ikut mati bersamanya.
Ratu tahu seberapa wanita itu menyayangi Vanessa, hingga menahan banyak luka demi mempertahankan sang putri. Bahkan di saat terakhirnya pun, Hanum tetap mementingkan keselamatan Vanessa, hingga rela datang ke rumahnya dan berniat menitipkan gadis kecil itu.
Tapi apa yang Ratu lakukan? Dia justru bersikap abai dan memilih tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatnya.
Sosok yang selama ini menerima Ratu dengan sabar, menghadapi sikapnya tanpa ada niat untuk menjilat kekayaan dan status Ratu. Hanya Hanum yang selalu ada di sampingnya, di saat semua teman-teman lain sibuk dengan kekayaan yang mereka miliki.
Apa Tuhan juga mengirimkan Ratu kembali untuk menghentikan kematian Hanum? Memperbaiki kesalahannya dan mencoba menolong wanita itu?
Tapi bagaimana caranya? Ratu tidak bisa begitu saja menuduh bahwa Abhimanu sudah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga pada Hanum. Kecuali wanita itu sendiri yang memberi bukti.
Berapa lama Hanum menyembunyikan semua itu? Menahan rasa sakit tanpa ada siapapun yang mendukungnya.
Membayangkan saja sudah sanggup membuat amarah Ratu kembali naik. Berjalan mendekati Hanum, wanita itu tersentak kaget,
Melihat bagaimana Ratu bergerak membuka jaket tebal miliknya, Ia menyentuh pipi Hanum sekilas. “Ra-Ratu?”
Kaget tentu saja, melihat senyuman di wajah Ratu merupakan hal yang langka. “Wajahmu dan Vanessa sampai dingin seperti ini, keluar tanpa menggunakan jaket tebal. Bagaimana kalau mereka sakit, Tuan Abhimanu?”
Tersenyum sopan, sekilas Ratu bisa melihat raut wajah lelaki itu nampak berubah. “Ah, ya. Tadi kami sedikit tergesa jadi Hanum lupa membawa jaketnya, dia memang ceroboh. Benarkan, sayang?” Menekan kalimat terakhirnya.
Hanum nampak tersentak, “A-ah, Iya. A-aku yang lupa membawa jaket untuk Vanessa juga,”
Sudah Ratu duga, dari ekspresi wanita itu. Sepertinya perlakuan kasar Abhimanu sudah berjalan hampir bertahun-tahun lamanya.
Bergerak dan langsung menyampirkan jaket tebal miliknya. “Jika Tuan sendiri menggunakan jaket tebal akan lebih romantis rasanya jika anda yang memberikan jaket itu untuk Hanum.”
Ekspresi Abhimanu kembali mengeras, sementara Hanum tersentak. Sedikit gugup karena perlakuan Ratu tiba-tiba berubah. Wanita itu rasanya tidak pernah mau repot-repot berbicara lama dengannya atau Abhimanu. Ratu cenderung sering mengambil jalan pintas agar mereka tidak berlama-lama saling bicara.
Bersikap abai dan seolah tidak peduli. Tapi sekarang, jaket tebal milik Ratu berpindah padanya? Hangat menyelimuti, bahkan Vanessa pun semakin terlelap.
“Kau sendiri tidak menggunakan jaket, Ratu. Lagipula aku sudah menggunakan pakaian lengan panjang, tak usah khawatir,” Berniat menolak kebaikan wanita itu.
Ratu menggeleng tipis, dengan senyuman penuh arti. “Kau bisa mengembalikannya nanti. Kapan-kapan mainlah ke rumahku, Vanessa pasti akan senang bisa berteman dengan Ravin dan Asta,”
Bermain ke rumah Ratu? Manik Hanum seketika berbinar, “Benar aku boleh mengajak Vanessa ke rumahmu?” tanya wanita itu memastikan.
“Tentu saja,” Di waktu sekarang Hanum memang tidak begitu sering main ke rumahnya. Berbeda lagi dengan dua tahun mendatang, jadi Ratu berupaya mempercepat semua prosesnya.
Dia harus mencari tahu sendiri, tanpa membuat Abhimanu curiga. “Apa kau perlu izin dengan suamimu untuk pergi mengajak Vanessa?” Seketika melirik ke arah Abhimanu.
Sosok itu masih tersenyum, “Tidak masalah, Vanessa pasti senang jika dia punya teman baru.” jawabnya singkat. “Tapi saya takut merepotkan anda, Nona Ratu. Di rumah anda hanya ada satu penjaga saja ‘kan, pasti repot jika menjaga tiga orang anak.”
Tubuh Ratu menegang sesaat, berusaha memainkan ekspresinya. Bersikap tenang, “Tidak masalah, Tuan. Lagipula Hanum bisa sekalian bermain ke rumah saya, kita jarang sekali saling berbincang. Benarkan?” Menatap Hanum,
Wanita itu mengangguk pelan, “Ba-baiklah, sabtu-minggu nanti aku akan ke sana jika memungkinkan.” ucapnya tipis.
Abhimanu menatap jam tangannya, “Sepertinya sudah terlalu larut, kalau begitu kita pamit permisi dulu, Nona Ratu. Ayo,”
Hanum tersentak, raut wajah wanita itu seolah tidak rela berpisah dengan Ratu. Memeluk Vanessa erat, “I-iya, aku pergi dulu, Ratu. Terimakasih jaketnya,” Senyum yang hangat bercampur dengan rasa takut, Ratu bisa melihat semuanya.
Kedua tangan wanita itu terkepal kuat, betapa inginnya dia menarik tangan Hanum dan menjauhkan sahabatnya dari Abhimanu. Tapi tidak sekarang, waktunya untuk menyelamatkan Hanum hanya tersisa dua tahun saja.
Sebelum itu terjadi Ratu harus mengumpulkan bukti tindakan Abhimanu selama ini.
‘Setidaknya aku ingin menebus kesalahanku, Hanum.’
Menepis semua kebaikan Hanum selama ini dan bersikap egois. Ratu masih mengingat bagaimana pandangan terakhir Hanum padanya, mengucap permintaan tolong berulang kali, namun Ratu justru mengabaikan.
Kali ini Ratu tidak ingin menutup mata lagi. Jika dia bisa mencegah hal itu terjadi, Ratu akan berusaha.
‘Tapi kenapa rasanya laki-laki itu familiar sekali,’
Walau hanya bertemu Abhimanu selama beberapa kali. Ratu merasa ada yang aneh dengan lelaki itu, ditambah lagi,
‘Rasanya aku tidak pernah memberitahu Hanum tentang mempekerjakan Rheandra di rumah, jadi darimana Abhimanu tahu?’ batin Ratu tak tenang.
“Ada yang harus kuberitahu padamu, Ratu. Tentang babysitter yang kau pekerjakan itu,”
Ucapan Hanum yang selama ini Ratu abaikan entah kenapa mulai menunjukkan benang merah. Semua saling terhubung tanpa Ia sadari.