Hatiku berdegup ketakutan. Jangan sampai aku babak belur lagi pulang dari sini. "Tenang bro, tenang! Gw hanya mau ketemu Alina karena anak gw dia bawa. Gw mau menanyakan anak gw doang." aku berusaha menenangkan anak buah Alina ini. "Gua nggak percaya dengan tampang seperti lu!" Lelaki itu masih dengan posisi siap menyerang. "Sumpah! Gw ga akan menyakiti Alina." Aku memelas, berusaha membuat dia percaya. "Apa jaminannya lu, ga gak akan membuat kekacauan?" "Nyawa gw. Lu boleh menghajar gw kalau gw berbuat onar." Wajah laki-laki itu mulai mengendur. Sepertinya dia mulai mempercayai rayuan dan sumpah palsuku. Meski aku tidak berniat untuk menyakiti Alina. Tapi aku punya keinginan untuk merebut hatinya kembali, baik secara halus maupun dengan cara kasar. "Gw pegang omongan lu, ya. Jika s

