“Baguslah, setidaknya kamu tidak mati karena keracunan, bukan?” sindir Jiola dengan sengaja menyinggung kejadian sebelumnya yang dirinya dikira akan meracuni Arga dengan sebuah garam di dalam makanannya sehingga terjadilah ketegangan di antara mereka, tapi sekarang tampaknya itu sudah berakhir. Mendengar itu, pipi-pipi Arga jadi memerah, dia tampak malu saat Jiola menyinggung kejadian itu, dia jadi merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada wanita itu padahal sebenarnya Jiola bukan orang yang jahat. Sementara Jiola terkekeh-kekeh menyaksikan raut muka Arga yang begitu menggemaskan saat mengingat kesalahannya sendiri. “Sekarang, karena aku sudah menemanimu makan, aku akan pergi.” Ucap Jiola dengan menghela napasnya sembari mengangkat badannya untukk berdiri dari posisi duduknya

