Dua Tahun Saja Sudah Cukup

1136 Kata
Grup rempong heboh dengan cerita dari Lea, walau Lea hanya seakan melempar berita dan akulah yang menjawab semua pertanyaan dari teman-teman yang penasaran dengan apa yang terjadi. [Udahlah, Lin. Buat apa lagi bertahan. Udah mand*l, tukang selingkuh lagi. mending bawa sini, biar aku kiloin di Mang Didin.] Ketik Dea. [Ish, kamu jangan sadis gitu. Kalau dikiloin paling cuma buat makanan kucing, sini aku bawa ke penangkaran buaya, biar buaya ngerasain makan daging sesamanya.] balas Anggi. Aku terkekeh. "Kamu sih, Lea, segala dilempar ke grup." sungutku. "Ya, nggak apa-apa, biar tuh grup rame, nggak anyep kayak hidup gw." sahutnya. "Yang bikin anyep kan kamu sendiri. Punya suami, bukannya diintilin kemana pergi, malah dibiarkan sendirian di luar kota." "Ah, yang namanya nasib walau kita ikutin ke mana pergi, kalau emang sudah dasar buaya tetap aja kita kena apesnya."seloroh Lea. "Iya, sih kayak aku." "Eh, sorry, gw ga nyindir elu lho." "Gapapa, tak perlu merasa bersalah gitu. Kenyataan memang begitu. Dua tahun aku menjadi istri yang selalu nurut pada suami. Apa yang dia pinta aku berikan, bahkan saat dia meminta aku fokus dirumah, ga boleh bekerja, aku pun taat. Tapi, akhirnya ya beginilah." Lea, mengusap punggungku. "Sabar, gw juga kayak elu kok. Yang penting tetap waras. Walau akhirnya gw harus ngerasain kawin cerai sebanyak dua kali." Lea tertawa kecil. Sejak pulang dari rumah sakit aku memutuskan untuk tinggal di rumah Lea, sementara. Sampai aku mendapatkan kontrakan untuk aku tempati. Hari sudah menunjukkan angka 8 malam, menunggu Lea mandi. Aku turun ke bawah. Rasa haus juga tiba-tiba saja datang. Sebenarnya aku kepikiran dengan Mama. Bagaimana keadaan Mama sekarang? Mau bertanya pada Mas Gunawan, aku tak sudi. Rumah yang luas ini sepi, Ubay juga tak tampak, mungkin dia ada dikamarnya. Aku melangkah menuju dapur, saat melewati kamar Ubay terdengar lantunan suara merdu bacaan Al Qur'an. Aku terdiam, mendengarkan suara dibalik pintu tanpa berniat mengganggunya. Pinter juga dia mengaji, tampangnya yang kadang urakan. Hanya rapi kalau mau salat aja, dan punya adik seperti Lea, agak tak sinkron dengan amalannya. Suara itu berhenti, aku gegas melangkah ke dapur, mengambil gelas lalu mengisinya sampai penuh. Jangan sampai Ubay mengetahui aku menguping dari luar. Pintu kamar Ubay terdengar dibuka. Ubay keluar dengan masih mengenakan setelan koko berwarna putih juga peci yang melengkapi penampilan religiusnya. "Eh, kamu belum tidur?" "Belum. Baru juga jam delapan, masih sore." Aku duduk dengan gelas yang sudah kosong ada ditangan. Ubay pun duduk tak jauh dariku. Lama kami sama-sama diam. "Dulu, aku juga punya istri. Kesalahpahaman dan kurangnya komunikasi membuat kami terpisah. Yah, kadang masalah sepele kalau tidak dibicarakan dengan baik-baik bisa menjadi pemicu munculnya masalah yang besar." Entah angin apa, lelaki itu bicara seperti itu. "Seharusnya nasehat itu kamu sampaikan pada Mas Gunawan, bukan padaku. Selama ini aku selalu jujur padanya. Terbuka apa adanya. Justru dia yang menutupi masalah dariku." Jawabku membela diri. Mungkin karena merasa sesama kaumnya Ubay seperti lebih memihak pada Mas Gunawan. "Lalu apa rencana kamu setelah ini, jangan sampai seperti Lea. Anak itu, melakukan apa saja sekehendak hati. Hingga aku yang harus menjaganya kemari." "Entahlah, Bay. Aku masih kepikiran dengan Mama walau sebentar lagi akan menjadi mantan mertua. Mungkin karena masalah ini, Mama jadi drop dan jatuh sakit." "Kamu mau tau keadaan Mama mertua kamu? Padahal anaknya sudah menyakiti perasaanmu? Wah hebat! Salut aku." "Biasa aja. Sudah semestinya kita obyektif, siapa yang salah dia yang kita hukum. Bukan orang lain, walau sebenarnya Mama tetap ada andil dalam kebohongan ini." Ubay menatapku, lalu tersenyum sambil bangkit dari tempat