22. Pilihan Yang Sulit

1316 Kata

Keduanya masih saling bernegosiasi. Max tersenyum, berdiri dengan sedikit sempoyongan. Sebenarnya ia merasa sangat pusing namun melihat penampilan Isabella yang benar-benar menggiurkan. Dasternya yang tipis membuatnya ingin menyentuhnya. Tapi Isabella selalu ketakutan setiap bersamanya. Karena tak sabar menunggu, ia berjalan menghampiri Isabella dan menggendongnya cepat. Isabella tentu saja menjerit dan hampir akan berteriak tapi ia menyuruhnya diam. “Jangan memalukan, Bel. Kita suami istri, apa kata orang sama suami sendiri seperti melihat setan,” gerutu Max. “Tolong lepaskan aku, turunkan aku sekarang juga! Tolong lah!” Isabella menangis, wajahnya pucat dan Max yang tak bisa menahan gairahnya hanya diam dan membaringkan tubuh Isabella ke atas tempat tidur dengan lembut dan pelan. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN