Haskara duduk di balkon kamar dengan sebungkus rokok. Matanya menatap lurus ke langit yang gelap tanpa ada bintang yang menghiasi. Asap menggepul ke udara saat Haskara menghembuskan nya. Entah batang rokok yang ke berapa yang sudah ia habiskan. Apa yang dikatakannya pada Gladis tentang mimpi itu benar terjadi. Ia masih ingat jelas kata-kata yang dilontarkan orang tuanya. Tapi bukan itu masalahnya saat ini. Ini mengenai ucapan Gladis yang mengatakan untuk bangkit. Bisakah? Satu kata itu terus terngiang di kepalanya. Setelah beberapa tahun ia menjalani semua ini, bisakah ia bangkit. Mengingat kasus kecelakaan kedua orang tua serta adiknya ditutup. Waktu itu Haskara tidak mengerti kenapa, dan ia juga ingat ada kata-kata pencobaan pembunuhan. Tapi sekarang ia mengerti, bagaimana ia menc