duduknya. "Tidurlah, besok aku akan mencari tau kabar Mama mertua kamu." "Caranya?" "Kamu ga usah tau caranya, cukup pikirkan apa yang nanti kamu katakan jika bertemu dengannya." "Baiklah, Makasih, ya." Lirihku, lelaki itu mengangguk sebelum berlalu kembali ke kamarnya. Keesokan harinya, Ubay menepati janji. Lelaki itu ternyata punya teman perawat yang bekerja di rumah sakit tempat Mama dirawat. Dari dia aku tahu, Mama mengalami serangan jantung. Memang Mama punya penyakit, tapi aku tak tau jika organ Mama yang satu itu bermasalah. "Beruntung Mama kamu cepat ditangani, jadi kondisinya tak begitu parah." "Iya, Alhamdulillah ..." Hatiku sedikit tenang. Walau masalah intinya belumlah selesai. Mas Gunawan seakan enggan menyelesaikan masalah ini. Sudah hampir seminggu. Tapi, dia sama sekali tak menghubungiku. Aku pun ogah mau mulai, justru aku sekarang sibuk mencari tempat untuk memulai usaha. Aku harus mandiri. Keahlianku dalam memasak bisa dijadikan ladang untuk mencari uang. "Kamu mau kemana? rapi amat?" "Biasanya juga rapi." sahutku sambil merapikan kemeja yang kukenakan. "Ga, kalau sekarang ada aura yang lebih serius terpancar." Ujar Lea sok tahu. "Hari ini aku mau mengajukan gugatan ceraiku ke pengadilan." Lea yang sedang makan roti, menghentikan gerakannya. "Lu serius?"tanyanya. Aku mengangguk cepat. "Aku mau mencari kebahagiaanku sendiri. Aku ikhlas dia dengan perempuan itu. Mungkin perempuan yang menutup aurat seperti dia yang Mas Gunawan idamkan. Kamu lihat sendiri kan, gimana aku?" "Kalau suami kamu ingin wanita seperti itu, kenapa kamu ga berubah seperti itu juga. Selama ga mengubah bentuk ciptaan yang telah ada, ga masalah kan." Celetuk Ubay tanpa menoleh, pria itu masih fokus dengan ponsel ditangannya. "Hello! berubah hanya untuk lelaki pengkhianat? dih, ogah amat! Jangan dengerin, Lin. Lo berhak memamerkan apa yang Tuhan anugerah pada Lo. Sayang dong rambut hitam lurus Lo, hanya di umpetin." "Astaghfirullah ... Lea, kalau Lo ga mau mendengarkan nasehat kebaikan, setidaknya Lo ga berperan sebagai iblis yang mengajak pada keburukan. Menutup aurat wajib bagi perempuan, baik yang cantik maupun yang punya kekurangan." "Jangan sampai Lo yang menarik Bapak dan saudara laki-laki Lo ke neraka." Lanjut Ubay, aku terdiam menyimak ucapan lelaki itu. Apa Iya seperti itu? "Heleh, udah kayak Ustadz aja Lo?" "Setidaknya gw tau dan berusaha memberi tahu orang lain, apalagi saudara sendiri. Didengar atau enggak udah urusannya sama yang di atas." "Seharusnya Lo, ceramahi Aina dulu, sebelum Lo ceraikan." "Lain urusan! Ga usah bawa-bawa Aina." Wajah Ubay berubah marah. "Woles, Bang. Selow!" bujuk Lea sambil memamerkan senyum manis yang dibuat-buatnya. Tok tok tok! Suara ketukan menghentikan perdebatan itu. Aku bergegas berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka, aku terpaku. "Alina..." "Tante Irma?" "Ya Allah Alina, kamu gapapa?" Tante Irma yang merupakan adik kandung Mama itu meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Perlakuannya sama seperti Mama, aku dapat merasakan kasih sayang itu tulus untukku. "Gapapa, Tante. Alina sehat. Gimana dengan Tante? Tante bisa tahu Alina di sini dari siapa?" "Tante baik Sayang, Tante dapat alamat dari Gunawan." Sudah kuduga laki-laki itu yang memberikan informasi pada Tante Irma. "Lin, Mama kamu ingin bertemu. Dia rindu kamu, Nak." Aku membuang napas kasar. "Alina, belum bisa Tante." "Lin, Mama kamu ingin menjelaskan semuanya. Datanglah kerumah. Biar semua selesai." "Buat apa lagi Tante? Alina sudah tak dianggap istri lagi oleh Mas Gunawan." "Tolonglah, Lin. Kata dokter Kak Tety ga boleh banyak pikir. Tapi, dari kemarin dia selalu menangis ingat kamu, ikut Tante ya, Lin." Aku menoleh ke arah Lea dan Ubay yang sudah berdiri tak jauh dibelakangku. "....."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN