Mama sudah ditangani dokter. Hari sudah mulai gelap. Namun belum ada kabar dari teman-temanku. Kini aku dan Tante Irma duduk di ruang tunggu. "Sayang, Tante ga tau gimana harus membalas kebaikan kalian. Tante benar-benar berterima kasih atas bantuan kamu dan teman-temanmu itu, Nak." "Tante, itu sudah kewajiban Alina sebagai anak. Tante jangan berpikir yang tidak-tidak, tak ada balas budi, kita ini keluarga." Tante Irma langsung memelukku sambil menangis haru. "Sungguh merugi Gunawan menyia-nyiakan kamu, Sayang. Kamu itu wanita berhati mulia." Aku tersenyum tipis. Tapi, kisah hidupku tak semanis Cinderella, yang akhirnya bertemu pangeran tampan. Aku hanya wanita yang dipunggut lalu dicampakkan. Mungkinkah karena aku mandul seperti yang Raisa katakan, Mas Gunawan lebih memilih mempertah

