2. Foto-foto Intim

871 Kata
Max melangkah keluar dari kamar tidur dengan rahang mengeras. Ia mengenakan pakaian tidurnya dengan gerakan kasar, pikirannya sudah sepenuhnya terfokus pada krisis di kantor. Ketegangan ini membuatnya merasa harus segera datang dan memeriksa yang terjadi. Ia harus menyelesaikannya dengan cepat. Wanita yang bersamanya semalam masih terbaring di ranjang, matanya terbuka, bangun dan menatapnya dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan ketakutan. Max mengabaikannya begitu saja, berjalan menuju ruang kerjanya yang terletak di sudut penthouse. Di sana, layar komputernya sudah menyala, menampilkan beberapa laporan keuangan dan analisis pasar. Namun, pikirannya jauh dari angka-angka itu. Yang ia inginkan adalah membuka email yang sedang dibuat gempar pagi ini. Ia ingin tahu seperti apa isi email itu dan kenapa sampaim sekretarisnya ketakutan dan panik. Ia membuka emailnya dengan tangan gemetar. Dan boomm … Benar saja, di kotak masuknya sudah puluhan email dari berbagai karyawan dengan subjek yang sama, "Informasi Penting." ‘Sialan!’ batinnya. Email-email itu dipenuhi kotak masuk yang cukup mengejutkannya. Dengan enggan, Max membuka salah satu email. Teksnya singkat namun menusuk, disertai beberapa foto dirinya dalam berbagai situasi intim dengan wanita yang berbeda-beda. Ia malu? Tentu, tapi setidaknya ia memiliki tubuh yang kekar dan penuh pesona saat melihat foto-foto itu. Ia masih memandanginya, beberapa foto tampak diambil di ruang kerjanya sendiri, yang lain di kamar hotel mewah, bahkan ada satu foto yang diambil di sebuah acara kantor. Detail-detail "pribadi" yang disebutkan Viona ternyata adalah percakapan singkat setelah berhubungan badan, serta diselingi komentar-komentar kasual yang kini terasa begitu memalukan dan memberatkannya. Amarahnya kembali mendidih. Ia merasa seperti binatang yang sedang diincar, setiap gerakannya direkam dan kini diumbar untuk konsumsi publik kantor. Ada yang berusaha menjatuhkannya, entah rasa iri, dendam atau apapun itu yang telah membuat ini jadi viral dalam sekejap. Rasa malu dan marah bercampur aduk, menciptakan gejolak emosi yang menyesakkan. Dadanya sesak naik turun dan tangannya mengepal. Ia harus menemukan dalang dibalik kasus ini. Tiba-tiba, matanya tertuju pada noda samar di kerah kemeja yang semalam ia kenakan saat makan malam dengan investor. Noda berwarna merah menyala itu jelas bekas lipstik. Ia ingat samar-samar, nama wanita yang bersamanya. Sonya … atau Venna ... atau siapapun dia … menyandarkan kepalanya di bahunya saat mereka berdansa diiringi alunan musik jazz yang lembut. Apa wanita itu yang melakukannya? Apa mungkin ini sebuah balas dendam? Atau hanya kebetulan saja? Jika kebetulan kenapa hampir semua karyawan mendapatkan email ini? Max merasa lelah jika harus berpikir keras untuk ini semua. Ia geram tapi mencoba untuk tetap tenang. Max berdiri dan meraih ponselnya, lalu menghubungi Viona. "Vio, segera cari tahu semua tentang wanita yang bersamaku semalam. Siapa namanya, di mana dia tinggal, apa pekerjaannya. Cari tahu segalanya!" perintah Max dengan nada tegas yang tak terbantahkan. "Baik, Tuan. Akan segera saya lakukan," jawab Viona dengan cepat. Sambil menunggu informasi dari sekretarinya, Max memutuskan untuk pergi ke kantor. Ia harus menunjukkan kehadirannya, mengendalikan situasi sebelum rumor liar semakin merajalela. Ia mengenakan setelan jas mahalnya dengan tergesa-gesa. Aura kekuasaan yang biasanya terpancar darinya kini bercampur dengan ketegangan yang kentara. Ia harus menghadapinya secara gentleman. Di dalam lift pribadi yang membawanya turun, Max mencoba menenangkan diri. Ia adalah seorang CEO yang sukses, terbiasa menghadapi tekanan dan krisis. Namun, kali ini terasa berbeda. Serangan ini bukan hanya menyasar bisnisnya, tetapi juga kehormatannya sebagai seorang pria. Setibanya di lobi kantor, suasana terasa aneh. Beberapa karyawan yang biasanya menyambutnya dengan senyum hormat kini hanya menunduk atau mengalihkan pandangan. Mereka bukannya hormat padanya tapi menunduk karena melihat dan mengetahui rahasia yang dimilikinya. Rahangnya berbunyi gemeretak, merasakan hawa panas dalam dirinya karena emosi tertahan agar tidak menimbulkan kekacauan dan kegaduhan disini. Bisik-bisik samar terdengar saat ia melangkah menuju ruangannya. Max bisa merasakan tatapan mata mereka mengikutinya, penuh rasa ingin tahu dan mungkin juga penghakiman atas apa yang telah mereka ketahui. Ia dihakimi seolah ditelanjangi atas apa yang terjadi dan diketahui mereka tentang dirinya. Di ruangannya, sekretarisnya sudah menunggunya dengan wajah cemas. "Tu-Tuan, situasinya semakin buruk. Beberapa media online sudah mulai memberitakan tentang foto-foto itu. Mereka menggunakan foto-foto yang ada di dalamnya menjadi berita utama," lapor Viona dengan nada khawatir. “Oh, Tuhan!” gumam Max dengan lirih. Max menghela napas berat. Ini lebih buruk dari yang ia bayangkan. Skandal ini bisa merusak reputasi perusahaannya di mata investor, klien, dan publik. Ia harus bertindak cepat dan tegas. “Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tuan harus bertindak cepat!” "Ok, kumpulkan semua kepala departemen di ruang rapat utama dalam lima belas menit," perintah Max. "Kita akan menghadapi ini bersama-sama." Viona mengangguk, ia berdiri dari tempatnya duduk dan melangkah keluar ruangan atasannya. Saat keluar untuk menyampaikan perintah sang atasan, Max berjalan menuju jendela besar di ruangannya, menatap hiruk pikuk kota di bawah sana. Dulu, pemandangan ini selalu memberinya rasa bangga dan pencapaian. Kini, semuanya terasa suram dan mengancam. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal: "Hei, Max! Permainan baru saja dimulai." Max tercenung, ia mengepalkan tangannya. Ia tahu, ini bukan hanya tentang perselingkuhan dan foto-foto memalukan. Ada seseorang yang sengaja ingin menghancurkannya. Ia bersumpah, akan mencari tahu siapa orang itu dan membuat mereka membayar mahal. Dendam mulai membara di dalam hatinya, sekuat hasrat yang selama ini mengendalikannya. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia melangkah dengan cepat disusul Viona yang tengah menatapnya dengan rasa khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN