Karena kejadian seperti itu, rencana pernikahan dimajukan. Bahkan tanpa menunggu Mamanya Lea yang masih di luar negeri, yang sedang ikut Papanya mengurus bisnis mereka. "Tunggu Mama aja dulu, Bay." Ubay menatapku, lekat. "Mas, maksudnya." aku meralat sambil menyunggingkan senyum tanda perdamaian. "Jangan! aku khawatir akan keselamatan kamu." "Iya, Al. Nurut aja kan enak, bentar lagi kawin!" cetus Lea. Aku mencubit pinggang Lea. Sahabatku itu kabur menghindar. Akhirnya lewat sambungan telepon, kedua orangtua Ubay mengijinkan. Walau terdengar agak keberatan. Mungkin karena terkesan buru-buru. Tapi, Ubay bersikeras agar tetap menikah dalam waktu lima hari ini. Malam ini setelah pulang dari rumah Lea aku merebahkan diri di ranjang. Rasanya seperti mimpi. Dalam waktu dekat aku mengalam

